Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Kepulauan Widi di Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara yang masuk daftar lelang Sotheby's Concierge Auctions. (Dokumentasi Sotheby's)
Kepulauan Widi di Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara yang masuk daftar lelang Sotheby's Concierge Auctions. (Dokumentasi Sotheby's)

Intinya sih...

  • Maluku Utara diproyeksikan sebagai tujuan investasi hilirisasi terbesar pada 2026.

  • Pemerintah mendorong perluasan hilirisasi ke sektor perkebunan, kehutanan, minyak dan gas bumi, batu bara, hingga kelautan dan perikanan.

  • Realisasi investasi sektor hilirisasi nasional mencapai Rp584,1 triliun dengan kontribusi terbesar dari sektor mineral.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Peta kekuatan investasi hilirisasi nasional diperkirakan akan mengalami pergeseran signifikan pada 2026. Setelah Sulawesi Tengah mendominasi sepanjang 2025, pemerintah kini memproyeksikan Maluku Utara sebagai wilayah dengan daya tarik investasi terbesar pada tahun mendatang.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, menyatakan provinsi tersebut merupakan wilayah prioritas yang posisinya akan terus diperkuat. Arus investasi yang masuk ke sana diperkirakan akan melonjak tajam pada tahun ini.

“Kalau kita lihat ke depan, hilirisasi itu kembali lagi ke Maluku Utara. Investasinya akan cukup banyak masuk ke sana. Dan sekarang saja pertumbuhan perekonomian Maluku Utara sudah mencapai lebih dari 20 persen, jauh di atas rata-rata nasional,” ujar Rosan di kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Jakarta, Kamis (15/1).

Pertumbuhan ekonomi double digit itu, menurutnya, merupakan dampak nyata dari hilirisasi nikel, khususnya dalam mendukung ekosistem baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Selain meningkatkan nilai tambah mineral, proyek-proyek strategis ini mampu mendorong penciptaan lapangan kerja secara masif di kawasan timur Indonesia.

Namun, fokus kebijakan kini tidak lagi terbatas pada sektor tambang. Pemerintah mulai mendorong hilirisasi ke sektor non-mineral, seperti pengolahan kelapa menjadi virgin coconut oil (VCO) dan santan.

Rosan menekankan perluasan ini akan mencakup sektor perkebunan, kehutanan, minyak dan gas bumi, hingga kelautan dan perikanan.

“Ke depan, perikanan dan perkebunan ini akan mengalami peningkatan yang cukup signifikan,” katanya.

Sektor perikanan diproyeksikan menjadi penopang utama baru seiring masuknya investasi skala besar ke wilayah Indonesia timur.

Berdasarkan data realisasi investasi hilirisasi sepanjang Januari–Desember 2025, total nilai investasi sektor ini mencapai Rp584,1 triliun, alias setara dengan pertumbuhan 43,3 persen secara tahunan. Sektor mineral masih mendominasi dengan Rp373,1 triliun, dipimpin oleh komoditas nikel senilai Rp185,2 triliun.

Dari sisi geografis, investasi hilirisasi masih terkonsentrasi di luar Pulau Jawa dengan kontribusi 71,1 persen atau Rp415,4 triliun. Pada 2025, Sulawesi Tengah tercatat sebagai tujuan utama dengan nilai Rp110 triliun, sementara Maluku Utara menyusul dengan Rp74,8 triliun.

Melihat tren penguatan dan ekspansi proyek yang kian masif, pemerintah optimistis Maluku Utara berpeluang besar melampaui Sulawesi Tengah dan menjadi lokasi investasi hilirisasi terbesar di Indonesia pada 2026.

 

Editorial Team