Survei BI Ungkap Penjualan Eceran Hanya Tumbuh 1,1 Persen, Ini Penyebabnya

- Penjualan eceran Juli 2026 tumbuh tipis 1,1 persen secara tahunan, membaik dari kontraksi Juni, tetapi turun 0,1 persen secara bulanan akibat normalisasi permintaan pasca-HBKN dan libur sekolah.
- Mayoritas kota mencatat kenaikan, dipimpin Manado 22,3 persen, Medan 14,3 persen, dan Bandung 9,1 persen secara tahunan. BI memperkirakan IPR Agustus tumbuh 0,5 persen.
- Ekspektasi penjualan Oktober 2026 dan Januari 2027 menurun, dipengaruhi normalisasi konsumsi pasca-Natal. BI juga memperkirakan tekanan inflasi pada kedua periode tersebut melandai.
Jakarta, FORTUNE – Kinerja penjualan eceran domestik pada Juli 2026 mencatatkan pemulihan terbatas. Bank Indonesia (BI) merekam Indeks Penjualan Riil (IPR) tumbuh 1,1 persen secara tahunan (YoY). Capaian ini membaik dibandingkan Juni 2026 yang sempat menciut 3,0 persen (YoY).
Meski membaik secara tahunan, penjualan eceran bulanan justru terkoreksi. Realisasi Juli 2026 terkontraksi 0,1 persen (MtM).
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan penurunan bulanan tersebut dipicu oleh pola musiman konsumsi masyarakat.
“Penurunan secara bulanan dipengaruhi oleh normalisasi permintaan pasca periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan libur sekolah,” kata Ramdan melalui keterangan resmi di Jakarta, Jumat (11/9).
Secara spasial, mayoritas kota mencatat kenaikan penjualan eceran. Pertumbuhan tertinggi terjadi di Manado dengan indeks 187,6 atau melonjak 22,3 persen (YoY). Medan menyusul dengan indeks 376,3 (tumbuh 14,3 persen (YoY), serta Bandung dengan indeks 149,9 (tumbuh 9,1 persen (YoY).
Memasuki Agustus 2026, BI memperkirakan IPR tetap tumbuh pada level 224,6, atau naik 0,5 persen (YoY). Penjualan suku cadang dan aksesori menjadi penopang utama dengan indeks 150,0 (tumbuh 10,1 persen (YoY). Kelompok makanan, minuman, dan tembakau turut mendukung dengan indeks 317,6 (tumbuh 0,7 persen (YoY).
“Di sisi lain, beberapa kelompok mengalami perbaikan kinerja meskipun masih dalam fase kontraksi terutama pada kelompok peralatan informasi dan komunikasi terkontraksi 1,7 persen (YoY) serta kelompok barang budaya dan rekreasi terkontraksi 1,2 persen (YoY),” ujar Ramdan.
Prospek penjualan eceran diperkirakan kembali melambat. Responden survei BI memproyeksikan Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) Oktober 2026 dan Januari 2027 berada dalam tren menurun.
IEP Oktober 2026 melorot ke angka 143,9 dari posisi sebelumnya 148,3. IEP Januari 2027 juga turun ke level 158,0 dibandingkan dengan periode Desember 2026 yang sebesar 171,6. Penurunan ekspektasi pada awal tahun depan terdorong oleh normalisasi konsumsi pasca-HBKN Natal.
“Hal ini dipengaruhi dari sisi harga, tekanan inflasi pada Oktober 2026 dan Januari 2027 diprakirakan menurun,” ujar Ramdan.


















