Jakarta, FORTUNE - Pemerintah menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026 tetap terjaga. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa salah satu upaya yang disiapkan adalah menggenjot belanja pemerintah.
“Karena pada tahun lalu basis daripada belanja pemerintahan rendah dan kuartal I tahun kemarin belanja pemerintah menjadi penopang, dan ini juga akan menjadi penopang di kuartal II,” kata Airlangga di Jakarta, Selasa (5/5).
Pemerintah juga berharap bahwa pembelian gaji ASN ke-13 diharapkan dapat menjaga daya beli masyarakat, sehingga dapat mampu penopang pertumbuhan ekonomi di kuartal II 2026. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan beberapa insentif bagi sektor otomotif.
“Ini nanti kita akan laporkan kepada Bapak Presiden, dari segi manufaktur memang ada penurunan tapi dari PMI nya masih di atas 52, jadi masih ada optimisme dari sektor manufaktur,” katanya.
Pemerintah berharap, nilai investasi pada kuartal II juga terus naik seiring dengan pertumbuhan sebesar 7 persen pada kuartal I 2026.
“Kemarin dalam kunjungan Bapak Negara di beberapa negara Amerika, Jepang dan Korea juga ada komitmen Rp540 triliun yang akan terus kita kejar untuk mengejar realisasi daripada investasi tersebut,” ujarnya.
Sementara itu, Airlangga belum menetapkan proyeksi khusus terkait pertumbuhan ekonomi pada kuartal II.
“Jadi kita kuartal pertama dulu aja yang Indonesia berhasil katakanlah melampaui ekspektasi dari berbagai lembaga, jadi ini satu hal yang positif ya,” ujar Airlangga.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airangga Hartarto mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen tersebut tumbuh di atas beberapa negara G20.
“Memang G20 ini ada yang belum keluar yakni India. Tetapi di antara negara yang sudah keluar seperti China, Singapura, Korea Selatan, Arab Saudi, Amerika Serikat, kita yang tertinggi,” kata Airlangga di Jakarta, Selasa (5/5).
Dalam kesempatan yang sama, Airlangga mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen pada kuartal I 2026 merupakan pertumbuhan yang telah disiapkan pemerintah melalui berbagai kebijakan, terutama dalam rangka Hari Raya Lebaran.
“Kemudian kalau kita lihat konsumsi rumah tangga, masih menjadi penggerak utama dengan pertumbuhan 5,52 persen. Dan ini semakin menegaskan bahwa momentum daripada Ramadan dan Idul Fitri serta pelepasan mobilitas itu meningkat dengan tinggi,” katanya.
Sementara itu, ia mengatakan bahwa belanja pemerintah yang tumbuh 21,81 persen sekitar Rp815 triliun didorong oleh beberapa program belanja kementerian/lembaga termasuk MBG hingga Maret 2026 sebesar Rp51 triliun, serta stimulus diskon tarif.
