- Insight dari investor, ekonom, dan investment expert terkemuka
- Pembahasan tren ekonomi global serta peluang investasi lintas aset
- Networking dengan investor, profesional, dan pelaku industri
- Akses rekaman sesi hingga 10 hari (Regular Pass) atau 30 hari (VIP Pass)
- Langganan Majalah Fortune selama satu tahun
- Makan siang dan 2 kali coffee break
- Khusus VIP Pass: jalur registrasi eksklusif, tempat duduk premium di barisan depan, akses VIP Lounge, area makan siang eksklusif, serta sesi tanya jawab prioritas dengan para pembicara.
Value investing vs Growth investing, Apa Bedanya?

Value investing berfokus pada saham undervalued, sedangkan growth investing menyasar perusahaan dengan potensi pertumbuhan tinggi.
Saham value cenderung lebih stabil dan berpotensi memberikan dividen, sementara saham growth menawarkan potensi capital gain dengan volatilitas lebih tinggi.
Pemilihan strategi perlu disesuaikan dengan tujuan investasi dan toleransi risiko. Investor juga dapat mengombinasikan keduanya dalam satu portofolio.
Value investing dan growth investing merupakan dua strategi yang banyak digunakan investor dalam memilih saham. Keduanya bertujuan memperoleh imbal hasil, tetapi memiliki pendekatan berbeda.
Jadi, penting untuk memahami perbedaan value investing vs growth investing agar bisa menyesuaikan strategi dengan tujuan investasi, profil risiko, dan jangka waktu. Berikut perbedaan kedua strategi tersebut.
Table of Content
Perbedaan value investing vs growth investing
1. Fokus utama investasi
Value investing adalah strategi dengan fokus pada saham yang diperdagangkan di bawah nilai intrinsiknya (undervalued). Pendekatan ini didasarkan pada anggapan bahwa harga pasar tidak selalu mencerminkan nilai fundamental perusahaan.
Sementara itu, growth investing berfokus pada perusahaan yang diperkirakan memiliki pertumbuhan pendapatan dan laba lebih tinggi dibandingkan rata-rata pasar. Dalam strategi ini, perhatian fokus pada potensi perkembangan bisnis di masa depan.
2. Karakteristik perusahaan
Value investing umumnya menyasar perusahaan mapan dengan model bisnis stabil, fundamental kuat, dan arus kas konsisten. Perusahaan tersebut juga sering membagikan dividen kepada pemegang saham.
Di satu sisi, growth investing berfokus pada perusahaan yang sedang berekspansi melalui pengembangan produk, perluasan pasar, atau peningkatan kapasitas bisnis. Karena itu, sebagian besar labanya biasanya diinvestasikan kembali untuk mendukung pertumbuhan.
3. Valuasi saham
Perbedaan value investing vs growth investing juga terlihat dari valuasi saham. Value investing diperdagangkan dengan rasio valuasi, seperti price-to-earnings (P/E) atau price-to-book (P/B) yang relatif lebih rendah dibandingkan rata-rata industrinya.
Growth investing memiliki valuasi yang lebih tinggi karena pasar telah memberikan premi atas ekspektasi pertumbuhan perusahaan pada masa mendatang.
4. Potensi imbal hasil
Pada value investing, potensi keuntungan berasal dari kenaikan harga saham ketika pasar kembali menilai perusahaan sesuai nilai intrinsiknya. Selain itu, pendapatan didapatkan dari dividen apabila perusahaan membagikannya secara rutin.
Di sisi lain, growth investing lebih mengandalkan kenaikan harga saham (capital gain). Perusahaan growth umumnya memilih menginvestasikan kembali laba untuk mendukung ekspansi, sehingga dividen relatif kecil atau bahkan tidak dilakukan.
Ingin lebih dalam memahami strategi investasi yang sesuai dengan kondisi pasar dan tujuan keuangan? Dapatkan insight berbasis data dari investor, ekonom, dan praktisi industri di Fortune Indonesia Investment Forum 2026.
Fortune Indonesia Investment Forum 2026 adalah forum investasi premium yang dirancang untuk membantu investor memahami tren ekonomi global dan menyusun strategi investasi dengan lebih terarah.
Selama satu hari penuh, Anda akan mempelajari strategi investasi lintas aset, mulai dari saham, fixed income, kripto dan aset digital, private capital, komoditas, hingga real assets.
