Survei BI: Optimisme Konsumen RI Menurun pada Mei 2026

Survei Bank Indonesia menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen Mei 2026 turun ke 120,9 dari 123,0.
Kelompok pengeluaran di atas Rp5 juta dan usia 20–30 tahun mencatat tingkat keyakinan tertinggi.
Indeks Ekspektasi Konsumen juga melemah ke 112,2 dengan penurunan pada indeks penghasilan, lapangan kerja, dan pembelian barang tahan lama meski masih berada di level optimis.
Jakarta, FORTUNE – Gairah dan keyakinan konsumen terhadap roda perekonomian Indonesia mengindikasikan gejala penyurutan pada Mei 2026. Bank Indonesia (BI) mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) bulan ini bertengger pada 120,9. Angka tersebut melorot jika dibandingkan dengan pencapaian bulan sebelumnya yang menyentuh 123,0.
Kendati grafik melandai, tolok ukur keyakinan masyarakat ini dipastikan masih berada pada zona ekspansi atau optimistis. Berdasarkan klasifikasi pengeluaran, seluruh kelompok masyarakat tetap memperlihatkan animo yang positif. Rasa percaya diri tertinggi meluncur dari kelompok masyarakat berkantong tebal dengan pengeluaran di atas Rp5 juta per bulan, yang mencetak angka IKK sebesar 124,6.
Bila dibedah dari rentang usia, fajar optimisme juga menyelimuti seluruh lapisan generasi. Kelompok kawula muda berusia 20 hingga 30 tahun menjadi motor penggerak utama dengan torehan IKK tertinggi, yakni mencapai level 129,1.
Meskipun demikian, dinamika pergerakan angka ini tidak merata di seluruh wilayah Nusantara. Faktor geografis memegang peranan dalam fluktuasi persepsi masyarakat saat ini.
“Secara spasial, IKK mengalami peningkatan terbesar di Medan, Bandar Lampung, dan Palembang, sementara penurunan IKK terjadi antara lain di Pontianak, Mataram, dan Banjarmasin,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, melalui keterangan resmi di Jakarta, Rabu (10/6).
Sinyal kelesuan juga merembet pada persepsi masyarakat terhadap urat nadi perekonomian saat ini. Kondisi tersebut tecermin pada Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) Mei 2026 yang merosot ke posisi 112,2. Padahal, pada bulan sebelumnya, indeks ini menyentuh 116,5. Walau konsumsi sedikit mengerut, bank sentral menilai angka ini masih berada di atas ambang batas normal 100, yang berarti masih optimistis.
Ramdan menjelaskan, tetap kuatnya IKE ditopang oleh Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI), Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK), dan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama/Durable Goods (IPDG) yang tercatat masing-masing 123,2, 105,0, dan 108,3.
Meskipun capaian tersebut lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang masing-masing sebesar 128,1, 108,8, dan 112,6.
“Secara spasial, sebagian besar kota mengalami penurunan IKE terutama di Pontianak, Mataram, dan Bandung. Sejumlah kota yang mencatatkan peningkatan IKE, antara lain, di Medan, Palembang, dan Bandar Lampung,” katanya.
Di sisi lain, potret pasar kerja domestik masih memperlihatkan daya tahan. Persepsi masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja saat ini bertahan di zona optimistis pada seluruh jenjang pendidikan. Lulusan sarjana menempati urutan teratas dengan indeks 117,3.
Kendati demikian, lampu kuning mulai menyala pada klasifikasi usia produktif senior. Berdasarkan kelompok umur, indeks ketersediaan lapangan kerja (IKLK) memang mayoritas berada di zona aman. Namun, kelompok masyarakat berusia 41-60 tahun justru telah terlempar dan terjebak di zona pesimistis.


















