Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
1,01 Juta Sarjana Menganggur, Ini Tips Memilih Perguruan Tinggi
ilustrasi mahasiswa yang bekuliah di Inggris dengan LPDP (pexels.com/Stanley Morales)
  • BPS mencatat 7,28 juta pengangguran pada Februari 2025, dengan 1,01 juta di antaranya lulusan sarjana, menandakan gelar akademik belum menjamin kesiapan kerja.
  • Rektor BINUS University menekankan pentingnya memilih program studi yang relevan dengan kebutuhan industri serta kurikulum yang adaptif terhadap perubahan teknologi dan pasar kerja.
  • Nelly juga menyoroti pentingnya pengalaman nyata seperti magang dan eksposur global melalui kolaborasi kampus dengan mitra industri dan universitas internasional untuk memperkuat kesiapan karier mahasiswa.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,28 juta orang pada Februari 2025. Bahkan, dari angka pengangguran itu, 1,01 juta diantaranya merupakan lulusan sarjana. Hal ini membuktikan bahwa memiliki gelar sarjana saja tidak selalu menjamin kesiapan menghadapi dunia profesional.

Dengan demikian, semakin banyak orang tua mulai melihat pendidikan tinggi sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan anak. Dalam memilih kampus, pertimbangan tidak lagi hanya pada reputasi institusi, tetapi juga relevansi pembelajaran dengan kebutuhan industri serta peluang karier setelah lulus.

Rektor BINUS University, Nelly , menjabarkan beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan orang tua dan calon mahasiswa dalam menentukan perguruan tinggi. Pertama, relevansi program studi dengan kebutuhan industri.

“Pendidikan tinggi pada dasarnya adalah investasi masa depan. Lebih dari sekadar nama institusi, yang terpenting adalah bagaimana kampus mampu mempersiapkan mahasiswa untuk menghadapi dunia kerja, sekaligus membekali mereka untuk terus relevan di tengah perubahan zaman,” kata Nelly melalui keterangan resmi di Jakarta, Kamis (26/3).

Pentingnya pengalaman kerja dan eksposur global

ilustrasi lulus kuliah (pexels.com/Karolina Grabowska www.kaboompics.com)

Nelly menambahkan, perkembangan teknologi dan transformasi industri ini membuat kebutuhan dunia kerja berubah sangat cepat, sehingga penting untuk memilih program studi yang memiliki kurikulum selaras dengan perkembangan industri.

Tips kedua, ia menyebut pentingnya kesempatan mendapatkan pengalaman nyata selama kuliah. Selain pembelajaran di kelas, pengalaman langsung seperti internship, proyek industri, entrepreneurship, maupun kegiatan riset menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk memahami dunia kerja sekaligus membangun portofolio profesional sebelum lulus.

Pendekatan ini juga dikembangkan BINUS University melalui ekosistem pendidikan yang terintegrasi dengan industri dan pengalaman global. Melalui program 2,5 tahun kuliah, siap berkarier, mahasiswa dapat menyelesaikan masa studi lebih cepat dan memanfaatkan waktu untuk mendapatkan pengalaman profesional melalui berbagai program enrichment. Program itu seperti internship, entrepreneurship, research, community development, hingga pengalaman internasional.

Ketiga, eksposur global dan jaringan profesional. Di era globalisasi, mahasiswa juga perlu memiliki perspektif internasional serta jaringan yang luas. Kampus yang memiliki kerja sama global, kesempatan pertukaran mahasiswa, maupun koneksi industri dapat memberikan nilai tambah bagi masa depan karier mahasiswa.

BINUS University juga memiliki jaringan lebih dari 170 universitas mitra di berbagai negara. Serta, didukung oleh lebih dari 2.200 mitra industri global yang berkolaborasi dalam berbagai program pembelajaran, pengembangan kurikulum, hingga kesempatan magang bagi mahasiswa.

Ke depan, di tengah dinamika dunia kerja yang semakin kompleks, pendidikan tinggi diharapkan tidak hanya menjadi jalur memperoleh gelar, tetapi juga menjadi investasi yang memberikan arah, pengalaman, dan peluang bagi masa depan generasi muda Indonesia.

Editorial Team