Benefit yang didapatkan:
Daftar sekarang dan dapatkan tiket di sini: Fortune Indonesia Investment Forum 2026
5. Tingkat risiko
Value investing dianggap memiliki risiko relatif lebih rendah karena menyasar perusahaan dengan fundamental kuat dan bisnis yang matang. Harga saham perusahaan tersebut juga cenderung lebih stabil.
Sebaliknya, growth investing memiliki risiko lebih tinggi karena harga sahamnya lebih sensitif terhadap sentimen pasar dan perlambatan bisnis. Kondisi tersebut membuat pergerakannya cenderung lebih volatil.
6. Pendekatan analisis
Dalam value investing, investor menggunakan analisis fundamental seperti menilai laporan keuangan, valuasi, arus kas, tingkat utang, dan nilai intrinsik. Sedangkan growth investing lebih berfokus pada prospek pertumbuhan, peluang industri, kemampuan berinovasi, dan strategi ekspansi perusahaan.
Tabel perbedaan value investing dan growth investing
Aspek | Value Investing | Growth Investing |
|---|---|---|
Fokus utama | Mencari saham di bawah nilai intrinsik | Mencari perusahaan dengan potensi pertumbuhan tinggi |
Karakter perusahaan | Perusahaan mapan dengan fundamental stabil | Perusahaan yang sedang berkembang dan agresif berekspansi |
Valuasi | P/E atau P/B relatif rendah | Valuasi cenderung lebih tinggi |
Dividen | Umumnya rutin membagikan dividen | Laba lebih banyak diinvestasikan kembali |
Potensi keuntungan | Capital gain dan dividen | Didominasi capital gain |
Risiko | Relatif lebih rendah | Relatif lebih tinggi |
Fokus analisis | Fundamental dan nilai intrinsik | Prospek pertumbuhan dan ekspansi |
Kelebihan dan kekurangan value investing
Kelebihan value investing
- Berfokus pada perusahaan dengan fundamental yang relatif kuat.
- Berpotensi memperoleh capital gain ketika harga kembali ke nilai wajarnya.
- Banyak perusahaan value membagikan dividen secara konsisten.
- Volatilitas harga cenderung lebih rendah dibandingkan saham growth.
Kekurangan value investing
- Berisiko mengalami value trap apabila harga murah disebabkan penurunan fundamental perusahaan.
- Membutuhkan analisis fundamental yang mendalam.
- Kenaikan harga saham menuju nilai wajarnya dapat memerlukan waktu yang cukup lama.
Kelebihan dan kekurangan growth investing
Kelebihan growth investing
- Memiliki potensi pertumbuhan nilai investasi yang lebih tinggi.
- Berpeluang memperoleh capital gain yang besar apabila perusahaan berhasil berekspansi.
- Banyak diterapkan pada sektor dengan pertumbuhan cepat, seperti teknologi dan inovasi.
Kekurangan growth investing
- Valuasi saham umumnya lebih tinggi.
- Pergerakan harga lebih volatil dibandingkan saham value.
- Harga saham dapat terkoreksi apabila target pertumbuhan perusahaan tidak tercapai.
Mana yang lebih sesuai?
Pemilihan value investing atau growth investing bergantung pada tujuan investasi dan toleransi risiko. Value investing lebih sesuai bagi investor yang mengutamakan stabilitas, valuasi rendah, dan potensi dividen.
Sementara itu, growth investing cocok bagi investor yang mengejar pertumbuhan nilai investasi dan siap menghadapi volatilitas lebih tinggi. Namun, investor juga dapat menerapkan blended strategy dengan mengombinasikan kedua strategi dalam satu portofolio.
Demikian perbedaan mengenai value investing vs growth investing. Semoga bermanfaat!
FAQ seputar value investing vs growth investing
| Apa itu value investing? | Value investing adalah strategi membeli saham yang diperdagangkan di bawah nilai intrinsiknya. |
| Apa itu growth investing? | Growth investing berfokus pada perusahaan yang diperkirakan memiliki pertumbuhan pendapatan dan laba tinggi. |
| Apakah saham growth selalu membagikan dividen? | Tidak, banyak perusahaan growth memilih menginvestasikan kembali laba untuk ekspansi bisnis. |
| Bisakah value investing dan growth investing digabung? | Ya, keduanya dapat dikombinasikan dalam satu portofolio melalui strategi blended. |



















