UAE Keluar dari OPEC, Apa Dampaknya Bagi Pasokan Minyak Dunia ?

- Uni Emirat Arab resmi keluar dari OPEC mulai 1 Mei 2026, mengakhiri keanggotaan panjangnya dan melemahkan pengaruh kartel terhadap pasokan serta harga minyak global.
- Keputusan ini dipicu ketidakpuasan UEA atas kuota produksi rendah, hubungan yang mendingin dengan Arab Saudi, serta dorongan untuk fokus pada kepentingan energi nasional jangka panjang.
- Keluarnya UEA berpotensi mengguncang stabilitas OPEC karena kehilangan produsen besar berkapasitas 4,8 juta barel per hari, membuat Arab Saudi menanggung beban menjaga keseimbangan pasar minyak dunia.
Jakarta, FORTUNE - Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan keluar dari OPEC dan OPEC+ mulai 1 Mei 2026. Keputusan tersebut dinilai bakal menjadi pukulan telak bagi kartel minyak dunia karena menghilangkan produsen minyak terbesar ketiga dari organisasi pengekspor minyak bumi tersebut dan kian melemahkan pengaruhnya terhadap pasokan serta harga minyak global.
Pengumuman itu disampaikan UEA pada Selasa di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan gejolak pasar energi dunia di tengah situasi perang Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Selama beberapa tahun terakhir, UEA diketahui mendorong peninjauan kuota produksi OPEC yang dinilai terlalu rendah, sehingga membatasi kemampuan negara itu untuk menjual lebih banyak minyak ke pasar global.
“Setelah berinvestasi besar-besaran untuk meningkatkan kapasitas produksi energi dalam beberapa tahun terakhir, gambaran besarnya adalah UEA ingin memompa lebih banyak minyak,” tulis Capital Economics dalam analisisnya dikutip dari Associated Press (AP), Rabu (29/4).
Lembaga tersebut juga menilai hubungan antar anggota OPEC semakin renggang, terlebih setelah Qatar keluar dari organisasi tersebut pada 2019.
Faktor politik kawasan juga disebut-sebut turut mempengaruhi keputusan tersebut. Hubungan UEA dan Arab Saudi, produsen terbesar di OPEC, dikabarkan semakin dingin dalam beberapa tahun terakhir akibat perbedaan kepentingan politik dan ekonomi di Timur Tengah, bahkan setelah kedua negara sama-sama menghadapi serangan dari Iran yang juga merupakan anggota OPEC ketika perang berlangsung.
Dalam pernyataan yang dikutip media pemerintah, keputusan tersebut disebut mencerminkan “visi strategis dan ekonomi jangka panjang UEA serta perubahan profil energi”.
“Selama menjadi bagian dari organisasi ini, kami telah memberikan kontribusi besar dan pengorbanan yang lebih besar demi kepentingan bersama. Namun kini saatnya kami memusatkan upaya pada apa yang menjadi kepentingan nasional kami,” demikian bunyi pernyataan tersebut dikutip dari Al-Jazeera.
Pada Selasa, harga minyak mentah Brent — acuan internasional — diperdagangkan di atas US$111 per barel, atau lebih dari 50 persen lebih tinggi dibandingkan harga sebelum perang dimulai.
Dampak Keluarnya UAE dari OPEC
Keluarnya UEA, yang selama ini menjadi anggota lama OPEC, dinilai berpotensi memicu ketidakstabilan dan melemahkan soliditas kartel minyak tersebut.
Selama ini OPEC berupaya mempertahankan citra persatuan meski diwarnai perbedaan internal terkait geopolitik hingga kuota produksi minyak.
Menteri Energi UEA Suhail Mohamed Al Mazrouei mengatakan keputusan itu diambil setelah mempertimbangkan secara matang strategi energi negara tersebut. Ketika ditanya apakah UEA berkonsultasi dengan Arab Saudi sebagai pemain utama di OPEC, ia menegaskan bahwa UAE tidak membahas keputusan itu dengan negara mana pun.
“Ini adalah keputusan kebijakan yang diambil setelah evaluasi mendalam terhadap kebijakan produksi saat ini dan masa depan,” ujar Al Mazrouei kepada Reuters.
Di tengah situasi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya pernah menuduh OPEC “merugikan dunia” dengan menjaga harga minyak tetap tinggi. Trump juga mengaitkan dukungan militer AS kepada negara-negara Teluk dengan kebijakan harga minyak, dengan mengatakan anggota OPEC memanfaatkan perlindungan AS untuk mempertahankan harga energi tinggi.
UEA pertama kali bergabung dengan OPEC pada 1967 sebelum menjadi anggota penuh setelah berdiri sebagai negara pada 1971. Namun, pengaruh OPEC dalam beberapa tahun terakhir mulai melemah seiring meningkatnya produksi minyak mentah Amerika Serikat.
Selain itu, hubungan UEA dan Arab Saudi juga semakin kompetitif dalam isu ekonomi dan politik kawasan, terutama di wilayah Laut Merah. Kedua negara sebelumnya tergabung dalam koalisi melawan kelompok Houthi di Yaman sejak 2015, namun hubungan itu memburuk setelah Arab Saudi mengebom dugaan pengiriman senjata untuk kelompok separatis Yaman yang didukung UEA pada akhir Desember lalu.
Perusahaan riset energi Rystad Energy menilai keluarnya UEA menandai perubahan besar bagi kelompok produsen minyak tersebut.
“Kehilangan anggota dengan kapasitas produksi 4,8 juta barel per hari dan ambisi meningkatkan produksi jelas mengurangi kekuatan kelompok ini,” kata Kepala Analisis Geopolitik Rystad Energy, Jorge Leon.
Menurutnya, ketika permintaan minyak dunia mendekati puncak, produsen dengan biaya produksi rendah kini lebih memilih memaksimalkan keuntungan dibanding menunggu giliran produksi dalam sistem kuota OPEC.
“Arab Saudi kini harus memikul beban lebih besar dalam menjaga stabilitas harga minyak, sementara pasar kehilangan salah satu penyangga utama terhadap guncangan pasokan,” ujarnya.

















