Jakarta, FORTUNE - Langkah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menolak proposal perdamaian Iran kembali meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Sebelumnya, Iran mengusulkan pembukaan kembali jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz dalam waktu sepekan sebagai bagian dari upaya penyelesaian konflik. Namun, Trump menilai tawaran tersebut belum memenuhi tuntutan AS.
“Mereka ingin membuat kesepakatan untuk segera membuka selat tersebut karena berada di ambang kekalahan besar,” ujar Trump, dikutip dari BBC, Senin (28/9).
Perkembangan negosiasi AS-Iran turut memengaruhi pergerakan harga minyak. Reuters mencatat harga Brent naik sekitar 1,27 persen menjadi US$105,64 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar US$93,11 per barel pada awal perdagangan Senin.
Namun, penguatan harga minyak masih berhadapan dengan tekanan teknikal. Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit mengatakan WTI belum mampu menembus dan bertahan di atas zona resistance 96,78–99,05. Kegagalan menembus dan bertahan di atas area tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa tekanan jual masih berpotensi mendominasi pergerakan WTI.
"Struktur teknikal WTI juga menunjukkan terbentuknya pola ABC Correction. Pola tersebut semakin diperkuat oleh kemunculan Bearish Engulfing yang mengindikasikan adanya tekanan jual setelah harga mengalami fase kenaikan sebelumnya," katanya kepada Fortune Indonesia, Senin (28/9).
Di sisi lain, pemulihan arus ekspor minyak Timur Tengah berpotensi menahan kenaikan harga. Reuters melaporkan aliran minyak di kawasan tersebut mulai pulih, termasuk aktivitas ekspor Arab Saudi, setelah sebelumnya terganggu akibat konflik.
Dengan demikian, pasar minyak masih menghadapi dua sentimen utama, yakni risiko gangguan pasokan akibat konflik AS-Iran dan ketidakpastian Selat Hormuz, serta pemulihan arus ekspor minyak Timur Tengah.
"Proyeksi harga minyak WTI hari ini masih menghadapi risiko pelemahan dari perspektif teknikal," ujarnya.
Menurut Gerald selama WTI belum mampu menembus dan bertahan di atas resistance 96.78–99.05, harga berpotensi melanjutkan tren bearish menuju support 88.70–86.54. Namun, perubahan signifikan pada kondisi geopolitik atau gangguan baru terhadap pasokan dapat meningkatkan volatilitas dan mengubah dinamika pergerakan minyak.