Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
DEN Soroti Risiko Tekanan Rupiah Bila BI Tak Naikkan Suku Bunga
ilustrasi rupiah, mata uang Indonesia (vecteezy.com/Ridwan Saputra)
  • DEN menyoroti risiko tekanan terhadap rupiah jika BI tidak menyesuaikan suku bunga ketika suku bunga acuan global cenderung naik.

  • BI menahan BI Rate di 5,75 persen, sementara The Fed menaikkan suku bunga dana federal menjadi 3,75 persen-4 persen.

  • Rupiah melemah menjadi Rp18.027 per dolar AS dan IHSG anjlok 11,36 persen pada Jumat (16/10).

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
September 2026

The Fed menaikkan suku bunga dana federal sebesar 25 basis poin menjadi 3,75 persen-4 persen.

Jumat (16/10)

Rupiah melemah menjadi Rp18.027 per dolar AS dan IHSG anjlok 11,36 persen. Airlangga Hartarto membenarkan gejolak pasar dipicu pengumuman MSCI.

hari ini

Bank Indonesia memutuskan menahan BI Rate di level 5,75 persen.

Rabu (21/10)

Luthfi Ridho menyampaikan bahwa nilai tukar rupiah berpotensi menyesuaikan apabila suku bunga tidak ikut menyesuaikan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    DEN menyoroti risiko tekanan terhadap nilai tukar rupiah jika BI tidak menyesuaikan suku bunga di tengah kenaikan suku bunga acuan global.
  • Who?
    Dewan Ekonomi Nasional, Bank Indonesia, The Fed, Luthfi Ridho, dan Airlangga Hartarto disebut dalam pembahasan.
  • Where?
    Pernyataan Luthfi Ridho disampaikan dalam diskusi di Jakarta, sementara Airlangga memberikan keterangan di kantornya.
  • When?
    BI menahan suku bunga pada hari ini; The Fed menaikkan suku bunga pada September 2026; rupiah melemah pada Jumat (16/10).
  • Why?
    Tekanan inflasi mendorong sejumlah negara menaikkan suku bunga, sementara selisih suku bunga Indonesia dan Amerika Serikat semakin tipis.
  • How?
    Jika suku bunga Indonesia tidak menyesuaikan, penyesuaian berpotensi terjadi melalui nilai tukar rupiah dan tercermin pada suku bunga obligasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

DEN bilang rupiah bisa tertekan kalau Bank Indonesia tidak menyesuaikan suku bunga. Hari ini BI menahan suku bunga di 5,75 persen, sedangkan The Fed menaikkannya. Rupiah sebelumnya melemah menjadi Rp18.027 per dolar AS dan IHSG turun 11,36 persen. Airlangga mengatakan gejolak pasar dipicu pengumuman MSCI.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menyoroti risiko tekanan terhadap nilai tukar rupiah apabila Bank Indonesia (BI) tidak menyesuaikan suku bunga di tengah kecenderungan kenaikan suku bunga acuan global.

Tenaga Ahli Utama Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luthfi Ridho mengatakan tekanan inflasi telah mendorong sejumlah negara telah menaikkan suku bunga. Sementara itu, apabila Indonesia tidak mengambil langkah serupa, penyesuaian berpotensi terjadi melalui nilai tukar.

Pada hari ini, Bank Indonesia memutuskan untuk menahan suku bunga atau BI Rate di level 5,75 persen. Sementara itu, The Fed menaikkan suku bunga dana federal sebesar 25 basis poin menjadi 3,75 persen-4 persen pada bulan September 2026. “Kalau misalkan suku bunganya tidak menyesuaikan, yang paling umum kita pahami yang menyesuaikan adalah nilai tukar rupiah,” ujarnya dalam diskusi di Jakarta, dikutip Rabu (21/10).

Menurut Luthfi, selisih suku bunga Indonesia dengan negara lain, khususnya Amerika Serikat, perlu dicermati. Terlebih, saat itu terdapat ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS atau The Fed masih akan menaikkan suku bunga satu kali lagi. "Kalau naik satu kali lagi spread-nya akan tipis sekali. Spread yang tipis ini juga nanti akan terlihat di tingkat suku bunga obligasi," katanya.

Luthfi mengingatkan, kondisi pasar obligasi yang relatif bertahan tidak seharusnya membuat pembuat kebijakan lengah. “Jangan sampai kita terlena. Karena ini spread-nya semakin kecil. Dan ini bukan sesuatu yang dalam internal kita itu sesuatu yang stabil,” katanya.

Sebelumnya, nilai rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (16/10) bergerak melemah menjadi Rp18.027 per dolar AS. Sementara itu, indeks harga saham gabungan (IHSG) telah anjlok sebesar 11,36 persen pada hari Jumat.

Pada Jumat lalu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membenarkan gejolak pasar yakni penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) dan Rupiah dipicu oleh pengumuman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). Menurutnya, dinamika pasar keuangan global merespons cepat rilis peninjauan dari lembaga indeks internasional tersebut yang lebih cepat dari prediksi pemerintah.

"Ya pertama tentu ada akibat daripada pengumuman MSCI Tapi pengumuman MSCI itu merupakan suatu hal yang katakanlah lebih cepat daripada ekspektasi yang sebetulnya mereka menjanjikannya di bulan November, tapi ini di Oktober," ujar Airlangga di kantornya, Jumat (16/10).

Curated For You

Editorial Team

Related Article