Jakarta, FORTUNE - Harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) melonjak hingga 26,14 persen dalam sebulan terakhir, seiring dengan eskalasi konflik timur tengah yang masih membayangi.
Pemerintah menetapkan ICP September 2026 sebesar US$112,81 per barel, naik dibandingkan Agustus 2026 yang berada di level US$89,43 per barel.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman mengatakan eskalasi konflik militer dan kebuntuan diplomasi di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran, meningkatkan risiko keamanan pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital ekspor minyak dunia.
Akibatnya, ekspor minyak mentah melalui rute vital tersebut sempat mengalami penurunan hingga 28 persen dibandingkan Juli. Kondisi ini diperkuat oleh serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan tersebut, termasuk penutupan sementara Pipa East-West Arab Saudi berkapasitas 7 juta barel per hari akibat serangan drone sebagai langkah pencegahan.
"Rata-rata ICP periode September 2026 yang naik menjadi US$112,81 per barel merupakan cerminan dinamika pasar minyak global yang dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian geopolitik dan meningkatnya risiko gangguan pasokan (supply disruption risk)," ujar Laode di Jakarta, Selasa (13/10).
Di sisi lain, penundaan kuota produksi oleh OPEC+ serta serangan lanjutan terhadap infrastruktur kilang dan terminal ekspor minyak di Rusia dan kawasan Laut Merah turut memperketat pasokan minyak mentah global.
"Kenaikan ini terjadi secara menyeluruh pada seluruh benchmark internasional," ujarnya menambahkan.
Berikut perbandingan ICP Agustus 2026:
Brent (ICE) naik US$13,94 menjadi US$102,02 per barel.
WTI (Nymex) naik US$13,24 menjadi US$95,69 per barel.
Dated Brent naik US$25,93 menjadi US$116,77 per barel.
Basket OPEC naik US$24,29 menjadi US$110,73 per barel.
Kenaikan ICP juga diproyeksikan masih terus berlangsung hingga bulan depan. Menurut Laode harganya akan berada di level US$98-103 per barel. Ia memastikan pergerakan harga terus dipantau secara cermat untuk menjaga ketahanan energi nasional.
"Kami memastikan formula ICP tetap transparan mencerminkan dinamika pasar internasional agar tetap akuntabel bagi keuangan negara dan kegiatan usaha hulu migas," ujarnya.
