Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Hadapi Gejolak Ekonomi, Perbanas Harap Bank Stress Test Berkala

Hadapi Gejolak Ekonomi, Perbanas Harap Bank Stress Test Berkala
Ketua Umum Perbanas sekaligus Direktur Utama BRI, Hery Gunardi. (dok. BRI)
Intinya Sih
  • Perbanas mendorong bank melakukan stress test berkala dan memperkuat manajemen risiko untuk menghadapi gejolak ekonomi global maupun domestik.
  • Hery Gunardi menekankan pentingnya menjaga kecukupan likuiditas melalui indikator seperti LCR dan NSFR serta pengelolaan PDN dan strategi lindung nilai yang hati-hati.
  • Data OJK menunjukkan penyaluran kredit tumbuh 9,98% dan DPK naik 11,40%, menandakan kepercayaan masyarakat tetap tinggi dengan rasio NPL di level aman 2,17%.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta,FORTUNE – Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) berharap pelaku perbankan dapat melakukan langkah mitigasi risiko seperti stress test berkala di tengah dinamika ekonomi global dan domestik. Selain itu, perbankan juga perlu memastikan kecukupan likuiditas untuk menghadapi potensi volatilitas pasar dan pergerakan dana masyarakat. 

Hal itu diungkapkan Ketua Umum Perbanas sekaligus Direktur Utama BRI Hery Gunardi. Hery menambahkan, upaya memenuhi kecukupan likuiditas bisa dilakukan melalui penguatan indikator likuiditas, termasuk Liquidity Coverage Ratio (LCR) dan Net Stable Funding Ratio (NSFR).

“Pengelolaan risiko yang prudent, kecukupan likuiditas, serta kualitas pertumbuhan kredit harus terus menjadi perhatian utama agar ketahanan industri tetap terjaga,” kata Hery melalui keterangan resmi di Jakarta, Jumat (12/6).

Hery menjelaskan, penguatan manajemen risiko menjadi aspek yang penting. antara lain melalui pelaksanaan stress test sektoral pada portofolio yang sensitif terhadap kenaikan biaya energi, penguatan sistem peringatan dini terhadap potensi pemburukan kualitas kredit. Tak hanya itu, perbankan juga perlu melakukan penerapan disiplin kredit yang lebih kuat sesuai profil risiko masing-masing debitur.

Di saat yang sama, pengelolaan risiko nilai tukar dan likuiditas valuta asing tetap menjadi perhatian. Hal ini dilakukan melalui pengelolaan Posisi Devisa Neto (PDN) secara prudent, penguatan strategi lindung nilai (hedging), serta pengelolaan jatuh tempo aset dan kewajiban valuta asing secara hati-hati.

Menurut Hery, langkah-langkah tersebut penting untuk menjaga stabilitas sektor keuangan, sekaligus memastikan dukungan pembiayaan bagi dunia usaha dan sektor-sektor strategis tetap berjalan dengan baik.

Meski demikian, Hery Gunardi menyatakan bahwa perbankan nasional masih mampu menjalankan perannya sebagai penggerak perekonomian melalui penyaluran kredit yang terus tumbuh dan penghimpunan dana masyarakat yang tetap meningkat.

"Berdasarkan data OJK, hingga akhir April 2026 penyaluran kredit perbankan tumbuh 9,98 persen secara tahunan, sedangkan Dana Pihak Ketiga tumbuh 11,40 persen. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan tetap terjaga dan fungsi intermediasi berjalan dengan baik," ujar Hery.

Dari sisi likuiditas, Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat sebesar 86,88 persen. Sementara itu, rasio Gross Non Performing Loan (NPL) berada pada level 2,17 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa industri perbankan masih memiliki kapasitas yang memadai untuk mendukung pembiayaan ekonomi dengan tetap menjaga kualitas aset.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria

Related Articles

See More