Jakarta, FORTUNE - Ryan (28), pengemudi ojol di Jakarta, masih mengingat jelas suara benturan keras di depan matanya. “Yang di depan saya telat ngerem, motor lawan arah sudah dekat, lalu jatuh keras,” tuturnya. Ia menepi, menolong, dan mencoba menenangkan korban. “Tapi saya bingung harus mulai dari mana. Saya sadar, kalau tahu pertolongan pertama, mungkin bisa bantu lebih cepat.”
Kisah Ryan mencerminkan potret keseharian jalanan ibu kota: padat, berisiko, dan kerap tak memberi waktu untuk berpikir panjang. Di balik geliat ekonomi digital yang ditopang pengemudi ojek online di Indonesia, tersimpan persoalan keselamatan kerja yang sering luput dari perhatian, termasuk minimnya keterampilan pertolongan pertama di kalangan pengemudi.
Data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan mencatat jumlah pengemudi ojek online (ojol) yang menjadi peserta aktif sudah mencapai 300.000 orang per 31 Agustus 2025. Sementara, data Polda Metro Jaya menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2024 terjadi 12.555 kasus kecelakaan lalu lintas di wilayah Jakarta, naik dari 11.629 kasus pada tahun sebelumnya. Sebanyak 677 orang meninggal dunia, mayoritas merupakan pengendara roda dua di usia produktif antara 21–30 tahun.
Kecelakaan lalu lintas di Jakarta bukan sekadar urusan keselamatan publik, tapi juga beban ekonomi yang kian nyata. Angka kecelakaan juga bukan sekadar statistik lalu lintas, di baliknya ada kehilangan jam kerja, pendapatan, hingga biaya sosial yang membebani keluarga dan sistem kesehatan. Berdasarkan kajian Institute for Road Safety and Transport Policy (2023), kerugian ekonomi akibat kecelakaan lalu lintas di wilayah metropolitan seperti Jakarta mencapai 2–3 persen dari PDB daerah per tahun, setara dengan triliunan rupiah yang hilang dari produktivitas.
“Bukan hanya tragedi kemanusiaan, tetapi juga kerugian ekonomi. Satu pengemudi yang cedera atau kecelakaan berarti satu keluarga kehilangan penghasilan harian," ujar Sarjono, Kepala Seksi Diklat Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Jakarta Utara yang juga pelatih pertolongan pertama, dalam kegiatan First Aid Training yang digelar Betadine berkolaborasi dengan PMI Kota Jakarta Utara dalam rangka memperingati World First Aid Day 2025, Sabtu (8/11).
Kegiatan berfokus pada pelatihan sederhana namun vital. Mulai dari langkah tepat penanganan luka ringan hingga tindakan darurat dasar, seperti menilai kondisi korban, mengamankan lokasi kejadian, serta menerapkan langkah dasar Resusitasi Jantung Paru (RJP) sambil menunggu petugas medis tiba. Semua dipratikkan dengan cara yang aman dan mudah dipahami, peserta juga diuji hingga lulus dan mendapat surat keterangan.
“Yang penting, amankan diri sendiri dulu sebelum menolong. Penolong juga harus selamat. Ojol juga ujung tombak keselamatan di jalan. Kesadaran diri dulu yang harus dibangun, baru lingkungan mereka. Saya bahkan tawarkan pelatihan gratis kapan pun mereka mau datang," ujar Sarjono.
Pelatihan yang diadakan di Jakarta ini tak hanya melibatkan komunitas ojek online (ojol), tapi juga kelompok PKK, jurnalis, dan berbagai peserta dari berbagai latar belakang. Menurut Sarjono, kondisi darurat bisa terjadi di mana saja termasuk lingkungan rumah dan orang terdekat, serta di lingkungan kerja. Maka ia menyarankan, idealnya sebuah perusahaan mengadakan pelatihan pertolongan pertama dua tahun sekali.
