SCG Tekan Biaya Produksi di ASEAN hingga Rp1,8 T, Ini Kuncinya

Jakarta, FORTUNE - Perusahaan konglomerasi SCG, atau Siam Cement Group, mampu mengurangi biaya produksi di Asia Tenggara (ASEAN) hingga Rp1,8 triliun atau US$104 juta per tahun. Itu berkat sejumlah langkah strategis di kawasan.
Hasil itu diraih melalui pemanfaatan kekuatan diversifikasi jaringan pabrik. Tujuannya, memperkuat infrastruktur regional guna meningkatkan daya saing. Dalam langkah itu, perusahaan melakukan konsolidasi produksi, adopsi teknologi robotik, serta otomatisasi sejumlah pabrik di kawasan tersebut.
Langkah memperketat disiplin keuangan itu masuk dalam 3 strategi dalam menghadapi situasi Timur Tengah. "SCG akan terus memantau perkembangan situasi secara cermat dan proaktif beradaptasi di berbagai aspek guna menghadapi dinamika yang ada," kata President & CEO SCG, Thammasak Sethaudom dalam keterangannya, Jumat (29/5).
Dua strategi lainnya adalah pengelolaan risiko menyeluruh lewat 'Daily War Room' serta pengelolaan biaya bahan baku dan energi. Terkait Daily War Room, SCG mempercepat pengadaan bahan baku mentah dari seluruh dunia dan memastikan pasokan produk kunci, khususnya High Value-Added (HVA), tetap tersedia.
Perusahaan juga meningkatkan efisiensi energi, memperluas penggunaan energi alternatif, dan meningkatkan penggunaan kendaraan listrik untuk distribusi produk. Melalui restrukturisasi operasional dan penghentian bisnis yang kurang menguntungkan, SCG menghemat biaya sekitar Rp3,46 triliun atau US$136 juta pada 2026.
Di ASEAN, selain lewat diversifikasi jaringan pabrik, SCG juga mendorong pemasaran produk ramah lingkungan, produk bernilai cerdas, serta produk bernilai tinggi, juga meningkatkan rasio laba terhadap pendapatan di seluruh bisnis. Ditambah lagi, perusahaan juga mempercepat studi kelayakan untuk kemitraan bisnis olefin dan poliolefin antara SCGC dan GC di Thailand.
Dari segi kinerja, SCG membukukan pendapatan senilai Rp68,9 triliun atau US$3,9 miliar pada kuartal-I 2026. Sementara itu, labanya mencapai Rp3,4 triliun atau US$197 juta. EBITDA perusahaan pun bertumbuh 17 persen (YoY) menjadi Rp8,3 triliun atau US$472 juta.
Di Indonesia, SCG mencatatkan pertumbuhan penjualan 16 persen (YoY) menjadi Rp5,05 triliun atau US$285 juta. Itu merupakan pertumbuhan penjualan tertinggi perusahaan di kawasan Asia Tenggara. Katalisnya adalah peningkatan bisnis SCGC dengan kenaikan ekspor regional. Hasilnya, Indonesia berkontribusi sebesar 28 persen terhadap penjualan di ASEAN.
Sementara itu, SCGP meraih laba Rp835,84 miliar di Indonesia, berkat pemulihan operasional setelah peningkatan efisiensi dan pengurangan biaya, serta pertumbuhan konsumsi domestik yang berlanjut di pasar ASEAN.

















