Jakarta, FORTUNE - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersiap menggelar pemesanan massal tabung compressed natural gas (CNG) demi menyokong uji coba pemanfaatan gas bumi pada sektor rumah tangga. Strategi tersebut ditujukan demi memotong rantai ketergantungan terhadap impor LPG 3 kilogram.
Otoritas energi mematok target ambisius: implementasi awal konversi bahan bakar ini harus sudah bergulir di sejumlah kota besar pada tahun ini. Cetak biru program menunjukkan dalam tiga bulan ke depan, proses pemesanan awal (first order) wadah kompresi gas tersebut mestilah terealisasi.
“Dalam 1-2 bulan setelah itu, sudah ada tabung yang bisa kami uji dulu,” kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, saat siniar lewat kanal YouTube Kementerian ESDM, Minggu (17/5).
Ikhtiar ini bakal mengandalkan teknologi tabung CNG tipe 4. Berbahan dasar serat fiber, kemasan anyar ini diklaim jauh lebih ringan dan tangguh ketimbang generasi pendahulunya. Karakteristik tersebut dinilai ramah untuk keperluan domestik lantaran lebih praktis saat dipindahkan oleh masyarakat.
Kendati menawarkan kepraktisan, benturan klasik langsung mengadang: harganya masih selangit. Apalagi, tabung gas alam terkompresi berkapasitas setara LPG 3 kilogram belum jamak beredar di pasar lokal. Selama ini, pasaran domestik baru menyediakan tabung tipe sejenis untuk kapasitas setara LPG 12 kilogram.
Walhasil, pemerintah wajib melempar pesanan dalam skala raksasa agar roda produksi pabrikan bisa berputar demi mencapai nilai keekonomian.
“Minimum order berapa? 100.000-an [tabung],” kata dia.
Laode optimistis proyek ini bakal menjadi terobosan mumpuni. Jika berhasil, Indonesia berpeluang menancapkan taji sebagai negara pertama yang mengadopsi tabung CNG tipe 4 secara besar-besaran untuk hajat hidup rumah tangga.
Denyut pemanfaatan CNG sebetulnya bukan barang baru di Tanah Air. Mesin kendaraan hingga sektor komersial seperti hotel, restoran, dan kafe telah lama memanfaatkannya. Namun, memboyong gas bertekanan tinggi ini ke dapur rakyat jelas membutuhkan penyesuaian habis-habisan, terutama menyangkut standardisasi keselamatan dan transformasi kebiasaan konsumen.
Guna menghindari penolakan umum, aspek keamanan diposisikan sebagai harga mati sebelum program ini dilepas ke pasar luas. Pola sosialisasi intensif siap direplikasi, berkaca pada kesuksesan saat minyak tanah dikonversi ke LPG.
Dari kacamata makroekonomi, kebijakan ini menjanjikan angin segar bagi kesehatan APBN. Maklum, pasokan gas bumi domestik terhitung melimpah ruah dan jauh lebih murah, kontras dengan LPG yang saban tahun menguras devisa akibat impor.
“Subsidi itu berkurang. Tadi bisa 30-40 persen karena proses efisiennya kita CNG ini, yang punya kita sendiri dibanding dengan kita harus impor,” kata dia.
Kendati keran subsidi tidak serta-merta ditutup total, penciutan volume impor elpiji diproyeksikan mampu melonggarkan ruang fiskal negara sekaligus memperkokoh kedaulatan energi nasional.
