Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
surat utang negara
ilustrasi surat utang negara (unsplash.com/Tech Daily)

Intinya sih...

  • Minat investor pada lelang SUN menurun 17,6% menjadi Rp63,06 triliun karena sentimen global dan perubahan outlook kredit Indonesia.

  • Investor lebih selektif karena ketidakpastian global, rupiah terdepresiasi, dan yield SRBI yang lebih menarik.

  • Keterlibatan investor asing menurun karena hari libur di pasar regional dan ekspektasi penurunan suku bunga global yang terbatas.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Minat investor pada lelang Surat Utang Negara (SUN) yang digelar Rabu (18/2) tercatat menurun. Total penawaran masuk (incoming bids) menyusut 17,6 persen menjadi Rp63,06 triliun. Sejumlah ekonom menilai pelemahan tersebut dipengaruhi sentimen global yang masih menantang serta perubahan outlook kredit Indonesia yang mempengaruhi persepsi risiko investor.

Analis Batavia Prosperindo Aset Manajemen, Putri Nur Astiwi, mengatakan ketidakpastian global yang tinggi, ditambah sentimen pasca perubahan outlook Indonesia oleh Moody’s, di saat rupiah masih terdepresiasi membuat investor lebih selektif. 

Menurutnya, faktor tersebut menekan risk appetite investor terhadap SUN. “Jika minat melemah, biasanya implikasinya yield awarded cenderung naik, sehingga cost of fund pemerintah naik secara marginal,” ujarnya kepada Fortune Indonesia, Kamis (19/2).

Selain sentimen global dan outlook kredit, permintaan juga tergerus karena sebagian investor beralih ke instrumen substitusi seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Kenaikan yield SRBI membuat instrumen tersebut dinilai lebih menarik bagi sebagian pelaku pasar.

Putri juga menambahkan adanya faktor teknikal yang memengaruhi partisipasi investor, seperti hari libur di sejumlah pasar regional seperti Singapura, Hong Kong, dan Malaysia, yang menurunkan keterlibatan investor asing pada hari lelang.

Meski demikian, ia menilai dari sisi pembiayaan APBN, Kementerian Keuangan masih memiliki ruang untuk mengelola risiko tersebut melalui strategi penerbitan yang fleksibel, baik dari sisi tenor, waktu penerbitan, maupun komposisi instrumen. Dengan menjaga kebijakan fiskal yang prudent, tekanan dari sisi suplai dinilai masih dapat dikelola.

Pandangan serupa disampaikan Pengamat Pasar Modal Martin Aditya. Ia melihat penurunan incoming bids juga dipengaruhi ekspektasi penurunan suku bunga global yang lebih terbatas dibandingkan tahun sebelumnya. Investor cenderung menunggu arah kebijakan the Fed.

Di sisi lain, penurunan outlook dari Moody’s dinilai turut memengaruhi arus modal asing. Kekhawatiran terhadap potensi pelebaran defisit APBN membuat investor asing lebih berhati-hati. 

“Spread government bond 10 tahun Indonesia dengan US Treasury 10 tahun masih belum terlalu menarik walaupun sempat sedikit melebar,” ujarnya.

Sementara itu, ekonom KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, memandang incoming bids berpotensi tetap stabil dalam jangka menengah. Menurutnya, jika ekspektasi suku bunga acuan Bank Indonesia lebih rendah, permintaan bisa kembali meningkat karena investor memanfaatkan yield yang relatif tinggi sebelum penurunan suku bunga terjadi.

Sejauh ini, pelaku pasar memperkirakan penurunan suku bunga acuan baru akan terjadi pada paruh kedua 2026, sekitar Juni.

Editorial Team