Jakarta, FORTUNE - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus Ketua Danantara Rosan Roeslani menyampaikan kelanjutan dari nota kesepahaman yang ditandatangani Pemerintah Indonesia dan Freeport-McMoRan (FCX) terkait perpanjangan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) dari 2041-2061.
Ia menyatakan, Freeport juga berkomitmen untuk melakukan investasi bernilai US$20 miliar dalam 20 tahun ke depan di Indonesia. Investasi ini dinilai dapat memberikan dampak yang positif kepada negara baik dari segi penerimaan pajak dan yang lain-lain.
“Oleh sebab itu, ini tentunya akan ditindaklanjuti sehingga akan menjadi definitive agreement dalam waktu yang tidak lama,” tuturnya dalam konferensi pers secara virtual, Jumat (20/2).
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebutkan bahwa MoU tersebut menjadi salah satu kerja sama dalam pengembangan critical mineral.
Sebagai konteks, dalam IUPK tersebut dijelaskan bahwa PT Freeport Indonesia (PTFI) akan tetap beroperasi hingga seluruh cadangan sumber daya di kawasan mineral Grasberg, Papua Tengah, habis tereksploitasi. Salah satu poin penting dalam kesepakatan itu menyasar skema divestasi pasca 2041. Pada periode tersebut, FCX dijadwalkan mengalihkan 12 persen saham PTFI pada pemerintah Indonesia tanpa biaya.
Namun, terdapat ketentuan khusus bahwa pihak penerima saham wajib mengganti biaya pro-rata investasi yang memberikan nilai ekonomi bagi periode operasional pasca 2041.
Secara komposisi, FCX tetap menguasai 48,76 persen kepemilikan hingga 2041, yang kemudian akan menyusut menjadi 37 persen pada 2042.
Menurut lembar fakta dari laman Gedung Putih, kesepakatan ini diperkirakan akan menghasilkan pendapatan tahunan sebesar $10 miliar dan akan semakin memperkuat rantai pasokan AS untuk critical mineral.
Selain MoU tersebut, Airlangga menyatakan bahwa Indonesia juga telah menandatangani 11 MoU dari segi perdagangan yang merupakan turunan dari kesepakatan reciprocal trade, dari sisi pembelian energi, pertanian, hingga teknologi, yang nilainya mencapai US$38,4 miliar.
