Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Pemerintah Pasang Target Kurs Rupiah di Rp17.000-an, Realistis Atau Pesimis?

Pemerintah Pasang Target Kurs Rupiah di Rp17.000-an, Realistis Atau Pesimis?
Nilai tukar dolar ke rupiah kembali menikat perhari ini ( Investor.id/fitrayadiyozaputra)
Intinya Sih
  • Pemerintah menargetkan nilai tukar rupiah 2027 di kisaran Rp16.800–Rp17.500 per dolar AS, sebagai langkah kehati-hatian fiskal menghadapi risiko global dan tekanan pasar.
  • Ekonom menilai target tersebut realistis karena kondisi global belum mendukung penguatan signifikan; harga minyak tinggi, arus modal terbatas, dan ketegangan geopolitik masih menekan rupiah.
  • Bank Indonesia memperkirakan nilai wajar rupiah sekitar Rp16.400-an, menandakan kurs saat ini undervalued; pemerintah diminta menjaga komunikasi agar asumsi konservatif tak dianggap sinyal pelemahan permanen.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, FORTUNE - Pemerintah menetapkan target nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500. Hal ini disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR RI saat memaparkan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) tahun anggaran 2027.

Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menilai bahwa target tersebut bisa dipahami sebagai asumsi kehati-hatian fiskal. Dalam proses penyusunan APBN, asumsi nilai tukar dinilai tidak semestinya dibuat terlalu optimistis, sebab kurs akan memengaruhi belanja subsidi energi, pembayaran utang luar negeri, penerimaan migas, pembiayaan, inflasi impor, serta sentimen pasar SBN.

"Kisaran Rp16.800 sampai Rp17.500 memang berada di antara batas atas baseline dan skenario tekanan, sehingga lebih mencerminkan kehati-hatian terhadap risiko global daripada pengakuan bahwa rupiah akan permanen lemah di level tersebut," ujarnya kepada Fortune Indonesia, Jumat (22/5).

Dari sisi penyusunan anggaran, menurutnya asumsi yang terlalu optimistis justru berisiko menimbulkan tekanan lebih besar. Apabila pemerintah memasang target nilai tukar rupiah Rp14 ribuan tetapi realisasi tetap jauh di atas itu, maka subsidi energi, pembayaran kewajiban valas, dan biaya impor bisa melesat jauh dari proyeksi anggaran.

Oelh karenanya, dia menilai target Rp17.000-an dinilai lebih realistis. Apalagi, kondisi global dan domestik saat ini tdak mendukung penguatan rupiah hingga ke level Rp14.000-an dalam waktu dekat. Untuk ke level tersebut, diperlukan kombinasi eksternal dan internal yang sejalan yakni: dolar AS melemah tajam, suku bunga Amerika turun signifikan, harga minyak turun, ketegangan Timur Tengah mereda, arus modal asing kembali masuk besar, transaksi berjalan membaik, dan kepercayaan terhadap fiskal serta pasar keuangan domestik pulih kuat.

Sementara yang terjadi saat ini justru sebaliknya: harga minyak masih tinggi, kebutuhan dolar musiman meningkat, pasar global masih berhati-hati, dan rupiah masih menghadapi tekanan dari arus modal serta kekhawatiran fiskal.

Bappenas juga mencatat bahwa hingga sejak awal tahun hingga 5 Mei 2026, rata-rata minyak Brent mencapai 85,3 dolar AS per barel, lebih tinggi 21,9 persen dari asumsi ICP 2026 sebesar US$70 per barel, sementara rata-rata kurs mendekati Rp17.000 per dolar AS atau 3 persen lebih tinggi dari asumsi APBN 2026 sebesar Rp16.500 per dolar AS.

"Fundamental rupiah menurut saya belum tentu berada di Rp17 ribu-an. Level ini lebih mencerminkan tekanan pasar, premi risiko, dan kebutuhan dolar jangka pendek, bukan nilai fundamental jangka menengah," jelas Josua.

Bank Indonesia dalam rapat dengan Komisi XI DPR optimistis rata-rata nilai tukar pada 2026 di kisaran Rp16.500 dengan rentang pergerakan Rp16.200 sampai Rp16.800. BI juga menyebut rupiah saat ini sudah undervalued.

Di sisi lain, kajian fair value berbasis Real Effective Exchange Rate (REER) mencatat nilai wajar USD/IDR pada Maret 2026 diperkirakan berada di sekitar Rp16.407, sementara posisi REER aktual di level 93,5 mengindikasikan rupiah sekitar 3,1 persen lebih lemah dibandingkan nilai fundamentalnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa secara fundamental rupiah masih lebih dekat ke level Rp16 ribuan ketimbang Rp17 ribuan. Namun, pasar saat ini masih memberikan diskon terhadap aset rupiah seiring tingginya risiko global, tekanan fiskal, volatilitas harga minyak, serta dinamika arus modal.

Josua menilai, level Rp14 ribuan sebenarnya bukan hal mustahil dicapai jika dilihat secara historis. Meski demikian, angka tersebut dinilai belum relevan dijadikan asumsi jangka pendek apabila tidak ditopang kondisi makroekonomi dan pasar yang memadai, serta geopolitik global yang stabil. Di satu sisi, BI juga sudah mengambil berbagai langkah agresif, termasuk menaikkan suku bunga acuan.

"Untuk membawa rupiah kembali ke kisaran yang lebih kuat, pemerintah dan BI harus membuktikan bahwa stabilitas fiskal, pasokan devisa, neraca pembayaran, inflasi, dan kepercayaan investor dapat diperbaiki secara konsisten," katanya.

Maka dari itu, Josua menekankan pentingny komunikasi yang baik di tingkat pemerintah agar tidak menimbulkan persepsi bahwa otoritas terlalu nyaman dengan kondisi rupiah yang lemah saat ini. Karena, ketika nilai tukar sudah bergerak di kisaran Rp17.000 hingga Rp17.500 per dolar AS, memasang target di rentang yang terlalu dekat dengan kondisi pasar saat ini memang dapat terlihat seperti pemerintah tidak cukup ambisius mendorong penguatan.

Pemerintah juga dinilai perlu menyampaikan peta jalan yang lebih konkret, agar asumsi kurs yang konservatif tidak berubah menjadi ekspektasi pelemahan, tetapi menjadi dasar anggaran yang realistis sambil tetap menjaga tujuan penguatan rupiah secara bertahap.

Share Article
Topics
Editorial Team
Ekarina .
EditorEkarina .

Related Articles

See More