Jakarta, FORTUNE - Presiden Prabowo Subianto memiliki optimisme kuat terhadap perekonomian Indonesia, dan itu tecermin pada nilai investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) pada 2025 yang mencapai US$53 miliar. Menurutnya, catatan tersebut dapat dijadikan sinyal bahwa dunia internasional masih percaya pada stabilitas dan prospek perekonomian Indonesia.
Pada sambutannya dalam forum Business Summit yang digelar oleh US Chamber of Commerce di Washington DC, Amerika Serikat, Prabowo menekankan kepercayaan investor tidak datang begitu saja. Ia menilai stabilitas politik, konsistensi kebijakan, serta arah pembangunan ekonomi menjadi fondasi penting yang dilihat para pelaku usaha global.
“Kami sangat beruntung bahwa Indonesia telah menikmati periode stabilitas dan perdamaian yang relatif panjang. Kami melanjutkan kebijakan luar negeri non-blok dan menghormati semua kekuatan besar,” kata Prabowo, Rabu (18/2) waktu setempat, dikutip dari Kantor Berita Antara.
Dia mengatakan sejak awal menjalani masa jabatannya, dia telah berkomitmen menjalankan "good neighbor policy" yang berarti menghindari campur tangan dalam urusan negara lain. Kebijakan yang dulu dicetuskan oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Franklin D. Roosevelt, pada dekade 1930-an itu kini diadaptasi oleh Prabowo dan ditujukan demi memperkuat hubungan dengan negara-negara di kawasan Asia Timur dan Indo-Pasifik.
“1.000 teman terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak,” ujarnya.
Menurutnya, prinsip tersebut penting bukan hanya di panggung geopolitik, tetapi juga dalam dinamika politik domestik dan pembangunan ekonomi.
“Kompetisi itu perlu, tapi setelah kompetisi harus ada kerja sama,” katanya.
Dalam pidatonya, Prabowo menyinggung fundamental ekonomi Indonesia yang masih kuat. Disiplin fiskal dijaga ketat, inflasi berada pada salah satu level terendah secara global, dan pertumbuhan ekonomi stabil di atas 5 persen. Kombinasi faktor-faktor tersebut, menurutnya, membuat Indonesia tetap menarik di mata investor asing.
“Kami mencapai US$53 miliar tahun lalu, dan saya rasa ini mencerminkan kepercayaan nyata terhadap ekonomi kami, potensinya, stabilitas politik kami, serta arah kebijakan kami,” ujarnya.
Meski memamerkan optimisme, Prabowo tidak menutup mata terhadap berbagai persoalan lama yang masih membayangi perekonomian nasional. Ia terang-terangan menyebut masih banyak tantangan, terutama lemahnya tata kelola dan maraknya praktik ekonomi gelap seperti penyelundupan. Selain itu, ada pula penambangan liar, penangkapan ikan takberizin, hingga korporasi yang mengelola perkebunan di kawasan hutan lindung.
Dalam hematnya, semua aktivitas tersebut mengurangi penerimaan negara dalam jumlah sangat besar.
“Saya tidak ingin menyerahkan kedaulatan pemerintah Indonesia kepada kartel-kartel ilegal,” ujarnya.
