BI Lepas Rp442 Triliun ke Perbankan, Dorong Penguatan Kredit Bank

- BI telah mengembalikan sekitar Rp442 triliun dana GWM kepada perbankan melalui insentif makroprudensial, dari potensi pengembalian sekitar Rp500 triliun.
- Pengurangan GWM hingga 6 persen diberikan kepada bank yang menyalurkan kredit ke sektor strategis, termasuk pangan, perumahan, UMKM, dan usaha kecil.
- BI memperlonggar likuiditas melalui pembelian SBN pasar sekunder di atas Rp250 triliun serta pengurangan outstanding SRBI menjadi Rp1.047 triliun per 10 September.
Jakarta, FORTUNE - Bank Indonesia (BI) telah mengembalikan sekitar Rp442 triliun dana giro wajib minimum (GWM) kepada perbankan melalui kebijakan insentif makroprudensial. Dana tersebut diharapkan dapat digunakan bank untuk meningkatkan penyaluran kredit sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi.
Gubernur BI, Destry Damayanti, menjelaskan sebelumnya BI memberikan insentif pengurangan GWM hingga 6 persen dari total GWM perbankan. Dengan ketentuan tersebut, meski GWM perbankan berada di kisaran 9 persen, bank dapat memperoleh pengurangan hingga 6 persen.
"Artinya, ada sekitar Rp500 triliun yang uang akan kembali kepada bank, sehingga bank bisa menyalurkan kreditnya. Saat ini, bank itu sudah menerima sekitar Rp442 triliun dana dari pengembalian GWM-nya," ujar Destry saat melakukan rapat kerja dengan DPD RI, Senin (14/9).
Meski demikian, insentif pengurangan GWM diberikan kepada bank yang memenuhi persyaratan penyaluran kredit ke sektor-sektor strategis yang memiliki dampak terhadap perekonomian dan penciptaan lapangan kerja.
Sektor-sektor yang menjadi sasaran penyaluran kredit tersebut di antaranya sektor pangan, perumahan, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta sektor usaha kecil.
BI juga memperlonggar kebijakan moneter untuk menjaga ketersediaan likuiditas di sistem keuangan. Salah satu langkahnya dilakukan dengan membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
“Dengan koordinasi yang juga makin kuat dengan Kementerian Keuangan, maka Bank Indonesia juga terus melakukan ekspansi kebijakan moneter kami, termasuk kami melakukan pembelian dari SBN di pasar sekunder, itu sudah sekitar di atas Rp250 triliun,” ujar Destry.
BI juga mengurangi posisi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dari yang sebelumnya hampir mencapai Rp1.100 triliun kini turun menjadi Rp1.047 triliun per 10 September.
Penurunan juga tercatat pada imbal hasil SRBI tenor satu tahun. Yield instrumen tersebut kini berada di 6,94 persen, turun dari posisi sebelumnya sebesar 7,74 persen.
Menurutnya, penurunan tersebut adalah upaya untuk mengembalikan likuiditas perbankan. "Tujuannya adalah mengembalikan dana itu sebenarnya kepada bank, agar bank itu juga akan bisa menyalurkan kreditnya," pungkas Destry.



















