Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

AI hingga Live Shopping Dorong Omzet Bisnis Kopi Hingga 60%

AI hingga Live Shopping Dorong Omzet Bisnis Kopi Hingga 60%
ilustrasi memanen biji kopi (pexels.com/1500m Coffee)
Intinya Sih
  • Pemanfaatan teknologi digital seperti AI, konten video, dan fitur LIVE Shopping membantu Sakha Coffee Roastery memperluas pasar serta meningkatkan penjualan hingga 60 persen melalui kampanye #BeliLokal.
  • Sakha Coffee memanfaatkan Tokopedia dan TikTok Shop sebagai kanal utama penjualan daring yang kini menyumbang sekitar 40 persen omzet, sekaligus memperkuat hubungan dengan konsumen lewat konten edukatif.
  • Pertumbuhan bisnis mendorong ekspansi tim dari lima menjadi lebih dari seratus orang serta kemitraan dengan petani kopi di berbagai daerah Indonesia untuk memperluas distribusi kopi lokal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, FORTUNE - Di balik secangkir kopi yang dinikmati setiap hari, tersimpan perjalanan panjang dari kebun-kebun kopi di berbagai daerah Indonesia hingga sampai ke tangan konsumen. Kini, perjalanan tersebut tidak hanya ditopang oleh kualitas biji kopi, tetapi juga oleh pemanfaatan teknologi digital, mulai dari kecerdasan buatan (AI), konten digital, hingga fitur LIVE Shopping yang membantu pelaku usaha menjangkau pasar lebih luas.

Salah satu pelaku usaha yang merasakan dampaknya adalah Sakha Coffee Roastery. Melalui ekosistem Tokopedia dan TikTok Shop, perusahaan kopi asal Bekasi tersebut berhasil memperluas pasar kopi nusantara sekaligus mencatatkan lonjakan penjualan hingga 60 persen saat mengikuti kampanye #BeliLokal.

Sakha Coffee didirikan pada 2018 berangkat dari pengalaman pendirinya yang pernah bekerja di sebuah roastery internasional. Pengalaman tersebut menumbuhkan keyakinan bahwa kopi Indonesia memiliki kualitas yang mampu bersaing dengan produk dari berbagai negara. Berbekal kedekatan dengan petani kopi di Aceh, perusahaan kemudian membangun bisnis yang berfokus menghadirkan kopi origin Indonesia berkualitas agar lebih mudah diakses masyarakat.

Dalam perjalanannya, Sakha Coffee menghadapi berbagai tantangan, mulai dari fluktuasi nilai tukar yang memengaruhi harga bahan baku, kenaikan biaya kemasan, hingga perubahan iklim yang berdampak pada hasil panen. Di sisi lain, meningkatnya jumlah merek kopi lokal juga membuat persaingan semakin ketat. Namun, perusahaan memandang bertambahnya jumlah roastery lokal bukan sebagai ancaman, melainkan peluang untuk bersama-sama memperkuat industri kopi Indonesia.

Perubahan perilaku konsumen menjadi titik balik bagi perkembangan bisnis Sakha Coffee. Seiring meningkatnya tren home brewing dan konsumsi kopi di rumah, masyarakat semakin mengandalkan konten digital sebagai referensi sebelum menentukan produk yang akan dibeli.

Sejak awal berdiri, Sakha Coffee telah memanfaatkan Tokopedia dan TikTok Shop sebagai kanal penjualan daring. Saat ini, sekitar 40 persen dari total penjualan perusahaan berasal dari kedua platform tersebut sehingga menjadi salah satu saluran distribusi utama.

Pemanfaatan teknologi juga mengubah cara perusahaan membangun hubungan dengan pelanggan. Melalui video pendek, fitur LIVE Shopping, kolaborasi dengan kreator, hingga dukungan teknologi AI yang membantu menghadirkan konten lebih relevan, konsumen tidak hanya membeli kopi, tetapi juga mengenal asal-usul setiap origin, metode penyeduhan, hingga karakter cita rasa yang ditawarkan.

"Kami bisa menceritakan asal-usul setiap kopi kepada konsumen melalui konten dan LIVE Shopping. Ketika orang memahami cerita di balik produknya, mereka tidak hanya membeli kopi, tetapi juga menghargai perjalanan di baliknya," ujar Teuku Andi Nova Reza, Pendiri Sakha Coffee Roastery, dalam keterangan pers, Rabu (15/7).

Menariknya, sesi LIVE Shopping tidak hanya menarik konsumen ritel, tetapi juga pelaku usaha seperti pemilik kedai kopi yang membeli produk untuk memenuhi kebutuhan bisnis mereka. Dengan demikian, konten digital kini tidak hanya menjadi sarana promosi, tetapi juga membuka peluang transaksi antarpelaku usaha.

Salah satu pencapaian terbesar menurutnya terjadi saat mengikuti program #BeliLokal Tokopedia dan TikTok Shop. Selama kampanye berlangsung, penjualan Sakha Coffee meningkat hingga 60 persen. Selain itu, peluncuran eksklusif kopi Excelsa asal Sumedang. Varietas yang hanya menyumbang sekitar 2 persen dari produksi kopi dunia tersebut berhasil terjual habis sekaligus memperkenalkan salah satu kekayaan kopi Indonesia kepada lebih banyak konsumen.

Pertumbuhan bisnis tersebut juga berdampak pada penciptaan lapangan kerja. Dari yang semula hanya memiliki lima orang anggota tim kini berkembang menjadi lebih dari 100 orang, mencakup tenaga di bagian operasional kantor, produksi, pengemasan, hingga host LIVE Shopping. Selain itu, perusahaan bermitra dengan petani kopi dari berbagai daerah, seperti Mandailing, Karo, Lampung, Jawa Barat, Temanggung, Ijen, Flores, Bali, Toraja, hingga Papua sehingga semakin banyak hasil panen kopi nusantara yang dapat dipasarkan ke seluruh Indonesia.

"Bagi kami, ketika masyarakat memilih kopi lokal, mereka bukan hanya membeli sebuah produk. Mereka juga ikut mendukung petani kopi Indonesia, membuka peluang kerja, dan mendorong semakin banyak pelaku usaha lokal untuk terus berkembang. Itulah dampak yang paling kami syukuri," ujarnya, menambahkan.

Senior Director Tokopedia and TikTok Shop Indonesia, Vonny Ernita Susamto, mengatakan hingga kuartal I 2026, program #BeliLokal telah mendukung lebih dari 20.000 penjual lokal pilihan. Jumlah pelaku usaha yang bergabung meningkat 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sedangkan jumlah listing produk Buatan Indonesia tumbuh 44 persen hingga mendekati 2 juta produk. Pertumbuhan tersebut mencerminkan meningkatnya minat masyarakat terhadap produk lokal, serta bagaimana ekosistem digital dapat membantu produk lokal berkembang sekaligus memperkuat rantai pasok dalam negeri.

Sebagai bagian dari upaya memperkuat daya saing UMKM, Tokopedia dan TikTok Shop juga menghadirkan berbagai program peningkatan kapasitas pelaku usaha. Sejak 2024, program Waktunya STARt Go Digital telah melatih lebih dari 4.800 UMKM, kreator, dan afiliator, dengan lebih dari 77 persen peserta berasal dari luar Jabodetabek.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More