Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Purbaya Tepis Isu Berulangnya Krisis 1998, Sebut Ekonomi Indonesia Masih Ekspansi

Purbaya Tepis Isu Berulangnya Krisis 1998, Sebut Ekonomi Indonesia Masih Ekspansi
Konferensi Pers APBN Kita Kuartal I-2026/Dok Tangkapan Layar Kementerian Keuangan
Intinya Sih
  • Perekonomian Indonesia masih tumbuh 5,61 persen pada kuartal I-2026.

  • Kondisi fiskal tetap stabil dengan defisit APBN hanya 0,93 persen dari PDB.

  • Nilai tukar rupiah yang melemah hingga Rp17.400 per dolar AS dinilai masih wajar.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, FORTUNE β€” Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menepis keras kabar yang beredar di media sosial ihwal bayang-bayang krisis ekonomi 1998 yang disebut bakal berulang di Indonesia. Ia menandaskan bahwa narasi yang diembuskan sejumlah pengamat tersebut tidak berlandaskan data sahih dan cenderung menyesatkan publik.

Purbaya mengatakan fundamen ekonomi nasional saat ini memiliki perbedaan mencolok dengan kondisi 1998. Jika pada masa krisis moneter tersebut Indonesia terperosok dalam resesi berkepanjangan, saat ini roda ekonomi justru menunjukkan akselerasi dengan pertumbuhan mencapai 5,61 persen pada kuartal I-2026.

β€œKita sekarang boro-boro resesi, masih ekspansi, Masih akselerasi. Jadi itu kondisi sekarang. Jadi kalau itu bikin-bikin cerita, Jangan asal bikin cerita, lihat data yang betul,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita di Jakarta, Selasa (5/5).

Lebih lanjut, dia memastikan postur fiskal Indonesia masih berada pada zona stabil. Hal tersebut tecermin pada defisit APBN yang berada pada level 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), jauh di bawah ambang batas yang ditetapkan undang-undang sebesar 3 persen.

β€œOrang juga banyak bilang, Indonesia fiskalnya goyah. Maka rupiahnya lemah-lemah dan lain-lain. Kalau rupiah nanti tanya BI, jangan tanya saya, mereka yang berhak menjawab. Tapi kalau kita lihat dari ketahanan energi, kita itu amat kuat,” ujar Purbaya.

Terkait fluktuasi nilai tukar, posisi rupiah yang bertengger pada level Rp17.400 per dolar AS dinilai masih dalam tahapan wajar, selaras dengan tekanan yang dialami mata uang global lainnya. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), rupiah mengalami depresiasi 3,65 persen secara tahunan.

Kondisi ini dipandang jauh berbeda dengan kemelut 1998. Kala itu, rupiah kehilangan jangkarnya hingga terjun bebas dari kisaran Rp2.450 ke level terlemah Rp16.800 per dolar AS, atau anjlok sekitar 690 persen.

Otoritas moneter mencatat bahwa pelemahan mata uang merupakan fenomena regional. Sebagai komparasi, Peso Filipina melemah 6,58 persen, Baht Thailand menyusut 5,04 persen, dan Rupee India terkoreksi 4,32 persen.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana
Follow Us

Related Articles

See More