Suku Bunga Naik, Bank Jago Prediksi Cost of Fund Tembus 4,1% Akhir 2026

- Kenaikan BI Rate menjadi 5,75% mendorong biaya dana Bank Jago dari 3,5% pada Juni menjadi 3,8% pada Agustus 2026, dengan proyeksi 4%-4,1% akhir tahun.
- Bank Jago mencatat kredit Rp26,6 triliun dan DPK Rp27,6 triliun pada Juni 2026, masing-masing tumbuh 24% dan 23% secara tahunan; NPL gross terjaga 0,8%.
- Total aset Bank Jago mencapai Rp41,4 triliun, laba bersih semester I-2026 Rp189 miliar, dan CAR 28,4%; nasabah berjumlah 20,1 juta setelah penutupan rekening tidak aktif.
Jakarta, FORTUNE - Kenaikan BI rate sebanyak tiga kali sepanjang tahun ini dengan total 100 basis poin menjadi 5,75 persen mulai berdampak terhadap biaya dana PT Bank Jago Tbk.
Direktur Finance & Operations, Supranoto Prajogo, mengatakan cost of funding Bank Jago mengalami kenaikan dari 3,5 persen pada Juni 2026 menjadi 3,8 persen pada Agustus 2026 akibat kenaikan suku bunga acuan yang terus terjadi.
"Ini tidak hanya berlaku untuk bank jago saja, tapi keseluruhan industri perbankan di Indonesia," ujar Supranto dalam paparan public secara daring, Kamis (10/9).
Ia pun memperkirakan cost of funding Bank Jago masih memiliki ruang peningkatan hingga akhir tahun apabila BI rate bertahan di level 5,75 persen. Perseroan memproyeksikan cost of funding berada di kisaran 4 hingga 4,1 persen pada akhir 2026.
"Hingga akhir tahun kami mengharapkan peningkatan menjadi sekitar 4 atau 4,1 persen jika kondisi memang stabil seperti saat ini," katanya.
Kendati biaya telah naik selama periode kuartal kedua, Bank Jago mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dana pihak ketiga, ekspansi kredit, dan tingkat profitabilitas.
Bank digital ini membukukan kredit sebesar Rp26,6 triliun pada akhir Juni 2026, meningkat 24 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp21,4 triliun. Seiring dengan itu kualitas penyaluran kredit terjaga dengan baik yang terlihat dari rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross 0,8 persen, lebih rendah dibanding rata-rata NPL perbankan nasional.
Sementara total DPK Bank Jago mencapai Rp27,6 triliun, meningkat 23 persen dari Rp22,4 triliun pada akhir Juni tahun lalu. Pencapaian ini didorong oleh pencapaian 20,1 juta nasabah pada posisi akhir Juni 2026, yang mencakup 14,7 juta nasabah funding pengguna aplikasi Jago.
Namun, pertumbuhan jumlah nasabah mengalami perlambatan karena perseroan melakukan penutupan rekening yang tidak aktif, tidak memerlukan transaksi, dan tidak memiliki saldo selama 365 hari.
"tahun lalu di kuartal keempat kami melakukan penutupan setelah 1,2 juta nasabah, dan di kuartal ke-2 tahun ini kami melakukan penutupan setelah 1,6 juta nasabah," katanya.
Kinerja tersebut mendorong total aset Bank Jago yang mencapai Rp41,4 triliun dan laba bersih mencapai Rp189 miliar per semester I 2026. Perusahaan juga memiliki rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) yang cukup untuk mendukung ekspansi bisnis ke depan, yaitu pada level 28,4 persen.


















