Benefit Kesehatan bagi Karyawan Tambang Tertinggi di Indonesia, Ini Penyebabnya

- Sektor energi dan pertambangan mencatat biaya kesehatan tertinggi di Indonesia, mencapai rata-rata Rp2,3 juta per peserta pada kuartal I-2026, jauh di atas sektor lain seperti teknologi dan perbankan.
- Laporan Halodoc menunjukkan pekerja usia 30–39 tahun menyumbang pengeluaran terbesar, sementara biaya tertinggi berasal dari kelompok usia di atas 50 tahun akibat meningkatnya penyakit kronis.
- Penyakit dominan bervariasi menurut usia: ISPA banyak dialami pekerja muda, gangguan otot-sendi pada usia 30–49 tahun, dan penyakit kardiovaskular pada usia lanjut; pencegahan disarankan lewat skrining dan vaksinasi.
Jakarta, FORTUNE - Sektor energi dan pertambangan menjadi industri yang paling besar menanggung pengeluaran kesehatan karyawan paling besar di Indonesia. Dalam tiga bulan pertama 2026, rata-rata biaya layanan kesehatan yang ditanggung perusahaan di sektor tersebut mencapai Rp2,3 juta per peserta, jauh melampaui sektor teknologi, perbankan, ritel, hingga manufaktur.
Temuan itu berasal dari laporan Indonesia Employee Health & Benefit Insight 2026 yang disusun Halodoc berdasarkan lebih dari 1 juta transaksi layanan kesehatan selama kuartal I-2026. Studi tersebut mencakup lebih dari 3.000 diagnosis ICD-10 dari lebih dari 30 sektor industri di Indonesia.
Chief Marketing Officer Halodoc, Fibriyani Elastria, mengatakan, sektor energi dan pertambangan juga menjadi industri dengan tingkat pemanfaatan manfaat kesehatan (medical benefit) tertinggi. Sebanyak 44 persen pekerja di sektor tersebut memanfaatkan fasilitas kesehatan yang disediakan perusahaan.
Sebagai perbandingan, tingkat pemanfaatan manfaat kesehatan di sektor teknologi mencapai 40 persen dengan rata-rata biaya Rp1 juta per peserta. Sementara itu, sektor perbankan mencatat rata-rata biaya Rp680 ribu, ritel Rp500 ribu, sedangkan manufaktur menjadi salah satu sektor dengan biaya kesehatan terendah, yakni sekitar Rp465 ribu per peserta selama tiga bulan.
"Tingginya biaya di sektor energi dan pertambangan dipengaruhi karakter pekerjaan yang lebih kompleks, memiliki risiko lebih tinggi, serta umumnya didukung manfaat kesehatan yang lebih lengkap," kata Fibriyani, dalam peluncuran laporan tersebut di Jakarta, Kamis (16/7).
Menurut Halodoc, kelompok pekerja berusia 30–39 tahun menjadi kontributor terbesar terhadap total pengeluaran kesehatan perusahaan karena mayoritas berada pada usia produktif dan telah memiliki keluarga. Namun, rata-rata biaya per peserta justru paling tinggi berasal dari pekerja berusia di atas 50 tahun, seiring meningkatnya kebutuhan penanganan penyakit kronis.
Karyawan rentan ISPA dan gangguan otot

Laporan yang sama juga menunjukkan pola penyakit pekerja berubah seiring bertambahnya usia. Chief of Medical Halodoc, dr. Irwan Heriyanto, MARS, menjelaskan bahwa pekerja berusia di bawah 30 tahun lebih banyak mengalami penyakit akut, sementara kelompok usia yang lebih tua mulai didominasi gangguan degeneratif.
"Kita lihat dari usia, di bawah 30 tahun banyak penyakit akut seperti infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Lalu usia 30-49 tahun didominasi gangguan muskuloskeletal, seperti penyakit otot dan sendi. Sementara usia di atas 50 tahun mulai didominasi penyakit kardiovaskular dan penyakit kronis lainnya," ujar dr. Irwan.
Ia menjelaskan, tingginya kasus ISPA pada pekerja muda dipengaruhi mobilitas yang tinggi serta aktivitas di ruang publik dan transportasi umum yang meningkatkan risiko penularan virus. Adapun pada kelompok usia 30–49 tahun, gangguan otot dan sendi banyak dipicu aktivitas kerja, baik pekerjaan fisik maupun kebiasaan duduk dalam waktu lama di depan komputer.
"Memasuki usia di atas 50 tahun, risiko penyakit kronis meningkat karena mulai muncul berbagai penyakit penyerta seperti hipertensi maupun diabetes yang berujung pada penyakit kardiovaskular," katanya, menambahkan.
Selain usia, profil penyakit juga berbeda berdasarkan jenis kelamin. Halodoc mencatat 81 persen pasien dengan penyakit kardiovaskular merupakan laki-laki. Sementara itu, 72 persen pasien kanker atau neoplasma adalah perempuan. "Ini dipengaruhi oleh faktor biologis seperti organ reproduksi, hormon, hingga faktor genetik," kata dia.
Pada layanan rawat jalan, diagnosis yang paling banyak ditemukan masih didominasi ISPA dengan gejala seperti demam, batuk, pilek, hidung tersumbat, dan sakit kepala. Sementara pada layanan rawat inap, kasus yang paling sering muncul meliputi gangguan saluran pencernaan seperti GERD, influenza, pneumonia, serta penyakit pernapasan lainnya.
Halodoc menilai perusahaan perlu memperkuat upaya pencegahan penyakit untuk menekan beban biaya kesehatan. Menurut Irwan, langkah tersebut dapat dilakukan melalui skrining kesehatan rutin, medical check up, program vaksinasi, promosi gaya hidup sehat, peningkatan aktivitas fisik, hingga pengelolaan stres. "Vaksin influenza saja dapat mengurangi kunjungan pasien hingga 66 persen," katanya.
Ia menambahkan, pekerja dengan penyakit kronis dapat menimbulkan biaya kesehatan rata-rata tiga kali lebih besar dibandingkan pasien tanpa penyakit kronis. Jika disertai komorbiditas, beban biaya tersebut bahkan bisa meningkat hingga 11 kali lipat. "Jadi skrining rutin dan vaksinasi menjadi investasi penting bagi perusahaan untuk menjaga produktivitas sekaligus mengendalikan biaya kesehatan jangka panjang bagi pekerja," kata dr. Irwan.




















