Jakarta, FORTUNE – Kinerja industri manufaktur nasional terus menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan yang melampaui laju ekonomi nasional. Namun, Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita, mengingatkan, euforia ini tidak boleh menutupi fakta adanya tantangan struktural yang masih membentang di sepanjang rantai pasok.
Berbicara dalam acara pelantikan Dewan Pengurus Harian Himpunan Kawasan Industri (HKI) periode 2025–2029 di Jakarta, Selasa (20/1), Agus menekankan perlunya kewaspadaan terhadap efisiensi dan keberlanjutan industri.
“Ke depan, penguatan industri nasional dihadapkan pada tantangan struktural di sepanjang rantai industri. Mulai dari sisi input, proses, hingga output,” kata Agus.
Agus menyoroti sisi input sebagai titik menentukan yang perlu pembenahan segera. Industri domestik dinilai masih bergelut dengan ketidakpastian ketersediaan bahan baku, kesenjangan kompetensi sumber daya manusia (SDM), serta keterbatasan infrastruktur kawasan yang belum optimal menyerap arus modal masuk.
“Masih ada keterbatasan infrastruktur kawasan industri yang belum sepenuhnya mampu untuk menyerap investasi industri. Kondisi ini tentu berpengaruh langsung terhadap efisiensi dan kelanjutan kegiatan industri di dalam negeri,” ujarnya.
Merespons kendala tersebut, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) merancang Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN). Peta jalan ini mencakup penguatan pasar domestik, substitusi impor, digitalisasi, hingga pengembangan industri halal sebagai motor pertumbuhan baru.
Dalam kerangka SBIN, Agus menegaskan kawasan industri tidak lagi dipandang sekadar lokasi produksi, melainkan harus bertransformasi menjadi ekosistem modern yang mengakselerasi nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja.
“Melalui pendekatan ini, Indonesia menegaskan komitmen untuk membangun industri yang berdaulat, kompetitif, dan tidak kalah penting, industri yang berkelanjutan,” ujarnya.
Meski diadang tantangan struktural, data menunjukkan sektor manufaktur tetap ekspansif. Sepanjang triwulan I–III tahun lalu, nilai output manufaktur naik signifikan dari Rp1.783 triliun (2024) menjadi Rp1.875 triliun (2025).
Kenaikan ini membawa pertumbuhan sektor industri melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada pada level 5,01 persen. Kontribusi manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pun tetap dominan, mencapai 17,27 persen atau setara Rp3.051,58 triliun.
Minat investor juga terjaga. Realisasi investasi manufaktur mencapai Rp592 triliun, menyumbang 38,5 persen dari total investasi nasional. Indikator positif lainnya terlihat dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang hingga Desember berada pada level 51,90.
“Angka di atas 50 artinya ekspansi, dan di atas 51 menunjukkan kondisi yang masih sehat,” kata Agus.
