Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Menilik Strategi 2030 Bosch: AI dan Inovasi Jadi Mesin Pertumbuhan

Menilik Strategi 2030 Bosch: AI dan Inovasi Jadi Mesin Pertumbuhan
Stefan Hartung, chairman of the board of management of Robert Bosch GmbH (kiri), dan Markus Forschner, member of the board of management and chief financial officer of Robert Bosch GmbH, dalam konferensi pers tahunan Bosch 2026/Dok. Bosch

Jakarta, FORTUNE - Bosch mempercepat implementasi Strategi 2030 dengan mengandalkan inovasi, kecerdasan buatan (AI), dan transformasi digital sebagai mesin pertumbuhan di tengah tekanan geopolitik global, perlambatan ekonomi, dan persaingan industri yang semakin ketat.

Perusahaan teknologi asal Jerman itu menegaskan akan mempertahankan investasi besar pada bidang strategis masa depan untuk memperkuat daya saing sekaligus membuka peluang pertumbuhan baru di pasar global. Sepanjang 2025, Bosch mengalokasikan sekitar 12 miliar euro untuk penelitian dan pengembangan (R&D) serta belanja modal.

Chairman of the Board of Management Robert Bosch GmbH, Stefan Hartung, mengatakan Bosch tetap optimistis menghadapi tantangan global melalui penguatan inovasi di berbagai lini bisnis. Pihaknya berkomitmen untuk memelopori tren otomasi, digitalisasi, elektrifikasi, dan kecerdasan buatan, karena hal tersebut membuka jalan bagi pertumbuhan bisnis yang menguntungkan.

"Prasyarat penting untuk mencapainya adalah efisiensi biaya dari langkah-langkah struktural yang telah dimulai serta inovasi di seluruh lini bisnis,” ujarnya, dalam pernyataan tertulis kepada Fortune Indonesia (29/4). Ia menambahkan, sepanjang 2025, perusahaan mendaftarkan sekitar 6.300 paten dan kembali menjadi salah satu pemohon paten terbesar di Jerman.

Bosch menargetkan pertumbuhan penjualan sebesar 2–5 persen dan margin EBIT operasional sebesar 4–6 persen pada 2026, dengan arus kas bebas tetap positif. Stefan menyebut 2026 sebagai “tahun kemajuan” bagi perusahaan.

Pada tahun fiskal 2025, Bosch membukukan pendapatan penjualan sebesar 91 miliar euro, naik tipis dibandingkan 90,3 miliar euro pada 2024. Setelah disesuaikan dengan efek nilai tukar, pertumbuhan penjualan mencapai 4,1 persen. Namun margin EBIT operasional turun menjadi 2 persen dari sebelumnya 3,5 persen akibat penyesuaian struktural dan personel yang memunculkan provisi sebesar 2,7 miliar euro.

Di tengah tekanan harga global, khususnya di industri otomotif, Bosch menilai diferensiasi teknologi menjadi faktor utama memenangkan persaingan. Strategi 2030 perusahaan menargetkan Bosch masuk dalam tiga besar pemasok utama di pasar-pasar strategisnya. “Dalam kompetisi internasional, faktor penentu bukan hanya biaya, melainkan kemampuan diferensiasi,” kata Stefan. “Kami dapat menyesuaikan penawaran serta rantai pasokan kami dengan kondisi regional sekaligus memberikan kualitas standar global.”

Sebagai bagian dari penyesuaian daya saing, Bosch menyelesaikan pembicaraan dengan serikat pekerja terkait pengurangan jabatan di sejumlah lokasi bisnis Mobility di Jerman. “Negosiasi tersebut tidak mudah, tetapi kedua belah pihak menunjukkan rasa tanggung jawab yang nyata,” ujar Stefan.

Bosch juga memperkirakan ketidakpastian ekonomi global masih akan berlanjut pada 2026 akibat perang di Timur Tengah, tekanan inflasi, dan hambatan perdagangan internasional. Meski demikian, perusahaan mencatat pendapatan kuartal pertama 2026 tetap stabil dan tumbuh sekitar 5 persen setelah penyesuaian nilai tukar.

Chief Financial Officer Robert Bosch GmbH, Markus Forschner, mengatakan daya saing menjadi fondasi utama perusahaan untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang. “Fondasi bagi pertumbuhan yang menguntungkan adalah daya saing kami, itulah sebabnya kami bekerja keras untuk meningkatkannya lebih jauh,” katanya.

Untuk memperkuat fleksibilitas pendanaan, Bosch juga akan mulai menerbitkan laporan keuangan interim paruh pertama tahun fiskal agar lebih mudah mengakses pasar modal dan instrumen obligasi.

Manuver tekonologi dan AI

Di sisi teknologi, Bosch memproyeksikan pasar global sensor akan bernilai lebih dari US$440 miliar pada 2031. Perusahaan melihat peluang besar dari pertumbuhan robotika dan kendaraan otonom melalui pengembangan teknologi sensor dan mikroelektronika.

Platform sensor BMI5 milik Bosch, misalnya, dikembangkan untuk membantu navigasi robot dalam kondisi sulit dan menciptakan lingkungan buatan yang lebih realistis. Di sektor kendaraan otonom, sensor inersia Bosch memungkinkan kendaraan tetap mengetahui posisi meski sinyal GPS atau kamera tidak tersedia. “Sensor ini bekerja pada mobil otonom dengan cara yang serupa dengan indra keseimbangan pada telinga bagian dalam manusia,” kata Stefan.

Bosch memperkirakan pasar sensor cerdas untuk aplikasi otomotif akan meningkat hampir dua kali lipat menjadi lebih dari US$80 miliar dalam beberapa tahun mendatang.

