Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Bos ID Food Suarakan Krisis Plastik untuk Kemasan Pangan
Holding BUMN pangan ID FOOD memasok beras hingga minyak goreng buat Koperasi Desa Merah Putih. (dok. ID FOOD)
  • Krisis bahan baku plastik untuk kemasan pangan mulai mengganggu distribusi dan ketersediaan produk di industri pangan nasional.

  • Subsidi distribusi pangan ditujukan agar harga tetap terjangkau, terutama bagi wilayah Indonesia Timur dan daerah 3T.

  • Pemerintah melalui Budi Santoso mencari alternatif pasokan nafta dari negara lain.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau ID Food, Ghimoyo, mengungkap tantangan baru yang tengah dihadapi industri pangan nasional, yakni krisis bahan baku plastik untuk kemasan. Isu ini dinilai makin mendesak karena berdampak langsung pada distribusi dan ketersediaan pangan.

Menurut Ghimoyo, pihaknya tetap siap menjalankan berbagai penugasan pemerintah, mulai dari program bantuan pangan hingga gerakan pangan murah. Namun, pelaku industri di sisi lain tengah dihadapkan dengan kendala cukup serius.

“Yang sekarang lagi terasa di pihak kami sebagai pemain pangan adalah kesulitan kemasan,” kata dia dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR, Selasa (7/4).

Ia menjelaskan, kelangkaan biji plastik mulai dirasakan di berbagai pabrik. Kondisi ini menjadi penting karena hampir seluruh produk pangan bergantung pada bahan tersebut.

“Seluruh pangan, pupuk, beras itu menggunakan karung plastik. Kemasan hilir seperti minyak goreng juga memakai bahan yang sama,” kata dia.

Tak hanya persoalan kemasan, Ghimoyo juga menyoroti pentingnya dukungan subsidi distribusi pangan. Menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya pada produksi, melainkan pada distribusi, terutama ke wilayah Indonesia timur dan daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Ia menilai subsidi biaya logistik akan sangat membantu menjaga keterjangkauan harga pangan serta menekan disparitas antarwilayah.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, ID Food menegaskan komitmennya menjaga ketersediaan komoditas strategis seperti gula, daging, dan minyak goreng sepanjang tahun. Perusahaan juga terus memperluas jaringan distribusi hingga ke wilayah 3T, serta siap mendukung program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui penyediaan protein hewani, termasuk ayam, telur, dan ikan.

Pada kesempatan berbeda, Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso, menyatakan pemerintah tengah mencari alternatif pasokan bahan baku plastik, khususnya nafta, guna menjaga stabilitas harga dan ketersediaan di dalam negeri. Ia menjelaskan, selama ini Indonesia masih bergantung pada impor dari Timur Tengah.

“Bahan baku plastik salah satunya nafta harus impor dari Timur Tengah, sementara kawasan tersebut sedang terdampak perang Iran-Israel dan Amerika Serikat,” kata dia di Jakarta, Rabu (7/4).

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah menjajaki pasokan dari sejumlah negara alternatif seperti Afrika, India, dan Amerika. Namun, proses negosiasi hingga realisasi distribusi diperkirakan masih membutuhkan waktu.

Selain faktor geopolitik, gangguan pasokan juga diperparah oleh kendala produksi di sejumlah negara produsen plastik global. Budi menyebut beberapa fasilitas di Singapura, Thailand, Korea Selatan, dan Taiwan mengalami force majeure sehingga tidak mampu memenuhi kontrak pasokan.

“Ini memang masalah global. Mudah-mudahan perang selesai dan semua bisa normal kembali,” katanya.

Editorial Team