Jakarta, FORTUNE - Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa meyakini pembentukan badan khusus ekspor sumber daya alam bernama PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dapat meningkatkan pendapatan negara sekaligus menutup kebocoran devisa dari praktik manipulasi ekspor.
"Income bisa naik dua kali lipat mungkin lebih, karena dari income tax dari ekspor tax juga saya untung, dan yang paling penting adalah barang kita tidak diselundupkan ke luar negeri, jadi untungnya juga dipakai untuk membangun ekonomi kita," kata Purbaya dalam Jogja Financial Festival dilansir secara daring, Jumat (22/5).
Menurut Purbaya, selama ini pemerintah menemukan banyak praktik under invoicing dan transfer pricing dalam ekspor komoditas seperti crude palm oil (CPO) dan batu bara. Praktik tersebut membuat penerimaan negara dari pajak ekspor dan devisa hasil ekspor tidak optimal.
“Bapak Presiden mendapatkan informasi bahwa ada banyak under invoicing. Jadi harga barang yang diekspor dimainkan lebih rendah dibanding harga sebenarnya di luar negeri,” ujar Purbaya.
Ia mencontohkan hasil pemeriksaan terhadap sejumlah perusahaan CPO besar yang mengekspor barang melalui perusahaan perantara di Singapura sebelum dijual ke Amerika Serikat.
Selain mengurangi penerimaan negara, devisa hasil ekspor juga disebut banyak diparkir di luar negeri sehingga tidak memberikan dampak besar terhadap cadangan devisa domestik.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah berencana menerapkan sistem satu pintu ekspor melalui DSI. Nantinya, ekspor komoditas tertentu hanya dapat dilakukan lewat badan tersebut. “Yang jual nanti hanya DSI ke pasar dunia. Dengan approach seperti itu under invoicing dan segala macam bisa hilang,” ujar Purbaya.
Selain membentuk DSI, pemerintah juga memperkuat pengawasan ekspor melalui teknologi kecerdasan buatan (AI) di sistem Bea Cukai. “Sekarang pengusaha-pengusaha itu tidak bisa berbohong lagi. Batu bara di India seperti apa, di sini seperti apa, bisa kita deteksi,” kata Purbaya.
