Amartha Ungkap Jurus Jaga Investor Asing di Tengah Tech Winter

- Amartha memastikan pendanaan dari investor asing tetap stabil di tengah tekanan ekonomi, karena mayoritas investor memiliki orientasi jangka panjang dan tidak menarik dana secara signifikan.
- Perusahaan mencatat penyaluran pembiayaan Rp3 triliun pada kuartal I 2026 dengan tingkat kredit macet sekitar empat persen, menunjukkan bisnis masih tumbuh positif.
- Untuk menjaga kepercayaan investor, Amartha memperkuat tata kelola perusahaan setara standar emiten publik serta menerapkan sistem tanggung renteng guna menekan risiko kredit bermasalah.
Jakarta, FORTUNE - PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) mengklaim pendanaan dari investor asing masih terjaga di tengah carut-marutnya kondisi perekonomian dan start up fintech nasional yang banyak bertumbangan.
Andi Taufan Garuda Putra, Founder and CEO, Amartha Financial mengatakan mayoritas investor asing yang menanamkan modal di perusahaan memiliki orientasi investasi jangka panjang sehingga belum terdapat penarikan dana secara signifikan akibat kondisi ekonomi saat ini.
"Investor luar negeri itu lebih visioner, jadi lebih bisa melihat jangka panjang. Mereka ngga ngomongin tahun depan, dua tahun ke depan bisa dapet return berapa banyak. Tetapi memang melihatnya 5 tahun, 7 tahun ke depan bisnis ini bisa tumbuh berkali-kali lipat atau tidak," katanya di Jakarta, Kamis (4/5).
Selain itu, para lender luar negri mau para pemberi pinjaman (lender) dan investor melihat kemampuan perusahaan dalam menjaga kinerja bisnis. Dalam hal ini, Amartha mengklaim masih membukukan laba, meskipun tidak merinci nilai profitabilitas yang dicapai.
Dari sisi operasional, Amartha membukukan penyaluran pembiayaan mencapai Rp3 triliun per kuartal I 2026. Sejalan dengan ini, kredit macet perseroan masih dikisaran empat persen alias dibawah ambang batas regulator. Dengan demikian bisnis ini dinilai masih berjalan tumbuh.
"Mereka melihat Amartha bisa menjalankan puluhan juta UMKM itu apa enggak dalam 5-7 tahun ke depan. Dan itu yang membuat kita menjalankan bisnis juga lebih long term," ujarnya.
Guna menekan kredit macet, sejumlah langkah konkret telah diambil perseroan, misalnya dengan menerapkan pendekatan berbasis kelompok bagi para nasabah. Melalui skema tersebut, anggota kelompok saling membantu apabila terdapat anggota lain yang mengalami kesulitan pembayaran.
"Jadi istilahnya tanggung renteng. Kalau sudah lancar lagi nanti dibalikin lagi semua uangnya, jadi mereka saling support komunitas satu sama lainnya," katasAndi.
Selain kinerja perusahaan, Andi menilai ekosistem dan kepastian hukum menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor, terutama setelah industri startup dalam beberapa tahun terakhir diwarnai kasus fraud dan tekanan pendanaan akibat fenomena tech winter.
Menurutnya, sejumlah kasus penyimpangan yang melibatkan manajemen startup membuat investor semakin selektif dalam menempatkan modal. Karena itu, Amartha berupaya memperkuat sistem tata kelola perusahaan meski belum berstatus sebagai perusahaan terbuka.
"Kami membangun governance seperti yang diterapkan di perusahaan-perusahaan yang sudah tercatat di pasar modal. Jadi meskipun belum listed, sistemnya sudah berjalan dan menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan investor," ujarnya
Ia mengatakan, Amartha memiliki sistem tata kelola perusahaan kuat, walaupun bukan perusahaan publik. Perusahaan memiliki komite audit, komite nominasi remunerasi, ada sistem governance yang seperti di pasar modal.
"Walaupun belum listed company tapi nanti kalau suatu saat tidak listed, sistemnya sudah berjalan dan menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan investor," tegasnya.
Saat ini, pendanaan dari investor asing masih mendominasi struktur pendanaan Amartha. Investor tersebut berasal dari sejumlah negara, antara lain Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Amerika Serikat. Beberapa institusi yang tercatat menjadi investor perusahaan antara lain Line Bank, UOB Singapore, serta Women's World Banking.

