Selain sensor, Bosch juga melihat peluang besar pada pasar perangkat lunak otomotif yang diproyeksikan bernilai sekitar 200 miliar euro pada 2030. Perusahaan mengembangkan software-defined mobility dan platform AI untuk kendaraan generasi baru. “Bosch berada di lini terdepan di bidang ini dan kini secara harfiah menghadirkan AI ke dalam bidang pandang pengemudi,” ujar Stefan.

Bosch AI Extension Platform memungkinkan kendaraan mengenali pengemudi dan penumpang, lalu menyesuaikan berbagai fitur kendaraan secara otomatis, mulai dari pengaturan spion hingga optimalisasi kantong udara. Perusahaan juga mengamankan pesanan senilai 10 miliar euro pada 2025 dari solusi bantuan pengemudi cerdas yang menggabungkan sensor dan komputer pusat kendaraan.

Di sektor mobilitas listrik, Bosch menargetkan pengiriman lebih dari 7 juta solusi dan komponen penggerak listrik pada tahun ini. Perusahaan juga membentuk joint venture dengan Tata AutoComp Systems di India untuk pengembangan dan produksi poros serta motor listrik.

AI juga menjadi fokus Bosch di sektor barang konsumsi dan layanan. Divisi BSH Hausgeräte meluncurkan oven dengan fitur suara berbasis AI tanpa memerlukan aplikasi tambahan atau perangkat eksternal. Bosch memperkirakan pasar global peralatan rumah tangga dapat mencapai sekitar 5 miliar unit pada 2030.

Di lini Power Tools, Bosch meluncurkan 30 produk baru dalam seri Expert, termasuk pemindai dinding berbasis radar dan AI untuk kebutuhan profesional industri. Sementara itu, divisi Bosch Global Service Solutions memproyeksikan pertumbuhan penjualan rata-rata dua digit hingga 2030 berkat layanan berbasis AI untuk mobilitas digital, operator armada, dan logistik.

Strategi di Indonesia

Di Indonesia, Bosch memperkuat perannya dalam transformasi industri dan mobilitas nasional melalui pengembangan teknologi serta kapabilitas lokal. Perusahaan menghadirkan solusi seperti Electronic Control Units (ECU), Battery Management Systems (BMS), dan teknologi mobilitas lainnya untuk mendukung sistem transportasi yang lebih efisien dan terelektrifikasi.

Managing Director Bosch Indonesia, Pirmin Riegger, mengatakan perusahaan mencatat pertumbuhan dua digit di sejumlah lini bisnis di Indonesia. “Kami mencatat pertumbuhan dua digit yang kuat di beberapa lini bisnis kami di Indonesia. Prioritas kami adalah terus membangun kapabilitas, memperkuat kemitraan, dan menghadirkan teknologi relevan lebih dekat ke pasar seiring upaya kami untuk mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Bosch memperluas jaringan Bosch Car Service melalui kerja sama dengan PT XMotors International Group dan menargetkan 20 bengkel beroperasi pada 2025. Perusahaan juga telah membuka 32 titik penjualan dan servis baterai otomotif di Indonesia.

Selain itu, Bosch menghadirkan delapan Home Experience Center dan Power Tools Blue Store untuk memperkuat pengalaman konsumen serta pasar profesional industri. Untuk memperkuat keterlibatan konsumen domestik, Bosch menjalankan kampanye “Beres, Bosch” yang mengadaptasi filosofi “Invented for Life” ke dalam konteks lokal melalui aktivasi digital, lapangan, dan ritel.

Di bidang sosial, Bosch Indonesia menjalankan program CSR “Bosch Bersama Negeri” melalui pendidikan terintegrasi dan pemberdayaan ekonomi masyarakat di Nabire, Papua Tengah, bersama Yayasan Tunas Bakti Nusantara. Perusahaan juga bekerja sama dengan Foodbank Indonesia untuk mendukung nutrisi anak-anak dan kelompok rentan.

Secara finansial, Bosch membukukan arus kas bebas positif sekitar 300 juta euro pada 2025. Rasio R&D tercatat 8,7 persen dari penjualan, dengan total pengeluaran riset mencapai 7,9 miliar euro. Rasio ekuitas perusahaan berada di level 41,6 persen, sementara likuiditas tercatat sebesar 7,4 miliar euro.

Dari sisi bisnis, sektor Mobility membukukan penjualan 55,8 miliar euro, Industrial Technology 6,5 miliar euro, Consumer Goods 19,9 miliar euro, dan Energy and Building Technology 8,5 miliar euro. Secara regional, penjualan Bosch di Eropa turun 0,6 persen menjadi 44,2 miliar euro, sementara kawasan Amerika tumbuh 3,8 persen menjadi 18,5 miliar euro dan Asia Pasifik meningkat 0,7 persen menjadi 28,3 miliar euro.

Pada akhir 2025, jumlah tenaga kerja Bosch secara global mencapai 412.774 orang, turun sekitar 1 persen dibanding tahun sebelumnya, terutama di sektor mobilitas dan wilayah Jerman.

Foto 3.jpeg
Bosch mencatatkan pendapatan penjualan sebesar 91,0 miliar euro pada tahun 2025 dengan margin EBIT operasional sebesar 2,0%. Fokus perusahaan pada inovasi tetap kuat, terbukti dengan alokasi biaya penelitian dan pengembangan mencapai 7,9 miliar euro serta pengajuan 6.300 paten baru. Hingga akhir tahun, Bosch didukung oleh 412.774 karyawan di seluruh dunia./Dok. Bosch
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria
Follow Us

Related Articles

See More

Menilik Strategi 2030 Bosch: AI dan Inovasi Jadi Mesin Pertumbuhan

30 Apr 2026, 08:09 WIBBusiness