PGE Jajaki Pasar Global, Bidik Instalasi Perdana Flow2Max di Filipina

Jakarta, FORTUNE - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) mulai menjajaki pasar internasional melalui rangkaian roadshow global dengan mengunjungi lapangan wet steam terbesar di dunia milik Energy Development Corporation (EDC) di Leyte, Filipina, Kamis (12/2). Langkah ini menjadi bagian dari strategi perseroan dalam mengakselerasi pengembangan teknologi panas bumi melalui implementasi Flow2Max.
Inisiatif tersebut mencerminkan upaya PGE dalam membuka sumber pendapatan baru melalui komersialisasi inovasi, sekaligus memperkuat ekosistem manufaktur dan jasa pengembangan panas bumi. Strategi ini juga selaras dengan visi perseroan untuk menjadi world class green energy company.
Dalam kunjungan tersebut, PGE didampingi PT Sigma Cipta Utama (SCU), anak usaha PT Elnusa Tbk yang berada di bawah Pertamina Hulu Energi. Agenda ini difokuskan pada penjajakan kolaborasi internasional dan pembahasan potensi implementasi perdana teknologi Flow2Max di lapangan panas bumi milik EDC. Target pemasangan awal dijadwalkan pada Juni 2026.
Kedua belah pihak membahas berbagai aspek teknis sebelum memasuki tahap manufaktur dan pengiriman perangkat menuju instalasi. Pembahasan mencakup pemenuhan kebutuhan teknis, pengukuran lapangan, hingga negosiasi harga.
Delegasi PGE yang dipimpin Manager Ops. Asset Management & Optimization PGE Jati Permana Kurniawan serta Manager Production & Optimization Excellence PGE Mohamad Husni Mubarok, Ph.D., disambut langsung oleh Head of Geothermal Technology and Innovation (Subsurface Team) EDC Erlindo Angcoy Jr. Pertemuan ini juga dihadiri perwakilan Ecolab International Indonesia (Ecolab) sebagai mitra pengembangan Flow2Max serta PT Sigma Cipta Utama.
Dalam diskusi tersebut, Erlindo memaparkan gambaran umum lapangan panas bumi Leyte berikut tantangan operasional yang dihadapi. Ia menyampaikan minat terhadap teknologi Flow2Max karena dinilai sesuai dengan karakteristik lapangan serta kebutuhan EDC dalam mengoptimalkan kinerja sumur panas bumi.
Pada kesempatan yang sama, PGE turut berbagi pengalaman dalam menangani sumur-sumur superheat, termasuk praktik pengelolaan geothermal superheated steam di wilayah operasionalnya.
Manager Production & Optimization Excellence PGE Mohamad Husni Mubarok, Ph.D. mengatakan pihaknya bangga dapat memperkenalkan inovasi teknologi pengelolaan superheated steam PGE kepada salah satu perusahaan panas bumi terbesar dan bereputasi di dunia.
"Terlebih, Filipina saat ini menempati peringkat ketiga kapasitas panas bumi dunia setelah Amerika Serikat dan Indonesia. Kami harap penerapan teknologi Flow2Max dapat mendukung optimalisasi operasional, meningkatkan efisiensi produksi, serta memperkuat pengelolaan reservoir EDC secara berkelanjutan," ujarnya, dalam keterangan pers, Selasa (24/2).
Flow2Max merupakan teknologi pengukuran dua fase (two-phase flow meter) yang memungkinkan pemantauan aliran fluida secara real-time. Teknologi ini membantu operator mengevaluasi performa sumur dan memprediksi produktivitas dengan tingkat akurasi lebih tinggi. Selain itu, Flow2Max mendukung optimalisasi dan manajemen reservoir di setiap lapangan panas bumi, termasuk mendeteksi lebih dini potensi persoalan teknis pada sumur.
Inovasi tersebut berangkat dari riset studi doktoral Mohamad Husni Mubarok saat menempuh pendidikan di University of Auckland. Sementara itu, Manager Ops. Asset Management & Optimization PGE Jati Permana Kurniawan menyatakan PGE dan EDC bersepakat untuk memperkuat kemitraan strategis ke depan.
“Ke depan, kami berkomitmen untuk memperkuat kolaborasi ini, tidak hanya implementasi teknologi, tetapi juga melalui pertukaran pengetahuan dan penguatan kapabilitas teknis guna mendorong kemajuan sektor panas bumi di tingkat global," kata Jati. Dia menambahkan, langkah ini juga sejalan dengan visi PGE untuk menjadi world leading geothermal producer sekaligus geothermal center of excellence.


















