Inflasi Medis RI Diramal Capai 17,8 Persen, Pemutakhiran Teknologi jadi Penyebab

Riset Mercer Marsh Benefits memprediksi inflasi medis Indonesia mencapai 17,8 persen pada 2026.
Kenaikan biaya medis dipicu pemutakhiran teknologi kesehatan.
AIA menekankan pentingnya asuransi kesehatan agar masyarakat tetap bisa mengakses layanan medis modern di tengah inflasi dan kemajuan teknologi.
Jakarta, FORTUNE – Kabar kurang sedap bertiup dari sektor kesehatan. Riset teranyar Mercer Marsh Benefits (MMB) memproyeksikan inflasi medis di Indonesia bakal menyentuh angka 17,8 persen pada 2026. Angka ini menjadi alarm keras lantaran jauh melampaui rerata inflasi medis di kawasan Asia yang diprediksi bertahan pada level 12,5 persen.
Jika disandingkan dengan negara tetangga, posisi Indonesia kian mengkhawatirkan. Laju kenaikan biaya medis di Malaysia diperkirakan sebesar 15 persen, sementara Thailand diprediksi 14,6 persen. Syahdan, pesatnya pemutakhiran teknologi kesehatan dituding menjadi motor utama di balik membubungnya ongkos perawatan medis di Tanah Air.
Investasi jumbo untuk riset dan pengembangan alat diagnostik mutakhir hingga terapi inovatif tak pelak tecermin pada tagihan yang mesti dibayar pasien.
Salah satu potret nyata dari mahalnya inovasi ini hadir di ruang perawatan jantung. dr. Wishnu Aditya Widodo, spesialis jantung dari RS Pondok Indah, memaparkan bagaimana teknologi bernama fractional flow reserve (FFR) kini menjadi garda depan dalam menangani penyakit jantung—sang pembunuh nomor satu yang menurut data WHO pada 2021 merenggut 17,8 juta jiwa setiap tahunnya.
Teknologi FFR memungkinkan penanganan lebih presisi dengan sensor tekanan setipis rambut untuk mengukur sumbatan aliran darah. Manfaatnya konkret: efisiensi. Namun, presisi ini datang dengan harga tidak murah.
“Dengan teknologi baru, pasien terhindar dari prosedur yang tidak perlu. Dalam banyak kasus, teknologi seperti FFR mampu mengurangi jumlah stent jantung yang harus dipasang—misalnya dari rencana awal pemasangan tiga stent menjadi hanya satu stent,” ujar Wishnu dalam keterangan tertulisnya, Senin (20/4).
Menurut Wishnu, era angiografi sinar-X dua dimensi yang ibarat memperbaiki mesin mobil hanya melalui bayangan dinding, kini mulai ditinggalkan. Sains medis terbaru melalui FFR memastikan apakah sebuah sumbatan benar-benar menghambat fungsi aliran darah sebelum tindakan pemasangan ring (stent) dilakukan.
Di tengah pusaran inflasi dan mahalnya inovasi tersebut, asuransi kesehatan muncul sebagai perisai keuangan penting. Chief Marketing Officer AIA, Kathryn Parapak, menegaskan tanpa perlindungan mumpuni, akses terhadap layanan kesehatan modern berisiko menjadi barang mewah yang tak terjangkau bagi sebagian besar masyarakat.
“Oleh karena itu, perencanaan keuangan melalui asuransi kesehatan bukan hanya menjadi kebutuhan, tetapi juga investasi jangka panjang untuk menjaga kualitas hidup,” ujar Kathryn.
Guna meredam gempuran inflasi medis, AIA menjajakan produk asuransi tambahan seperti Premier Hospital and Surgical Extra (PHSE) dan Plus. Produk ini menawarkan akses perawatan hingga ke mancanegara dengan limit tahunan yang fantastis, yakni mencapai Rp70 miliar.
Langkah AIA menggarap ceruk proteksi kesehatan ini tampaknya membuahkan hasil secara komersial. Berdasarkan rapor kinerja perusahaan, asuransi AIA membukukan pendapatan premi neto senilai Rp8,91 triliun pada penutupan 2025, naik tipis dibandingkan dengan perolehan pada 2024 yang mencapai Rp8,63 triliun.

















