Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Profil PT Xacti Indonesia, Tutup Pabrik dan PHK 350 Karyawan

Profil PT Xacti Indonesia, Tutup Pabrik dan PHK 350 Karyawan
Ilustrasi pekerja pabrik (pexels.com/Cọ Sơn Thanh Bình)
Intinya Sih

  • PT Xacti Indonesia resmi menutup operasional pabrik di Depok dan melakukan PHK terhadap sekitar 350 karyawan akibat tekanan ekonomi global.

  • Perusahaan manufaktur elektronik ini berdiri sejak 1991, memproduksi kamera dan komponen digital untuk pasar ekspor.

  • Penyebab utama penutupan meliputi lonjakan harga energi, pelemahan rupiah, dan biaya produksi tinggi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, FORTUNE – PT Xacti Indonesia dikabarkan akan menutup perasional perusahaan di Depok, Jawa Barat, serta melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 350 karyawan. Setelah kabar tersebut, profil PT Xacti Indonesia mulai menjadi sorotan.

Kabar penutupan pabrik dan PHK PT Xacti Indonesia disampaikan oleh Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sekaligus Presiden Buruh, Said Iqbal.

“Benar telah terjadi PHK sekitar 350 orang karyawan PT Xacti Indonesia yang berlokasi di Depok dan perusahaan total tutup operasional,” ujar Said.

Menurutnya, penyebab utama perusahaan manufaktur elektronik tersebut terpaksa gulung tikar dipicu oleh tekanan ekonomi global. Tensi Konflik di Timur Tengah yang belum mereda mendorong lonjakan harga energi dan biaya produksi.

Table of Content

Profil PT Xacti Indonesia

Profil PT Xacti Indonesia

PT Xacti Indonesia adalah perusahaan manufaktur elektronik yang berfokus pada produksi kamera untuk pasar ekspor. Perusahaan ini berlokasi di Sukamaju Baru, Kecamatan Tapos, Kota Depok, Jawa Barat.

Perusahaan didirikan pada 1991 dan awalnya merupakan bagian dari Grup Sanyo asal Jepang yang memiliki berbagai lini bisnis di Indonesia. Setelah restrukturisasi kepemilikan saham Sanyo pada 2013, perusahaan berganti nama menjadi PT Xacti Indonesia.

Sebelum menghentikan seluruh kegiatan operasionalnya, PT Xacti Indonesia dipimpin oleh Yoshikiyo Morikawa yang menjabat sebagai President PT Xacti Indonesia (PXI) sekaligus Head of Production Division Xacti Corporation.

PT Xacti Indonesia merupakan anak usaha Xacti Corporation, perusahaan teknologi dan manufaktur yang berdiri sejak 1976. Induk usaha tersebut berkantor pusat di Osaka dan Tokyo, Jepang, serta mengembangkan berbagai produk dan solusi teknologi untuk pasar global.

Produk PT Xacti Indonesia

Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur teknologi, PT Xacti Indonesia berfokus pada produksi perangkat pencitraan digital (digital imaging), komponen elektronik, dan papan sirkuit cetak atau printed circuit board (PCB).

Selama lebih dari tiga dekade, perusahaan ini mengembangkan berbagai solusi pencitraan digital yang telah mengantongi sejumlah sertifikasi internasional, seperti ISO 9001, ISO 14001, dan IATF 16949. Produk yang dihasilkan dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri maupun ekspor.

Selain menjalankan bisnis inti di sektor manufaktur elektronik, PT Xacti Indonesia juga sempat berupaya memperluas portofolio usahanya. Pada Januari 2023, perusahaan menjalin kerja sama dengan V2 untuk mengembangkan perangkat keras LED dan videotron buatan lokal.

Alasan penutupan PT Xacti Indonesia

Presiden KSPI Said Iqbal menilai penutupan operasional PT Xacti Indonesia tidak terlepas dari tekanan ekonomi global dan domestik yang memengaruhi daya saing industri manufaktur.

“Alasan penutupan perusahaan karena perang Iran dan AS-Israel yang tidak ada kepastian kapan berakhir, sehingga melambungkan harga BBM. Ketika harga BBM naik maka ongkos produksi naik. Ini (PT Xacti Indonesia) bukan efisiensi, tapi perusahaan ditutup karena tidak mampu bersaing,” kata Said.

Selain faktor global, Said juga menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah yang turut membebani operasional perusahaan. Menurutnya, ketergantungan terhadap bahan baku impor membuat biaya produksi meningkat ketika nilai tukar dolar AS menguat.

“Perusahaan juga terdampak dari pelemahan rupiah karena bahan baku impor kan membelinya pakai dolar, jadi meningkat ongkos produksinya, karena transaksi merek di Indonesia kan dalam bentuk rupiah,” ujarnya.

Penutupan PT Xacti Indonesia menambah daftar perusahaan yang menghadapi tantangan berat di sektor manufaktur. Selain berdampak pada aktivitas bisnis, penghentian operasional perusahaan juga membawa konsekuensi sosial dan ekonomi bagi ratusan pekerja yang terdampak PHK.

Pekerja yang terkena PHK telah mendapatkan haknya

Di tengah penutupan operasional perusahaan, Said Iqbal memastikan para karyawan PT Xacti Indonesia yang terdampak PHK telah menerima hak-haknya Menurutnya, pekerja yang terkena PHK mendapatkan pesangon sebesar dua kali ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan.

“Para pekerja yang di-PHK mendapatkan pesangon dua kali aturan UU Ketenagakerjaan. Misalnya masa kerja satu tahun mendapat satu bulan upah, maka dikali dua. Maksimal masa kerja delapan tahun ke atas mendapat sembilan bulan upah dikali dua,” ujar Said.

Selain pesangon, karyawan yang terdampak PHK juga menerima uang penghargaan masa kerja, uang pisah, serta penggantian hak lainnya.

Pemberian kompensasi tersebut merupakan hasil kesepakatan antara serikat pekerja dan manajemen perusahaan guna memastikan hak-hak pekerja tetap terpenuhi setelah berakhirnya hubungan kerja.

FAQ seputar profil PT Xacti Indonesia

PT Xacti Indonesia bergerak di bidang apa?

Perusahaan manufaktur ini bergerak di bidang produksi peralatan listrik dan elektronik, khususnya perangkat pencitraan digital.

Siapa perusahaan induk dari PT Xacti Indonesia?

PT Xacti Indonesia merupakan anak cabang atau afiliasi dari Xacti Corporation, sebuah perusahaan manufaktur yang berbasis di Jepang.

Bagaimana status operasional PT Xacti Indonesia saat ini?

Perusahaan ini dikabarkan menutup operasionalnya di Depok dan melakukan PHK terhadap sekitar 350 karyawannya.

Share Article
Topics
Editorial Team
Ana Widiawati
EditorAna Widiawati

Related Articles

See More