Jakarta, FORTUNE - PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) menyatakan pengadaan kapal baru melalui Penyertaan Modal Negara (PMN) bukan hanya mendesak secara operasional, tetapi juga mampu menghasilkan efisiensi biaya dalam skala besar.
Direktur Utama Pelni, Tri Andayani, mengatakan dengan tiga kapal baru yang akan menggantikan armada lama, perusahaan berpotensi menghemat hingga Rp978 miliar hingga 2033.
“Pada prinsipnya, pemerintah memberikan Pelni Rp4 triliun dikurang lebih dari Rp1 triliun itu karena ada penghematan baik dari sisi efisiensi bahan bakar, pemeliharaan, perawatan, dan perbaikan kapal,” kata dia dalam sesi dengar pendapat dengan Komisi XI DPR-RI, Senin (9/2).
PPelni saat ini mengoperasikan 26 kapal penumpang yang melayani rute luas.
“Dengan 26 kapal ini, kami menyinggahi 350 pelabuhan dan 1.100 ruas yang dilayari,” ujarnya.
Dari jumlah tersebut, 22 kapal telah berusia di atas 25 tahun. Kondisi ini membuat urgensi peremajaan armada kian tinggi, mengingat adanya risiko kapal berhenti beroperasi, sulitnya ketersediaan suku cadang yang made by order, hingga waktu perbaikan yang makin lama.
Pelni merencanakan penggunaan PMN untuk mengganti tiga unit kapal tua, masing-masing senilai Rp1,5 triliun, sehingga total kebutuhan mencapai Rp4,5 triliun.
“Yang sudah kami terima 4 triliun, dan 500 [miliar] berasal dari dana internal,” ujar Tri.
Penggantian akan menyasar KM Umsini, KM Kelimutu, dan KM Lawit, yang melayani rute Indonesia tengah dan timur. Dua kawasan disebut itu sangat bergantung pada transportasi laut.
Proses penggantian kapal direncanakan berlangsung bertahap. Pengadaan kapal pengganti KM Umsini dimulai pada semester II-2026 hingga semester II-2028.
Secara paralel, pembangunan kapal pengganti KM Kelimutu akan berlangsung dari semester I-2027 hingga semester I-2029, dan kapal pengganti KM Lawit pada semester II-2027 hingga semester II-2029.
Tri menegaskan armada baru akan memberikan penghematan signifikan, terutama dari efisiensi bahan bakar, pemeliharaan, perawatan, dan biaya perbaikan.
“Penghematan ketiga kapal baru nanti apabila jadi sampai dengan 2033, yang dibandingkan dengan tiga kapal yang akan digantikan itu sebesar Rp978 miliar,” ujarnya.
Selain efisiensi, kapal-kapal baru juga akan mengurangi risiko pengoperasian kapal tua yang selama ini rentan mengalami kerusakan mesin saat berlayar, risiko keselamatan, keterlambatan akibat penurunan kecepatan, hingga ketidaknyamanan penumpang karena fasilitas yang sudah usang.
Tri juga menjelaskan Pelni tidak memiliki kemampuan pendanaan mandiri dalam meremajakan armada tanpa PMN.
“Rata-rata cash yang tersedia untuk investasi peremajaan kapal dari tahun 2021–2024 sebesar Rp104 miliar. Sehingga untuk harga satu kapal dengan asumsi Rp1,5 triliun, ini perlu menyisihkan operating profit selama 15 tahun untuk satu kapal penumpang baru,” ujarnya.
Selain itu, terdapat funding gap sebesar Rp3,8 triliun antara harga kapal baru dan dana cadangan penyusutan yang tersedia.
Di sisi lain, kemampuan Pelni untuk menambah utang juga terbatas.
“Nilai maksimum pinjaman Pelni 2024 sesuai dengan debt capacity, yaitu 4 kali EBIT, hanya sebesar Rp775 miliar. Dengan asumsi harga kapal senilai Rp1,5 triliun, maka Pelni belum memiliki kapasitas untuk mendanai kapal,” kata Tri.
