Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
IMG-20251031-WA0032.jpg
Presiden Prabowo disambut Presiden Republik Korea, Lee Jae Myung saat menghadiri KTT APEC 2025 (dok. Sekretariat Presiden)

Jakarta, FORTUNE - Ekonomi kawasan Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) diperkirakan menguat menjadi 3,1 persen pada 2025, terutama berkat pemulihan aktivitas perdagangan dan meningkatnya permintaan produk berteknologi tinggi. Proyeksi terbaru dalam APEC Regional Trends Analysis yang diterbitkan oleh APEC Policy Support Unit tersebut sedikit lebih tinggi dari estimasi sebelumnya yang berada di level 3,0 persen.

Namun, laporan tersebut memperingatkan bahwa momentum pertumbuhan bisa melambat pada 2026 menjadi 2,9 persen akibat meningkatnya beban utang pemerintah, pelemahan perdagangan global, serta berakhirnya faktor pendorong sementara seperti percepatan pengiriman barang menjelang kebijakan restriktif baru.

Carlos Kuriyama, Direktur APEC Policy Support Unit, menegaskan ketahanan ekonomi dan pelaku usaha di kawasan APEC yang mampu beradaptasi dengan perubahan situasi global.

“Namun ketahanan ini mulai diuji karena pengaruh faktor sementara memudar dan tekanan struktural seperti peningkatan utang dan pelemahan perdagangan mulai terlihat," jelas Kuriyama dalam keterangan resmi, Jumat (31/10). Ia menambahkan bahwa meskipun kebijakan yang mendukung perdagangan semakin banyak, akumulasi kebijakan pembatasan justru menambah gesekan antarnegara.

Pada semester I/2025, kinerja perdagangan barang di APEC masih solid. Nilai ekspor tumbuh 6,5 persen, sedangkan impor meningkat 6,1 persen . Dari sisi volume, ekspor dan impor masing-masing naik 8,8 persen dan 8,5 persen. Glacer Niño A. Vasquez, peneliti Policy Support Unit sekaligus kontributor laporan ini, menilai performa perdagangan tahun 2025 cukup positif, meski sebagian ditopang percepatan ekspor sebelum pembatasan baru diberlakukan. Ia memperkirakan ekspor barang mengalami perlambatan pada 2026 menjadi sekitar 1,1 persen.

Tekanan fiskal juga menjadi sorotan. Pemerintah di kawasan diprediksi mencatat rasio utang bruto terhadap PDB lebih dari 110 persen pada 2026, mencerminkan peningkatan belanja pascapandemi, pemulihan penerimaan negara yang lambat, serta biaya layanan sosial di tengah peningkatan populasi lansia. Rhea C. Hernando, analis Policy Support Unit, menyebut bahwa kondisi tersebut membuat ruang fiskal semakin terbatas.

“Reformasi fiskal dan peningkatan efisiensi belanja publik menjadi semakin penting untuk menjaga daya tahan ekonomi menghadapi guncangan di masa depan," ujarnya.

Inflasi di negara-negara APEC terus mereda dan berada pada level 2,2 persen pada kuartal III/2025, didorong stabilisasi rantai pasok dan harga komoditas yang lebih terkontrol. Dengan inflasi yang turun, bank sentral memiliki ruang untuk mulai melonggarkan kebijakan moneter, meski kehati-hatian tetap diperlukan agar tekanan harga tidak muncul kembali.

Di tengah ketidakpastian dan meningkatnya tensi perdagangan global, laporan ini menekankan pentingnya konsistensi kebijakan dan dialog terbuka. Kuriyama menegaskan perlunya keseimbangan antara stabilitas dan reformasi. “Kerja sama regional yang adaptif sangat penting, dan di sinilah peran vital APEC, menjadi wadah dialog terbuka dan solusi bersama guna menciptakan kerangka kerja yang transparan serta mendorong perdagangan dan investasi," pungkasnya.

Editorial Team