Agrinas Impor Mobil 105 Ribu Unit, Apa Dampaknya?

Agrinas mengimpor 105.000 kendaraan niaga dari India senilai Rp24,66 triliun.
Gaikindo dan Kadin meminta pembatalan karena dinilai menekan industri domestik.
Celios memperkirakan potensi dampak terhadap PDB hingga Rp39 triliun dan risiko 330.000 pekerjaan.
Jakarta, FORTUNE — Rencana Agrinas impor mobil sebanyak 105.000 unit kendaraan niaga dari India untuk operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) memicu penolakan dari pelaku industri dan asosiasi usaha.
Pengadaan senilai Rp24,66 triliun itu dinilai berisiko menekan industri otomotif domestik yang kapasitas produksinya belum terserap optimal.
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meminta pemerintah meninjau ulang kebijakan tersebut.
Di sisi lain, manajemen PT Agrinas Pangan Nusantara menyatakan impor dilakukan dengan pertimbangan harga, spesifikasi kendaraan 4x4, dan efisiensi anggaran program.
Skema dan nilai kontrak impor
PT Agrinas Pangan Nusantara mengontrak dua produsen otomotif India untuk memasok total 105.000 unit kendaraan. Rinciannya terdiri dari 35.000 unit pikap Mahindra Scorpio, 35.000 unit pikap Tata Yodha, serta 35.000 unit truk Tata Ultra T.7.
Pengiriman dilakukan bertahap sepanjang 2026, dengan tahap awal 200 unit Mahindra telah tiba dan ditargetkan 1.000 unit masuk hingga akhir Februari 2026.
Impor ini ditujukan untuk mendukung distribusi logistik hasil pertanian dan kebutuhan operasional koperasi desa. Direktur Utama Agrinas Pangan Nusantara Joao Angelo De Sousa Mota menjelaskan kebutuhan kendaraan penggerak empat roda untuk medan berat.
“Kenapa kita perlu 4x4? Karena memang kita perlu untuk digunakan di daerah-daerah yang kondisi lahannya memang sangat menantang. Dan hampir di semua baik di Jawa pun kalau untuk ke sawah-sawah, itu lahannya sangat menantang, sehingga kita perlu mobil 4x4,” ujar Joao ditemui di kantornya, Jakarta, Jumat (20/2).
Joao juga menyebut faktor harga menjadi pertimbangan utama. “Kami memesan dengan harga yang sangat kompetitif atau hampir 50 persen lebih murah dari kompetitornya. Dari sisi durability, power, dan fuel consumption, kendaraan ini sangat andal dan sangat bagus,” ujarnya.
“Kalau kita menggunakan e-katalog (pengadaan dalam negeri), itu cost-nya sudah kami hitung sekitar Rp121 triliun. Tetapi dengan kami menggunakan direct buying kepada perusahaan-perusahaan pabrik-pabrik langsung, kita bisa mengefisiensikan sekitar Rp43 triliun, itu hanya untuk sarana-prasarana,” tambah Joao.
Protes Gaikindo dan Kadin
Keputusan Agrinas impor mobil memicu keberatan dari Gaikindo. Ketua Umum Gaikindo Putu Juli Ardika menyatakan industri nasional memiliki kapasitas memadai untuk memenuhi kebutuhan kendaraan komersial ringan.
“Anggota Gaikindo dan industri pendukungnya punya kapasitas untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Namun, memang diperlukan waktu memadai agar jumlah dan kriteria kendaraan bisa dipenuhi,” ujar Putu Juli dalam keterangannya, Jumat (20/2).
Data Gaikindo menunjukkan kapasitas perakitan pikap domestik melampaui 400.000 unit per tahun. Sepanjang 2025, produksi pikap mencapai 106.117 unit dengan wholesales 107.008 unit dan retail sales 110.574 unit. Tingkat komponen dalam negeri (TKDN) untuk model 4x2 telah melampaui 40 persen, dengan jaringan layanan purnajual tersebar di berbagai daerah.
Kadin Indonesia juga meminta pembatalan impor. Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Industri Saleh Husin mengatakan, “Kami mengimbau presiden agar membatalkan rencana impor 105.000 unit kendaraan niaga.” Ia menegaskan, “Mengimpor mobil CBU sama saja dengan membunuh industri otomotif yang sedang tumbuh.”
Proyeksi dampak ekonomi
Center of Economic and Law Studies (Celios) memperkirakan impor kendaraan secara utuh (CBU) berpotensi menekan produk domestik bruto (PDB) hingga Rp39 triliun dan mengancam sekitar 330.000 lapangan kerja di sektor otomotif dan rantai pasoknya.
“Industri otomotif sedang dalam fase kontraksi. Semua pengadaan, termasuk pikap untuk koperasi, seharusnya fokus pada industri otomotif lokal yang sudah memenuhi tingkat komponen dalam negeri (TKDN) hingga menyerap tenaga kerja,” ujar Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira Adinegara, Minggu (22/2).
Bhima juga mengingatkan, “Banyak pabrik mungkin berpikir lebih baik jadi importir saja. Dampak bergandanya ke industri dalam negeri pun hilang.” Ia menilai pengadaan massal yang tidak melibatkan manufaktur lokal berisiko mengurangi daya tarik investasi sektor otomotif.
Sementara itu, manajemen Agrinas menyatakan langkah impor tidak melanggar regulasi yang berlaku dan dilakukan untuk efisiensi penggunaan anggaran negara. Perusahaan juga menyebut dalam kontrak terdapat rencana perakitan (assembly) dan pengembangan layanan purnajual di Indonesia.
Program pengadaan ini terkait target pembangunan 80.000 koperasi, dengan 30.000 unit ditargetkan terealisasi pada pertengahan 2026. Kendaraan akan digunakan untuk distribusi komoditas dan operasional logistik di berbagai wilayah.
FAQ seputar Agrinas impor mobil
| Berapa jumlah kendaraan dalam rencana Agrinas impor mobil? | Sebanyak 105.000 unit pikap dan truk dari Mahindra dan Tata Motors. |
| Berapa nilai potensi dampak ekonomi? | Celios memperkirakan potensi penurunan PDB hingga sekitar Rp39 triliun. |
| Apa alasan Agrinas memilih impor dari India? | Perusahaan menyebut faktor harga lebih kompetitif, spesifikasi 4x4, dan efisiensi anggaran. |


















