Tertekan Pelemahan Bisnis Pertambangan, Laba Grup Astra Turun 16%

- Laba bersih Grup Astra turun 16% menjadi Rp5,9 triliun pada kuartal I 2026 akibat pelemahan sektor alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi.
- Divisi alat berat dan pertambangan mencatat penurunan laba terdalam hingga 79%, dipicu minimnya penjualan emas Martabe serta turunnya permintaan alat berat dan jasa tambang.
- Meski begitu, divisi otomotif, jasa keuangan, dan agribisnis masih tumbuh positif dengan kenaikan laba masing-masing 4%, 6%, dan 35%, membantu menahan dampak penurunan keseluruhan.
Jakarta, FORTUNE - Emiten konglomerasi, PT Astra International Tbk (ASII) atau Grup Astra mencatat penurunan pendapatan dan laba bersih sepanjang kuartal I 2026. Penurunan ini salah satunya disebabkan oleh adanya kontraksi kinerja sektor alat berat dan pertambangan.
Laporan keuangan Grup Astra menunjukkan, pada kuartal I 2026, pendapatan bersih konsolidasian perseroan tercatat 78,7 triliun. Angka ini turun 6 persen bila dibandingkan dengan kuartal pertama tahun 2025.
Sementara itu, laba bersih Grup Astra mencapai Rp5,9 triliun, anjlok 16 persen dibandingkan dengan periode yang sama 2025 seiring dengan kontraksi bisnis alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi, terutama akibat kontribusi dari bisnis pertambangan emas yang minim, serta penurunan volume alat berat dan bisnis jasa penambangan.
Selain itu, pada periode ini, Grup mencatat beberapa non-recurring charges dan penyesuaian nilai wajar atas investasi-investasi ekuitas. Tanpa memperhitungkan hal ini, laba bersih Grup turun 8 persen menjadi Rp6,8 triliun. Nilai aset bersih per saham pada 31 Maret 2026 naik sebesar 2 persen menjadi Rp5.810.
Adapun, utang bersih, tidak termasuk anak perusahaan Jasa Keuangan Grup, mencapai Rp1,8 triliun pada 31 Maret 2026, dibandingkan dengan kas bersih Rp7,2 triliun pada 31 Desember 2025, terutama disebabkan oleh akuisisi PT Arafura Surya Alam, perusahaan tambang emas, dan pembelian kembali saham.
Sementara itu, utang bersih anak perusahaan Jasa Keuangan Grup mencapai Rp66,0 triliun pada 31 Maret 2026, meningkat dibandingkan Rp64,9 triliun pada 31 Desember 2025.
Presiden Direktur Astra International, Rudy mengatakan meskipun pada kuartal pertama 2026 Grup Astra mencatatkan penurunan laba yang terutama disebabkan oleh kontribusi yang lebih rendah dari divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi dan Energi. Namun, bisnis- bisnis lainnya mencatatkan kinerja yang lebih baik, sehingga dapat mengimbangi sebagian dari penurunan tersebut.
“Ke depan, kondisi pasar diperkirakan masih akan menantang di tengah ketegangan geopolitik. Kami akan terus mengelola tantangan jangka pendek secara cermat dan disiplin, dengan tetap fokus dalam menciptakan nilai bagi para pemangku kepentingan,” katanya dalam keterangan tertulis, Kamis (30/4).
Kontribusi Segmen Bisnis
Sepanjang kuartal I 2026, kontribusi laba divisi alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi mencatat penurunan paling dalam di antara unit bisnis lain yakni sebesar 79 persen menjadi Rp408 miliar. Pada periode ini, United Tractors mengakui non-recurring charges sebesar Rp723 miliar pada bisnis nikel dan pembangkit listrik panas bumi.
Tanpa memperhitungkan hal ini, laba bersih divisi ini turun 42 persen menjadi Rp1,1 triliun dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Penurunan kinerja terutama disebabkan tidak adanya penjualan emas dari Tambang Emas Martabe dan dampak terhadap permintaan pelanggan atas alat berat dan jasa kontraktor pertambangan akibat alokasi RKAB batubara nasional yang lebih rendah pada 2026.
Sementara itu, laba bersih divisi otomotif dan mobilitas Grup yang selama ini juga menjadi salah satu kontributor utama bisnis ASII meningkat tipis 4 persen menjadi Rp2,4 triliun dari Rp2,3 triliun didukung oleh kinerja bisnis mobilitas dan komponen, meskipun volume penjualan mobil lebih rendah. Selama periode tersebut, divisi ini mencatatkan kerugian nilai wajar atas investasi ekuitas sebesar Rp241 miliar yang terkait dengan GoTo, dibandingkan Rp456 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Tanpa memperhitungkan kerugian nilai wajar, laba bersih divisi ini pada kuartal pertama 2026 sebesar Rp2,6 triliun, lebih rendah 4 persen dibandingkan kuartal pertama tahun 2025 sebesar Rp2,7 triliun.
Selain otomotif, laba bersih divisi jasa keuangan ASII juga masih mencatat kenaikan 6 persen menjadi Rp2,3 triliun, disebabkan oleh peningkatan kontribusi dari bisnis pembiayaan konsumen dengan nilai portofolio pembiayaan.
Sementara itu, laba bersih divisi gribisnis Grup meningkat 35 persen menjadi Rp298 miliar, terutama didorong oleh peningkatan penjualan minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan produk turunannya sebesar 6 persen menjadi 457.000 ton, dengan harga CPO yang relatif stabil yaitu Rp14.556/kg.















