Ditopang Kredit UMKM, Laba BRI Naik 13,7 Persen Jadi Rp15,5 triliun

Kenaikan laba didorong oleh pertumbuhan kuat kredit UMKM yang mendominasi porsi pembiayaan.
Total kredit dan pembiayaan mencapai Rp1.562 triliun dengan 77,5 persen disalurkan ke segmen UMKM.
Dana Pihak Ketiga tumbuh 9,4 persen menjadi Rp1.555 triliun dengan komposisi CASA 68,1 persen.
Jakarta, FORTUNE — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) mengawali 2026 dengan rapor kian kinclong. Di tengah impitan risiko geopolitik global, bank ini membukukan laba bersih Rp15,5 triliun pada kuartal I-2026, atau melejit 13,7 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Performa moncer ini tidak terlepas dari peran sektor UMKM yang tetap menjadi tulang punggung penyaluran kredit.
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menyatakan meski awan gelap geopolitik menyelimuti perekonomiann dunia, daya tahan perekonomian domestik tetap terjaga. Peluang inilah yang kemudian dikonversi menjadi pertumbuhan bisnis yang sehat oleh perseroan.
“Pertumbuhan kredit yang tetap kuat memberikan dorongan terhadap pendapatan bunga. Sementara di sisi lain, perbaikan struktur funding khususnya penghimpunan CASA turut menekan cost of fund. Kami juga melihat bahwa kami mampu mengendalikan struktur pendanaan yang sehat,” kata Hery dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (30/4).
Hingga pengujung Maret 2026, mesin intermediasi BRI memang bekerja sigap. Total kredit dan pembiayaan meluas 13,7 persen (YoY) menjadi Rp1.562 triliun. Segmen UMKM masih mendominasi porsi dengan nilai Rp1.211 triliun. Dengan kata lain, bisnis mikro dan kecil ini mencaplok hingga 77,5 persen dari total portofolio kredit BRI. Kendati ekspansi begitu agresif, kualitas aset tetap terjaga apik dengan rasio NPL nett pada level 1,01 persen.
Dari sisi pendanaan, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp1.555 triliun atau tumbuh 9,4 persen (YoY). Keberhasilan bank dalam mempertebal porsi dana murah (CASA) hingga 68,1 persen menjadi kunci efisiensi biaya dana. Alhasil, biaya dana atau cost of fund (CoF) berhasil ditekan secara signifikan dari 3 persen menjadi 2,3 persen.
Efisiensi ini berdampak langsung pada laba operasional sebelum pencadangan (Pre-Provision Operating Profit/PPOP) yang tumbuh 7,7 persen (YoY) menjadi Rp32,2 triliun. Kesehatan aset juga makin stabil, tecermin pada rasio Loan at Risk (LAR) yang susut menjadi 9,7 persen dari 11,1 persen pada periode sama tahun lalu.
Dengan modalitas tersebut, total aset BRI kini Rp2,250 triliun, naik 7,2 persen (YoY).
“BRI akan terus memperkuat komitmennya sebagai bank yang berfokus pada DNA ekonomi kerakyatan, dengan UMKM sebagai pusat pertumbuhan,” ujarnya.
















