Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Volatilitas Belum Usai, Pasar Tunggu Evaluasi Lanjutan MSCI di Juni
Ilustrasi MSCI (dok MSCI)

Jakarta, FORTUNE - Para pelaku pasar modal masih harus menantikan keputusan lanjutan MSCI terkait evaluasi aksesibilitas pasar saham Indonesia pada Juni 2026.

Tim Stockbit Sekuritas menilai, hasil evaluasi aksesibilitas pasar oleh MSCI pada Juni 2026 akan menjadi katalis yang lebih substansial dibandingkan index review pada Mei 2026. Sebagai konteks, saat ini MSCI memberlakukan pembekuan sementara terhadap Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS); penambahan saham Indonesia ke MSCI Investable Market Indexes (IMI); dan migrasi antarsegmen saham Indonesia di indeks MSCI (misalnya, kenaikan kelas dari MSCI Small Cap ke Global Standard).

"Apakah pembekuan FIF/NOS, penambahan ke IMI, dan migrasi size-segment ke atas akan dicabut untuk review selanjutnya (Agustus 2026) dan penegasan atau sinyal lebih lanjut bahwa risiko downgrade Indonesia ke frontier market sudah tidak menjadi ancaman," demikian menurut tim riset Stockbit Sekuritas.

Hal itu pula yang mengakibatkan tertundanya inklusi saham Indonesia dari MSCI Small Cap segmen lebih tinggi. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi, mengatakan, beberapa saham Indonesia keluar dari MSCI Small Cap Index bukan karena turun kelas, tetapi justru naik.

"Hanya saja, karena untuk sementara waktu kebijakan mereka sedang ada pembekuan tidak ada yang dimasukkan ke kelompok indeks Indonesia, maka saham-saham itu tertunda masuk," kata Selasa (13/5).

Ke depan, OJK akan terus mendorong kesiapan emiten-emiten yang berpotensi naik kelas itu, supaya bisa memanfaatkan siklus review MSCI selanjutnya. Sebagai konteks, evaluasi indeks MSCI selanjutnya akan diumumkan pada 12 Agustus 2026 dan efektif pada 1 September 2026.

"Jangan sampai yang seharusnya sudah masuk ini dan belum atau tertunda ini, justru pada kesempatan berikutnya turun kelas," ujar Hasan.

Dalam kesempatan yang sama, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebut, pengumuman rebalancing MSCI Mei 2026 pada Rabu (13/5) dini hari mengurangi salah satu sumber ketidakpastian pasar selama beberapa waktu terakhir.

Meski terjadi koreksi pada perdagangan sesi I hari ini, Pejabat Sementara (Pjs.) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, memandang pengumuman tersebut sebagai sesuatu yang positif bagi pasar. Bahkan dapat menjadi basis baru untuk pertumbuhan ke depan.

"[Koreksi sementara] ini adalah konsekuensi jangka pendek dari aksi reformasi yang sudah kami lakukan," kata Jeffrey dalam Konferensi Pers di BEI, Rabu pagi. "Akhir-akhir ini pasar kita ada dalam kondisi ketidakpastian yang sangat tinggi dan sumber ketidakpastiannya banyak gejolak geopolitik, baik yang terjadi di Timur Tengah, kemudian juga fruktuasi harga komoditas dan mata uang."

Sejalan dengan itu, Co-founder PasarDana dan Praktisi Pasar Modal, Hans Kwee, mengatakan, penghapusan saham-saham yang dilakukan MSCI lebih bersifat teknikal, yakni terkait metodologi bobot dan likuiditas. Tidak serta-merta mencerminkan kerusakan fundamental pada perusahaan-perusahaan tersebut.

Selain itu, Hans Kwee menyebut, banyak pelaku pasar dan fund manager telah mengantisipasi penghapusan saham-saham oleh MSCI dalam beberapa bulan terakhir.

Ia menilai, di balik volatilitas jangka pendek ini, terdapat peluang untuk mengakumulasi saham-saham blue chip dan sektor small cap yang harganya terkoreksi secara anomali akibat kepanikan dan tekanan jual paksa (forced selling) oleh fund manager pasif.

"Fund manager pasif sebagian akan memanfaatkan periode terakhir di 29 Mei untuk melakukan rebalancing portofolionya mengikuti pengumuman MSCI," katanya kepada media, Selasa.

Editorial Team