Laba Pertamina Geothermal Naik 15,48%, Produksi Panas Bumi Cetak Rekor

- PGE membukukan laba bersih US$79,605 juta hingga Juni 2026, naik 15,48% tahunan, seiring pendapatan yang tumbuh 14,7% menjadi US$235,027 juta.
- Produksi panas bumi hingga Juli 2026 mencapai rekor 3.222 GWh, naik 12,7%; peningkatan keandalan operasi turut menekan gangguan dan menghindari 2.327.905 ton emisi CO2e.
- PGE mempercepat proyek Lumut Balai Unit 3 dan 4 berkapasitas masing-masing 55 MW, sambil mengembangkan proyek Lahendong, co-generation, serta Gunung Tiga di Ulubelu.
Jakarta, FORTUNE — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mencatat pertumbuhan kinerja sepanjang paruh pertama 2026. Laba bersih perseroan hingga Juni 2026 mencapai US$79,605 juta, tumbuh 15,48 persen secara tahunan.
Pertumbuhan laba tersebut sejalan dengan kenaikan pendapatan. Hingga 30 Juni 2026, PGE membukukan pendapatan US$235,027 juta, naik 14,7 persen dibandingkan US$204,850 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
"Naiknya pendapatan ditopang pertumbuhan produksi dan keandalan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), serta keuntungan selisih kurs yang positif," ujar Direktur Keuangan PGE Fransetya Hasudungan Hutabarat dalam siaran pers (5/10).
Dari sisi neraca, ekuitas PGE mencapai US$2,006 miliar. Sementara itu, liabilitas turun 2,80 persen dibandingkan akhir 2025 menjadi US$961,184 juta.
Produksi Tembus 3.222 GWh
Kinerja operasional PGE juga mencatat rekor. Hingga 31 Juli 2026, total produksi panas bumi perseroan mencapai sekitar 3.222 gigawatt hour (GWh), naik 12,7 persen dari 2.859 GWh pada periode yang sama tahun lalu.
PGE menargetkan produksi sepanjang 2026 mencapai 5.255 GWh, meningkat dari 5.095 GWh pada 2025.
Pertumbuhan produksi terjadi di seluruh wilayah operasi. Lumut Balai mencatat kenaikan paling tinggi, yakni 85,5 persen menjadi 567 GWh. Kenaikan ini terjadi setelah Lumut Balai Unit 2 beroperasi penuh sejak Juni 2025.
Produksi Kamojang meningkat 6,3 persen menjadi 1.113 GWh, sedangkan Karaha naik 22,7 persen menjadi 75 GWh. Di Ulubelu, produksi tumbuh 1,8 persen menjadi 953 GWh, sementara Lahendong naik 1 persen menjadi 514 GWh.
Secara konsolidasi, capacity factor PGE meningkat menjadi 90,62 persen dari 87,78 persen. Availability factor juga naik menjadi 99,51 persen dari 99,13 persen. Pada saat yang sama, tingkat gangguan turun menjadi 0,15 persen dari 0,22 persen.
Hingga Juli 2026, operasi PGE diperkirakan menghindarkan emisi sebesar 2.327.905 ton CO2e dibandingkan pembangkit berbasis batu bara.
Lumut Balai Jadi Tumpuan Ekspansi
Di sisi pengembangan usaha, PGE mempercepat pembangunan PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4 di Muara Enim, Sumatra Selatan. Masing-masing unit memiliki kapasitas 55 megawatt (MW).
Setelah memperoleh persetujuan Final Investment Decision (FID) untuk Unit 3 pada kuartal I 2026, PGE memulai pengeboran pada 8 Juli 2026 di sumur LMB 19-3 di Desa Babatan, Kecamatan Semende Darat Ulu. Pengeboran sumur kedua, LMB-19.4, dimulai pada 17 September 2026.
Pengembangan tersebut mendapat dukungan melalui masuknya PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4 ke dalam Green Book 2026 Kementerian PPN/Bappenas pada Juni 2026. Status tersebut membuka akses terhadap potensi pinjaman luar negeri senilai US$158,86 juta untuk Unit 3 dan US$148,97 juta untuk Unit 4.
Selain Lumut Balai, sejumlah proyek lain juga berada dalam tahap pengembangan. Tarif proyek Lahendong Low Pressure berkapasitas 15 MW telah disepakati pada April 2026. Proyek co-generation dengan kapasitas total 230 MW menargetkan penandatanganan perjanjian jual beli listrik (PPA) pada kuartal IV 2026.
Sementara itu, proyek Gunung Tiga di Ulubelu dengan kapasitas 2 x 27,5 MW menjadwalkan uji produksi sumur GTG-B1 pada Oktober 2026 dan menargetkan commercial operation date (COD) pada 2029.
Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengatakan pengembangan pembangkit panas bumi menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional melalui pasokan listrik yang bersih dan andal.
“Sebagai world leading geothermal producer, PGE memahami bahwa ketahanan energi nasional memerlukan pasokan listrik yang tidak hanya bersih, tetapi juga stabil dan andal,” kata Ahmad.
Menurutnya, kinerja operasional dan perkembangan sejumlah proyek menjadi fondasi bagi pertumbuhan PGE secara berkelanjutan.



















