Alasan Pertamina Tahan Harga Pertamax hingga Avtur

Pertamina Patra Niaga menahan harga BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax, serta avtur pada level September 2026.
Harga energi global sempat naik akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, tetapi dampaknya berupaya ditekan agar tidak sepenuhnya diteruskan ke konsumen.
Harga sejumlah BBM Indonesia dan avtur masih lebih rendah dibandingkan banyak negara pembanding, meski diesel bukan yang termurah.
Jakarta, FORTUNE – PT Pertamina Patra Niaga menahan harga seluruh bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi atau jenis BBM umum (JBU)—termasuk Pertamax hingga Pertamina Dex—serta avtur pada level September 2026 untuk periode Oktober.
Kebijakan ini diambil guna meredam dampak lonjakan harga energi global yang dipicu oleh dinamika konflik geopolitik di Timur Tengah agar tidak membebani konsumen secara langsung.
Direktur Perencanaan dan Pertumbuhan Bisnis Pertamina Patra Niaga, Joko Pranoto, mengatakan langkah ini merupakan bagian dari upaya bersama pemerintah dan Pertamina menahan transmisi kenaikan harga energi internasional ke pasar domestik.
"Posisi bulan ini per Oktober itu memang ada arahan untuk harga seluruh JBU, retail, dan avtur masih kita tahan sama dengan harga September," kata Joko dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah 2026 yang disiarkan secara virtual, Senin (5/10).
Joko memaparkan, tekanan terhadap harga BBM nonsubsidi dan avtur mulai tereskalasi pasca-konflik geopolitik di Timur Tengah pada akhir Februari 2026. Lonjakan signifikan kemudian terjadi pada Maret dan April pada hampir seluruh jenis BBM umum.
Untuk varian Pertamax dan Pertamax Green 95, penyesuaian sempat ditahan sejak April sebelum akhirnya disesuaikan pada Juni, hingga kembali ditahan pada level September untuk periode Oktober.
"Memang kenaikan pada 2026 cukup tinggi dibanding 2025, walaupun kami masih berusaha menekan, tidak benar-benar menyesuaikan dengan harga market di dunia," ujar Joko.
Berdasarkan perbandingan harga BBM dan avtur dengan 12 negara—termasuk anggota ASEAN, Australia, India, dan Pakistan—per 28 September 2026, posisi harga BBM Indonesia masih berada pada jajaran terendah.
Untuk RON 92, harga di Indonesia dipatok Rp15.950 per liter, lebih rendah dibandingkan Singapura (Rp48.514), Thailand (Rp21.213), Filipina (Rp25.014), Laos (Rp29.024), Myanmar (Rp37.959), India (Rp19.126), dan Pakistan (Rp23.967).
Pada segmen RON 95, harga Indonesia Rp19.140 per liter juga lebih murah ketimbang Singapura (Rp48.795), Australia (Rp29.534), Filipina (Rp25.288), Thailand (Rp21.412), India (Rp20.460), dan Malaysia (Rp19.822).
Sementara itu, untuk RON 97/98, tarif Indonesia Rp19.600 per liter berada di bawah Thailand (Rp26.424), Malaysia (Rp21.927), Brunei Darussalam (Rp21.873), dan India (Rp31.343).
"Kalau dibandingkan dengan 12 negara lain, untuk RON 92 kita paling murah. RON 95 juga kita paling murah. Kemudian RON 97, 98 juga paling murah," kata Joko.
Kendati demikian, posisi Indonesia tidak menjadi yang termurah pada semua lini produk. Pada kategori diesel, harga di Indonesia Rp25.200 per liter, atau lebih tinggi dibandingkan India (Rp17.830), Malaysia (Rp23.988), dan Pakistan (Rp23.967).
Adapun untuk avtur, harga Pertamina per September 2026 mencapai Rp20.190 per liter, lebih rendah dibandingkan Vietnam (Rp20.619), Australia (Rp28.950), Thailand (Rp33.377), dan Singapura (Rp44.202). Joko menilai, harga avtur yang relatif rendah ini menjadi komponen penting dalam menekan beban biaya operasional angkutan udara.
"Kalau avtur paling murah, ini tentunya dapat mengurangi biaya angkutan," ujarnya.
Menurutnya, disparitas harga BBM antarnegara dipengaruhi oleh kombinasi harga bahan bakar mentah serta kebijakan fiskal masing-masing negara.
Vietnam dan Laos memangkas pajak/cukai bahan bakar untuk menahan lonjakan harga, Brunei Darussalam membebaskan VAT/GST dan menerapkan subsidi BBM terarah, Kamboja memberikan pengurangan pajak, sementara Australia menerapkan mekanisme pasar bebas.



















