Jakarta, FORTUNE - PT Telkom Indonesia (TLKM) masih menyaksikan pundi-pundinya menebal sepanjang tahun buku 2025. Pun demikian, raksasa telekomunikasi domestik ini juga harus rela melihat laba bersihnya menciut.
Sepanjang 2025, emiten pelat merah ini sukses meraup pendapatan konsolidasi sebesar Rp146,7 triliun. Namun, akibat perubahan kebijakan akuntansi dan lonjakan beban depresiasi, laba bersihnya terkontraksi 9,5 persen menjadi Rp17,8 triliun (margin 12,1 persen).
Padahal, jika menggunakan kacamata normalisasi, laba Telkom sejatinya masih mampu menyentuh Rp22,7 triliun.
Penyusutan ini bukan tanpa alasan. Telkom tengah melakukan total governance reset. Langkah ini merupakan titah dari Danantara Indonesia menyelaraskan kebijakan akuntansi, mulai dari penentuan masa manfaat hingga klasifikasi aset agar lebih presisi.
Imbasnya, beban percepatan depresiasi membengkak dan menekan laba bersih secara tahunan.
Tak hanya itu, perseroan juga melakukan restatement atau penyajian kembali laporan keuangan 2023 dan 2024. Langkah itu disebut-sebut sebagai upaya memperkuat tata kelola yang transparan dan disiplin pengelolaan aset.
Direktur Utama TLKM, Dian Siswarini, mengatakan transformasi ini adalah bagian dari peta jalan besar perusahaan.
“Lewat strategi TLKM 30, Telkom memantapkan arah transformasi yang lebih terstruktur untuk mengakselerasi terwujudnya visi sebagai penggerak ekosistem digital nasional yang berdaya saing global, sekaligus menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujar Dian dalam keterangannya, Selasa (12/5).
Kendati laba bersih tertekan, para pemegang saham tidak perlu lekas berkecil hati. Telkom masih royal menebar pemanis. Total shareholder return (TSR) moncer pada level 35,7 persen, hasil racikan capital gain 28,4 persen dan dividend yield 7,3 persen.
Loyalitas ini diperkuat dengan kebijakan payout ratio 89 persen untuk tahun buku 2024, ditambah amunisi program buyback saham senilai Rp3 triliun yang akan terus bergulir hingga Mei 2026.
Menilik operasionalisasinya, segmen Business-to-Consumer (B2C) melalui Telkomsel masih menjadi mesin pencetak uang utama dengan kontribusi Rp109,2 triliun.
Trafik data melonjak 15 persen, mencerminkan dahaga masyarakat akan layanan digital yang kian tak terbendung. Average Revenue Per User (ARPU) mulai merangkak naik sejak paruh kedua 2025.
Pada lini infrastruktur, ceritanya tidak kalah progresif. Pendapatan tumbuh 9,2 persen menjadi Rp8,9 triliun, dipacu oleh ekspansi serat optik dan bisnis pangkalan data (data center). Sementara itu, anak usahanya, Mitratel, mencatatkan margin EBITDA yang sangat tebal, mencapai 82,2 persen dari pendapatan Rp9,5 triliun.
Sebagai langkah pamungkas menuju strategic holding, Telkom kian getol merampingkan bisnis non-inti. Divestasi AdMedika dan TelkoMedika ditargetkan tuntas pada semester I-2026. Sejalan dengan itu, pemisahan unit Wholesale Fiber Connectivity ke dalam entitas baru, InfraNexia, menjadi babak baru dalam transformasi besar menuju strategic holding.
