Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

PepsiCo Minta Kepastian Bahan Baku di Tengah Ketidakpastian Geopolitik

PepsiCo Minta Kepastian Bahan Baku di Tengah Ketidakpastian Geopolitik
Pabrik PepsiCo Indonesia di Cikarang (dok. PepsiCo Indonesia)
Intinya Sih
  • Tekanan geopolitik global berpengaruh pada rantai pasok dan operasionalisasi industri makanan-minuman.

  • Perusahaan telah berinvestasi sekitar Rp3 triliun untuk pabrik di Cikarang, namun masih bergantung pada impor kentang industri karena keterbatasan bahan baku lokal sesuai standar.

  • PepsiCo mendorong pengembangan bahan baku lokal melalui edukasi, kerja sama dengan petani, serta transfer teknologi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, FORTUNE - Perusahaan makanan dan minuman global, PepsiCo, menyoroti pentingnya kepastian pasokan bahan baku di tengah meningkatnya tekanan geopolitik global yang berdampak pada rantai pasok industri.

Director of Public Policy, Government Affairs & Corporate Communications PepsiCo Indonesia, Gabrielle Angriani Johny, menyatakan kondisi global saat ini jauh lebih menantang ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Tekanan geopolitik tidak hanya berdampak pada perdagangan internasional, tetapi juga memicu ketidakpastian terhadap ketersediaan bahan baku.

“Keadaan geopolitik saat ini sangat menantang dan tentu saja berpengaruh pada industri secara luas,” kata dia saat dalam acara Food Summit 2026, Senin (27/4).

Menurutnya, industri membutuhkan kolaborasi erat antara pelaku usaha dan pemerintah demi memastikan bisnis tetap berjalan. Tanpa kepastian pasokan bahan baku, industri besar seperti PepsiCo akan menghadapi kesulitan produksi, yang pada akhirnya berdampak pada lapangan kerja.

Di Indonesia, PepsiCo telah menginvestasikan sekitar Rp3 triliun untuk membangun pabrik yang memproduksi berbagai merek makanan ringan seperti Lay’s, Cheetos, dan Doritos di Cikarang. Namun, tantangan utama tetap terletak pada ketersediaan bahan baku yang sesuai standar industri.

Dia menjelaskan bahan baku seperti jagung dan kentang memiliki spesifikasi ketat, termasuk batas kandungan aflatoksin maksimal 20 ppb demi keamanan pangan. Sayangnya, tidak semua bahan baku dengan standar tersebut tersedia secara konsisten di dalam negeri.

“Jagung dan kentang yang kami gunakan berbeda dengan yang dikonsumsi sehari-hari. Misalnya, kentang industri harus tetap renyah setelah digoreng dan memiliki kandungan gula serta karbohidrat tertentu,” ujarnya.

Kondisi ini membuat PepsiCo masih harus mengandalkan impor, terutama untuk kentang industri yang produksinya di Indonesia masih terbatas. Meski demikian, perusahaan terus mendorong pengembangan bahan baku lokal melalui edukasi dan kerja sama dengan petani.

Perusahaan juga aktif melakukan transfer teknologi dan pengetahuan agar petani lokal mampu memenuhi standar industri. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hasil pertanian sekaligus memperluas penyerapan produk dalam negeri.

Selain itu, Gabrielle menilai pengawasan produk di Indonesia, khususnya oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), sudah berjalan dengan baik. Namun, ia menekankan pentingnya edukasi lebih luas kepada konsumen dan petani.

“Edukasi menjadi kunci, baik untuk petani agar meningkatkan kualitas produksi, maupun untuk konsumen agar lebih memahami produk yang mereka konsumsi,” ujarnya. 

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana
Follow Us

Related Articles

See More