Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
BPS: Inflasi April 2026 0,13%, Harga Bahan Pangan Turun Setelah Lebaran
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono di kantor BPS. Dok Fortune Indonesia
  • BPS mencatat inflasi bulanan April 2026 sebesar 0,13%, lebih rendah dari April 2025 yang mencapai 0,31%, dengan sektor transportasi menjadi penyumbang utama melalui tarif angkutan udara dan bensin.
  • Beberapa komoditas seperti minyak goreng, tomat, dan beras turut mendorong inflasi, sementara daging ayam ras, emas perhiasan, cabai rawit, serta telur ayam ras menahan laju kenaikan harga.
  • Secara tahunan, inflasi April 2026 mencapai 2,42% dengan dorongan terbesar dari kelompok makanan-minuman-tembakau; Papua Barat mencatat inflasi tertinggi dan Lampung terendah di tingkat provinsi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa pada April 2026 terjadi inflasi sebesar 0,13 persen secara bulanan (mtm). Angka ini lebih rendah dari inflasi pada April 2025 0,31 persen (mtm).

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan bahwa kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar pada April 2026, dengan andil sebesar 0,12 persen dan tingkat inflasi sebesar 0,99 persen.

"Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok transportasi antara lain tarif angkutan udara dan bensin. Tarif angkutan udara memberikan andil inflasi sebesar 0,11 persen sedangkan bensin memberikan andil inflasi sebesar 0,02 persen," katanya dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, Senin (4/5).

Ia menambahkan, komoditas lain yang juga memberikan andil inflasi antara lain adalah minyak goreng sebesar 0,05 persen, tomat sebesar 0,03 persen, beras serta nasi dengan lauk masing-masing sebesar 0,02 persen.   

Selanjutnya, BPS juga mencatat beberapa komoditas yang menjadi peredam inflasi seperti daging ayam ras, emas perhiasan, cabai rawit dan telur ayam ras yang turun setelah lebaran.    

“Beberapa komoditas juga ada yang memberikan andil deflasi di antaranya daging ayam ras dengan andil deflasi 0,11 persen, emas perhiasan dengan andil deflasi 0,09 persen, cabai rawit serta telur ayam ras masing-masing 0,06 persen dan 0,04 persen,” kata Ateng.

Menurut wilayah, secara bulanan sebanyak 30 provinsi mengalami inflasi, sedangkan 8 provinsi mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Provinsi Papua Barat sebesar 2,00 persen, sementara deflasi terdalam terjadi di Provinsi Maluku sebesar 0,17 persen.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi tahunan (year on year) pada April 2026 mencapai 2,42 persen dengan indeks harga konsumen (IHK) 111,09.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan bahwa inflasi tahun kalender (ytd) tercatat sebesar 1,06 persen.

“Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan andil inflasi 0,90 persen dengan tingkat inflasi 3,06 persen,” ujar Ateng.

Berdasarkan komponen, seluruh komponen mengalami inflasi secara tahunan. Inflasi tertinggi terjadi pada komponen begejolak, yaitu 3,37 persen dengan andil inflasi 0,56 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi diantaranya daging ayam ras, beras, dan telur ayam ras.

Selanjutnya, komponen inti mengalami inflasi sebesar 2,44 persen dengan andil inflasi 1,56 persen, yang didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, dan biaya kuliah akademi/perguruan tinggi.

Sedangkan komponen diatur pemerintah mengalami inflasi yang lebih rendah sebesar 1,53 persen dengan andil inflasi 0,30 persen, terutama akibat kenaikan harga tarif angkutan udara, sigaret kretek mesin (SKM), dan sigaret kretek tangan (SKT).

Menurut wilayah, seluruh provinsi di Indonesia mengalami inflasi tahunan. Inflasi tertinggi terjadi di Papua Barat sebesar 5,00 persen, sedangkan inflasi terendah terjadi di Lampung sebesar 0,53 persen.

Editorial Team