Jakarta, FORTUNE - Jagat maya mendadak riuh. Sebuah rekaman video pendek yang diunggah akun Instagram @andrianumar mendadak jadi buah bibir. Isinya: percakapan dengan awak kapal tanker Gamsunoro milik PT Pertamina International Shipping (PIS). Yang memicu alis berkerut adalah pengakuan kru di atas kapal; mereka semua berasal dari India. Publik pun bertanya-tanya, mengapa armada berbendera anak usaha Pertamina itu justru sesak oleh tenaga kerja asing?
Pjs. Corporate Secretary PIS, Vega Pita, segera angkat bicara untuk meluruskan duduk perkara. Menurutnya, kondisi di Gamsunoro bukanlah cermin operasional perusahaan secara menyeluruh. Kapal tanker jenis aframax berkapasitas 100.000 deadweight ton (DWT) itu tengah melakoni peran di panggung internasional. Saat ini, Gamsunoro sedang disewa oleh pihak ketiga (third party) dan dikelola oleh Synergy Ship Management sebagai operator teknis.
“Dalam melayani pasar internasional, kapal-kapal PIS bekerja sama dengan pihak penyewa dan manajemen kapal. Ini praktik umum untuk mendorong kapabilitas dan kapasitas perusahaan di kancah global,” kata Vega dalam keterangan resminya, Selasa (20/4).
Dalam jagat niaga maritim, skema sewa-menyewa semacam ini memang lazim. Sebagai penyewa, pihak ketiga memiliki wewenang penuh menentukan komposisi nakhoda dan anak buah kapal (ABK), sejauh tetap patuh pada regulasi internasional yang ketat. Gamsunoro sendiri merupakan pengangkut kargo lintas benua, menyisir rute dari Asia, Eropa, hingga Amerika dan Afrika.
Meski demikian, PIS menampik tudingan bahwa mereka memunggungi pelaut lokal. Data berbicara lain. Secara akumulatif, armada Pertamina Group masih dikuasai oleh putra-putri bangsa. Vega membeberkan sekitar 94 persen awak kapal adalah Warga Negara Indonesia (WNI). Dari total 4.090 pelaut WNI yang bekerja di rute domestik maupun mancanegara, hanya segelintir—sekitar 6 persen atau 278 orang—yang berstatus tenaga kerja asing.
“Ini menjadi bagian dari strategi kami dalam memperkuat daya saing perusahaan sekaligus meningkatkan peran Indonesia dalam industri maritim dunia,” katanya.
PIS mengklaim tetap memegang komitmen memoles talenta lokal agar mampu bertaji di pasar global.
Isu ini menyeruak tepat saat radar industri menyoroti posisi strategis kapal-kapal Pertamina di wilayah panas, Selat Hormuz. Gamsunoro, bersama rekannya Pertamina Pride, dilaporkan tengah tertahan dan belum dapat melintasi jalur penting tersebut.
Bedanya, jika Gamsunoro mengangkut kargo pihak ketiga, Pertamina Pride sedang mengemban misi vital: membawa minyak mentah jenis light crude oil demi menjaga denyut energi di Tanah Air.
