Proyek LNG Masela Tak Kunjung Beroperasi, INPEX Beberkan Tantangan Ini

- INPEX Masela menghadapi tantangan perizinan kompleks dan koordinasi lintas lembaga yang menyebabkan keterlambatan proyek LNG Blok Masela meski sudah memperoleh persetujuan AMDAL.
- Pemerintah melalui Kementerian Keuangan dan KLHK berkomitmen mempercepat proses persetujuan serta membentuk tim kecil untuk mengatasi hambatan di lapangan.
- Proyek LNG Abadi bernilai US$20,9 miliar ini ditargetkan groundbreaking pada April 2026 dan mulai beroperasi pada 2029 dengan kapasitas produksi 9,5 juta ton per tahun.
Jakarta, FORTUNE - INPEX Masela atau Inpex, sebagai operator proyek LNG di Blok Masela membeberkan sejumlah tantangan yang dihadapi dalam proyek tersebut kepada Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, dalam Sidang Debottlenecking Investasi LNG Blok Masela
Pertama, terdapat tantangan yang dihadapi secara jangka pendek dengan hubungan masyarakat dan beberapa kegiatan persetujuan yang masih perlu dilakukan.
“Level of acceptance tinggi, jadi justru masyarakat sudah sejak lama menunggu proyek ini, memang yang jadi perhatian mereka sekarang terkait kompensasi untuk masyarakat yang tadinya menggunakan kawasan hutan untuk pekerjaan mereka, dan yang kedua terkait pekerjaan,” ungkap Direktur INPEX Masela, Imron, dalam sidang, Selasa (24/2).
Selain itu, Project Director INPEX Masela, Jarrad Blinco, juga menekankan bahwa INPEX membutuhkan bantuan koordinasi persetujuan, baik di tingkat pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Menurut mereka, terdapat tingkat kompleksitas yang tinggi terkait jumlah persetujuan yang dibutuhkan.
“Ada banyak departemen dan sumber daya yang perlu dilibatkan dalam proses persetujuan itu sendiri. Ini merupakan area utama yang menyebabkan keterlambatan bagi kami baru-baru ini dan bahkan mencegah kami untuk memulai pekerjaan di lokasi,” tekannya.
Hingga saat ini, proyek LNG di Blok Masela telah memperoleh persetujuan AMDAL dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Meski sudah memperoleh persetujuan AMDAL, terdapat proses lain yang perlu dipenuhi yakni pengisian element Carbon Capture Storage (CCS) di AMDAL, yang masih terkendala karena front-end engineering design (FEED) sedang dilakukan.
Purbaya mengatakan bahwa Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan siap melayani persetujuan secepatnya. Untuk itu, INPEX juga diminta untuk segera mempersiapkan dokumen yang diminta.
Sementara itu, tantangan mengenai permintaan atau penerimaan, Purbaya mengatakan bahwa Pemerintah akan mendukung INPEX sepenuhnya dan akan membentuk tim kecil untuk mengatasi hambatan.
“Apabila ada sedikit delay, beritahu kami, dan tim kami akan bergerak langsung untuk memastikan semuanya bergerak dengan lancar,” ungkap Purbaya.
Di samping itu, INPEX juga mereka meminta relaksasi dalam regulasi seperti local content atau Kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), foreign fabrication yard, simplified importation, hingga reduction of mandatory goods. Mereka menegaskan bahwa proyek ini merupakan proyek jumbo yang perlu dieksekusi melalui pekerjaan di luar Indonesia.
Untuk itu, Menkeu menyatakan bahwa mereka akan memperoleh relaksasi tersebut.
“Saya tidak ingin memperlambat pelaksanaan proyek ini. Jadi, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, kami 100 persen mendukung Anda untuk proyek ini,” tegasnya.
Sebagai konteks, proyek LNG Abadi di Blok Masela telah terdaftar sebagai Proyek Strategis Nasional dan Proyek Infrastruktur Prioritas sejak September 2017. Kapasitas produksi dari proyek ini adalah sebesar 9,5 juta ton per tahun LNG, 150 MMSCFD suplai gas lokal melalui pipa, dan 35 ribu barel kondensat minyak per hari. Saat ini telah mencapai tahap front-end engineering design (FEED). Total nilai investasi yang telah digelontorkan untuk proyek ini adalah sebesar US$20,9 miliar atau sekitar Rp351 triliun.
Sementara itu, mayoritas kepemilikan saham dari proyek ini dimiliki oleh INPEX Masela, Ltd sebesar 65 persen atau operator, PT Pertamina Hulu Energi Masela sebesar 20 persen, dan PETRONAS Masela Sdn. Bhd. Sebesar 15 persen.
Proses penandatanganan kontrak bagi hasil blok Masela telah diteken sejak 1998, namun hingga saat ini proyek ini belum kunjung beroperasi. Untuk itu, groundbreaking proyek ini ditargetkan akan dilakukan pada bulan April 2026. Sementara itu, Purbaya mendorong agar proyek tersebut ditargetkan mulai onstream pada 2029.


















