Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
0521c27a-383f-43a3-877b-23414335ebdc.jpeg
Tahun 2025 menandai Golden Jubilee ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE), forum kerja sama sektor energi regional yang beranggotakan 10 perusahaan migas nasional dan otoritas energi negara ASEAN. (Dok. Pertamina)

Intinya sih...

  • Lifting minyak bumi pada 2025 sedikit di atas target APBN 2025.

  • Realisasi lifting gas pada 2025 rata-rata 951,8 ribu barel setara minyak per hari.

  • Realisasi Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) migas sepanjang 2025 hanya mencapai Rp105,4 triliun.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Kinerja sektor minyak dan gas bumi (migas) Indonesia sepanjang 2025 menghadirkan ironi. Di satu sisi, produksi atau lifting minyak mentah berhasil menembus target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Namun, kontribusi pendapatan negara dari sektor ini justru belum sesuai harapan akibat tekanan harga minyak global.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan lifting minyak bumi tahun lalu mencapai rata-rata 605.300 barel per hari (bph), sedikit di atas patokan 605.000 bph pada APBN 2025.

“Kalau kita melihat target APBN kita 10 tahun terakhir di lifting itu enggak pernah tercapai. Alhamdulillah kali ini kita tercapai,” ujar Bahlil dalam acara konferensi pers di kantor Kementerian ESDM, Kamis (8/1).

Capaian tersebut juga menjadi torehan penting karena merupakan kenaikan pertama dalam sembilan tahun terakhir.

Secara bulanan, kinerja lifting minyak sepanjang 2025 bergerak fluktuatif.

Pada Januari, lifting mencapai 548,0 ribu barel per hari (MBOPD), lalu meningkat menjadi 599,3 MBOPD pada Februari dan 638,3 MBOPD pada bulan berikutnya.

Produksi sempat melemah pada April ke level 582,7 MBOPD, sebelum kembali menguat pada Mei dan melonjak signifikan pada Juni hingga 649,8 MBOPD.

Memasuki semester kedua, lifting kembali turun pada Juli menjadi 583,4 MBOPD, lalu naik pada Agustus dan September masing-masing 619,9 MBOPD dan 624,6 MBOPD.

Penurunan tajam terjadi pada Oktober dengan realisasi 567,0 MBOPD, tapi kondisi berbalik pada November dan mencapai puncak tahunan pada Desember sebesar 652,9 MBOPD.

Pun begitu, capaian positif tersebut tidak sepenuhnya terjadi pada subsektor gas bumi. Realisasi lifting gas pada 2025 mencapai rata-rata 951,8 ribu barel setara minyak per hari (MBOEPD), masih di bawah target APBN yang dipatok 1.005 ribu MBOEPD.

Meski demikian, Bahlil menekankan keberhasilan pemerintah menjaga ketahanan energi nasional.

Sepanjang 2025, Indonesia tidak melakukan impor Liquefied Natural Gas (LNG), meskipun pada awal tahun sempat merencanakan impor sekitar 40 kargo.

Dari total produksi gas bumi sebesar 5.600 BBtud, sekitar 31 persen diekspor, sementara 69 persen dialokasikan untuk kebutuhan domestik.

Dari porsi domestik tersebut, 37 persen digunakan untuk mendukung program hilirisasi.

Di balik perolehan lifting minyak, kontribusi sektor migas terhadap pendapatan negara justru belum optimal.

Realisasi Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) migas sepanjang 2025 hanya mencapai Rp105,4 triliun, atau sekitar 83 persen dari target Rp125 triliun pada APBN.

Melesetnya target PNBP, kata Bahlil, disebabkan oleh asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) dalam APBN yang tidak tercapai.

“Asumsi di APBN, ICP itu US$82 per barel, tapi riilnya US$68 per barel. Lifting kita tercapai tapi harganya memang lagi turun,” ujarnya.

Menurut dia, tekanan harga tidak hanya terjadi pada minyak mentah, tetapi juga pada berbagai komoditas lainnya.

 

 

Editorial Team