Jakarta, FORTUNE - Pembatasan kuota produksi batu bara dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 menekan kinerja operasional pertambangan hingga penjualan alat berat anak usaha Grup Astra, PT United Tractors Tbk (UNTR).
Direktur Keuangan United Tractors, Vilihati Surya mengatakan penurunan penjualan alat berat salah satunya dipengaruhi oleh kebijakan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) di sektor pertambangan.
Akibatnya, sejumlah pelanggan alat berat yang bergerak di sektor pertambangan menahan pembelian unit baru.
“Pelanggan kami yang bergerak di coal mining mengerem dulu pembelian alat-alat berat,” ujarnya dalam acara Astra Media Day, Rabu (23/9).
Berdasarkan data internal perusahaan, sepanjang Januari hingga Agustus 2026, penjualan unit alat berat Komatsu perseroan turun 21 persen menjadi 2.689 unit. Dari total tersebut, penjualan mesin besar (big machine) paling terdampak dengan penurunan sebesar 49 persen menjadi 436 unit. Padahal, alat berat bermesin besar merupakan segmen penting karena nilai per unitnya dapat mencapai 10–15 kali lipat dibandingkan mesin kecil.
Kondisi serupa juga terjadi di anak usaha UNTR, yakni PT Pamapersada Nusantara (PAMA) dan Kalimantan Prima Persada (KPP) yang menahan pembelian alat berat sebagai bagian dari upaya menjaga efisiensi dan kapasitas neraca.
Tak hanya penjualan alat berat, penjualan batu bara perseroan turun 22 persen seiring pembatasan RKAB. Hingga semester I 2026, RKAB yang diperoleh perseroan turun sekitar 50 persen. Padahal, kapasitas produksi batu bara perseroan dapat mencapai 15 juta ton.
Namun, pada pertengahan Juli 2026, perseroan mendapatkan persetujuan RKAB untuk produksi sekitar 7,4 juta ton. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 12,4 juta ton pada Agustus.
“Ini merupakan sinyal positif untuk industri pertambangan batu bara di Indonesia, dan juga sinyal positif untuk mining contracting serta Tuah Turangga Agung (TTA),” kata Vilihati.
Namun, tantangan cuaca kering atau El Niño di Kalimantan Tengah dinilai dapat memengaruhi produksi dan waktu penjualan batu bara.
Dengan adanya tambahan ini, perseroan memperkirakan penjualan akan lebih maksimal pada November dan Desember. Sebagian produksi juga akan disimpan sebagai persediaan di Indonesia.
