Pertamina EP Pastikan Aset Migas di Venezuela Aman dari Serangan AS

- Pertamina EP memastikan aset migas di Venezuela aman dari serangan AS
- PIEP memiliki 71,09% kepemilikan di Maurel & Prom (M&P) yang memiliki portofolio di Venezuela
- Situasi terkendali, namun PIEP tetap meningkatkan kewaspadaan dan koordinasi dengan KBRI Caracas
Jakarta, FORTUNE - PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP) memastikan aset minyak yang dimiliki melalui Maurel & Prom (M&P) di Venezuela tidak terdampak serangan Amerika Serikat.
PIEP merupakan pemegang saham mayoritas dengan kepemilikan sebesar 71,09 persen pada Maurel & Prom (M&P), yang salah satu portofolio asetnya berada di Venezuela.
"Sehubungan dengan perkembangan situasi terkini, berdasarkan pemantauan yang dilakukan, hingga saat ini tidak terdapat dampak terhadap aset dan staf M&P di Venezuela," kata Dhaneswari Retnowardhani, Manager Relations PIEP kepada Fortune Indonesia, Senin (5/1).
Meski situasi dinilai masih terkendali, PIEP menyatakan tetap meningkatkan kewaspadaan dengan memantau perkembangan secara berkala serta menjalin koordinasi intensif dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Caracas untuk memastikan keberlanjutan operasional dan aspek keselamatan.
Saat ini Pertamina memiliki aset migas yang tersebar di 11 negara, yakni Aljazair, Malaysia, Irak, Prancis, Italia, Tanzania, Gabon, Nigeria, Kolombia, Angola, dan Venezuela.
Pada 3 Januari 2026, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melancarkan serangan udara ke Caracas, ibu kota Venezuela. Berdasarkan data sementara, New York Times melaporkan serangan ini menewaskan sekitar 80 orang.
Tak lama setelah operasi tersebut, Trump mengumumkan pasukan khusus AS telah menangkap Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Dalam pernyataan di Mar-a-Lago yang dikutip BBC, Trump menyatakan rencananya mengambil alih kendali Venezuela dan melibatkan perusahaan minyak besar AS untuk memperbaiki fasilitas migas yang rusak.
Serangan ini bukan hanya memakan korban jiwa, namun juga menekan sektor energi. Data Al Jazeera menunjukkan ekspor minyak negara itu anjlok dari rata-rata 950.000 barel per hari pada November menjadi sekitar 500.000 barel per hari pada bulan berikutnya, seiring pemblokiran tanker oleh Amerika Serikat.

















