Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Apa Penyebab Harga Plastik Naik Tajam? Ini Dampaknya

Apa Penyebab Harga Plastik Naik Tajam? Ini Dampaknya
ilustrasi penggunaan kantong plastik sekali pakai yang menjadi bagian sehari-hari (pexels.com/Mathias Reding)
Intinya Sih
  • Harga plastik naik akibat terganggunya pasokan nafta dari Timur Tengah.

  • Biaya bahan baku industri plastik meningkat hingga dua kali lipat.

  • Pelaku usaha mikro terdampak melalui kenaikan biaya kemasan dan produksi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, FORTUNE — Kenaikan harga plastik di dalam negeri terjadi dalam beberapa pekan terakhir dan berdampak langsung ke pelaku industri hingga usaha mikro.

Pemerintah mengonfirmasi lonjakan ini dipicu gangguan pasokan bahan baku global yang berkaitan dengan konflik geopolitik di Timur Tengah.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menjelaskan bahwa bahan baku utama plastik, yakni nafta, masih bergantung pada impor dari kawasan tersebut.

“Beberapa hari ini kan memang banyak atau keluhan masyarakat harga plastik naik. Jadi ini bagian dari dampak dari perang. Kita itu, bahan baku plastik itu salah satunya adalah nafta. Nafta itu kita impor dari Timur Tengah,” ujar Budi di kantor KSP, Jakarta, Rabu (1/4).

Pernyataan ini menegaskan keterkaitan langsung antara konflik global dan tekanan biaya produksi plastik di Indonesia.

Gangguan pasokan nafta dari Timur Tengah

Ketergantungan terhadap impor nafta membuat industri plastik domestik rentan terhadap gangguan eksternal.

Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat,dan Israel menghambat distribusi bahan baku dari kawasan utama produsen energi dunia.

Situasi ini menyebabkan pasokan tersendat dan memicu kenaikan harga secara cepat di berbagai rantai produksi.

Alternatif impor masih dalam proses

Pemerintah mulai mencari sumber pasokan baru untuk menekan ketergantungan terhadap Timur Tengah. Negara-negara seperti Afrika, India, dan AS menjadi opsi alternatif.

“Apa yang demikian kita lakukan? Kita sekarang mencari alternatif pengganti atau alternatif dari negara lain dan kita sudah melakukan misalnya Afrika, India dan Amerika,” ujar Budi.

Namun, peralihan sumber impor tidak dapat dilakukan secara instan.

“Memang ini butuh waktu, karena kan tiba-tiba dari timur tengah terus pindah ke negara lain. Jadi kita harapkan proses ini bisa berjalan dengan baik, sehingga harga bisa kembali normal,” tuturnya.

Proses ini mencakup pencarian pemasok baru hingga penyesuaian rantai logistik.

Selain itu, pemerintah juga memperluas komunikasi dengan pelaku usaha dan perwakilan perdagangan di luar negeri.

“Perwakilan kita di luar negeri mencari supplier-supplier baru untuk bisa ekspor masuk ke Indonesia. Karena ini kan tidak terjadi di Indonesia saja,” ujar Budi.

Harga bahan baku melonjak di tingkat industri

Kenaikan harga mulai terlihat di tingkat produsen, khususnya pada bahan baku biji plastik. Pabrik plastik di Bandung mencatat lonjakan signifikan dalam beberapa minggu terakhir.

“Saat ini plastik lagi naik ya dari harga sekitar kurang dari Rp50.000 sekarang bisa lebih dari Rp50.000 per kilogram. Ini dari perang yang Iran sama Amerika,” ujar pegawai pabrik plastik Cibuntu, Riska Surihartati, Selasa (31/3), dilansir IDN Times.

Kenaikan tersebut bahkan mencapai dua kali lipat dalam kondisi tertentu.

“Paling tinggi sekarang kisaran Rp60.000 lebih. Kalau normal bisa di Rp30 sampai Rp40 ribu, kenaikan hampir 100 persen. Konsumen banyak yang ngeluh soal harga,” katanya.

Dari sisi biaya produksi, lonjakan juga terjadi pada pembelian bahan baku dalam jumlah besar.

“Harga dua ton itu waktu sebelum ada kejadian perang ini sekitar Rp40 jutaan. Sekarang harganya mencapai Rp80 juta. Naik dua kali lipat,” ucapnya.

Kondisi ini menekan margin produsen dan berdampak pada volume produksi.

Stok menipis dan produksi tertekan

Selain harga, ketersediaan bahan baku juga menjadi tantangan. Produsen mengandalkan impor, sementara stok yang ada mulai menipis.

“Stok ada tapi dikit. Kami masih mengandalkan impor. Susah kalau misalkan dari dalam negeri kebanyakannya dari recycle,” ujar Riska.

Keterbatasan kualitas bahan daur ulang membuat industri tetap bergantung pada bahan baku impor.

Penurunan daya beli juga mulai terlihat di sisi permintaan. “Berpengaruh ke produksi. Konsumen jadi sedikit pembeliannya. Sekarang bahan lagi susah ya,” katanya.

Dampak ke usaha mikro dan harga kemasan

Lonjakan harga plastik turut dirasakan sektor usaha kecil, terutama yang bergantung pada kemasan plastik. Perajin tempe di Ngawi mencatat kenaikan biaya produksi akibat harga plastik yang meningkat.

“Semua mahal, kedelai naik, belum lagi plastik pembungkus harganya di atas rata-rata. Kita bertahan karena takut ditinggal pelanggan,” ujar Rusmiati, perajin tempe, Jumat (3/4), dilansir IDN Times.

Harga plastik pembungkus tercatat naik signifikan. Harga plastik di Ngawi saat ini mencapai Rp43 ribu per kilogram, dari sebelumnya Rp29 ribu. Kondisi ini mempersempit margin keuntungan dan memaksa pelaku usaha menyesuaikan produksi.

Tekanan lebih besar dialami perajin keripik tempe.

“Kalau yang usahanya besar masih bisa bertahan. Kalau kita mending berhenti dulu karena semua naik, mulai dari kedelai, plastik hingga minyak goreng,” kata Mira Hartanti.

Sejumlah pelaku usaha memilih menghentikan produksi sementara untuk menghindari kerugian lebih lanjut.

Kenaikan harga plastik terjadi seiring gangguan rantai pasok global, lonjakan biaya bahan baku, serta keterbatasan alternatif pasokan.

Kondisi ini berdampak berlapis, khususnya terhadap pelaku usaha mikro yang bergantung pada bahan kemasan plastik.

FAQ seputar penyebab harga plastik naik

Apa penyebab utama harga plastik naik?

Kenaikan dipicu gangguan pasokan nafta akibat konflik di Timur Tengah.

Berapa kenaikan harga plastik di tingkat industri?

Harga plastik bisa naik hingga dua kali lipat dari Rp30–40 ribu menjadi lebih dari Rp60 ribu per kilogram.

Apa dampaknya bagi pelaku usaha kecil?

Biaya produksi meningkat karena harga plastik kemasan naik signifikan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yunisda Dwi Saputri
EditorYunisda Dwi Saputri
Follow Us

Latest in News

See More