Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Rupiah Melemah, Emiten Pizza Hut Fokus Efisiensi dan Rem Ekspansi

Rupiah Melemah, Emiten Pizza Hut Fokus Efisiensi dan Rem Ekspansi
Gerai Pizza Hut Ristorante di Metro Pondok Indah 2. (dok. Sarimelati Kencana Tbk)
Intinya Sih
  • PT Sarimelati Kencana Tbk (PZZA) fokus pada efisiensi dan penguatan fundamental bisnis akibat pelemahan rupiah yang menekan struktur biaya, terutama karena ketergantungan bahan baku impor.
  • Perusahaan menerapkan strategi mitigasi seperti mengurangi eksposur dolar AS, menekan belanja modal, menunda ekspansi, serta memperkuat efisiensi operasional di seluruh lini bisnis.
  • PZZA mengalokasikan capex Rp100 miliar untuk renovasi 60–70 gerai tertunda pandemi dan hanya membuka lima outlet baru di lokasi potensial secara selektif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, FORTUNE - PT Sarimelati Kencana Tbk (PZZA), pemegang lisensi Pizza Hut di Indonesia, fokus pada strategi efisiensi dan penguatan fundamental bisnis di tengah tekanan pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Pada perdagangan Jumat (29/5), nilai tukar rupiah ditutup melemah 35 poin atau 0,20 persen di posisi Rp17.880 per dolar AS.

Pelemahan nilai mata uang Garuda dinilai berdampak langsung terhadap struktur biaya perusahaan. Apalagi, industri makanan dan minuman nasional masih banyak bergantung pada bahan baku impor maupun komponen lokal yang diimpor, seperti tepung terigu.

Chief Financial Officer (CFO) Sarimelati Kencana, Jeo Sasanto mengatakan, tekanan kurs membuat perusahaan harus lebih selektif dalam mengelola ekspansi dan pengeluaran modal. Sejumlah langkah mitigasi dilakukan, mulai dari mengurangi eksposur dolar AS, menekan belanja modal (capex), menunda ekspansi, hingga memperkuat efisiensi operasional di seluruh lini bisnis.

“Kamimengurangi eksposur terhadap dolar, baik dari sisi bahan baku maupun pembelian kapasitas. Setiap ada krisis, strategi utama kami adalah menekan ekspansi terlebih dahulu agar pengeluaran dana tidak terlalu besar, sementara efisiensi tetap berjalan secara konsisten,” ujarnya kepada Fortune Indonesia.

Strategi berikutnya, perusahaaan menjaga simpanan dolar dan mengelola inventory secara lebih hati-hati, seperti dengan menambah stok untuk mengantisipasi risiko.

“Kami juga meminimalkan eksposur yang besar-besar. Dampaknya memang tidak bisa dihindari sepenuhnya, tapi setidaknya bisa diperkecil,” ujarnya.

Selain pelemahan rupiah, dia juga mengatakan daya beli yang sepenuhnya pulih pertumbuhan penjualan yang masih terbatas menjadi tantangan lain perusahaan.

PZZA menganggarkan belanja modal (capex) Rp100 miliar sepanjang tahun ini. Capex tersebut akan leboh banyak difokuskan untuk memperkuat kualitas jaringan gerai melalui renovasi outlet.

Santo mengatakan, perusahaan akan lebih berfokus merenovasi gerai dibanding ekspansi agresif pembukaan toko baru. Dana tersebut sebagian besar akan digunakan untuk renovasi 60-70 outlet yang sebelumnya sempat tertunda selama pandemi Covid-19. Meski begitu, hingga akhir tahun perusahaan juga menargetkan pembukaan lima outlet baru di lokasi dipilih secara selektif dan di daerah yang dinilai potensial.

“Kami hanya akan buka di daerah-daerah yang potensial. Tahun ini lebih banyak fokus renovasi karena saat Covid banyak yang tertunda,” ujarnya kepada Fortune Indonesia, Rabu (20/5).

Share Article
Topics
Editorial Team
Ekarina .
EditorEkarina .

Related Articles

See More