Pabrik Bioetanol Toyota–Pertamina Mulai Dibangun Tahun Ini

Pemerintah memastikan proyek pabrik bioetanol kolaborasi Toyota dan Pertamina mulai dibangun tahun ini di Lampung, dengan dukungan pasokan bahan baku seperti tebu, singkong, dan sorgum.
Pabrik berkapasitas 60.000 kiloliter per tahun ini akan menggunakan teknologi generasi kedua dari RABIT Jepang yang ramah pangan dan mendukung ketahanan energi nasional.
Proyek ini menjadi tindak lanjut kerja sama Indonesia–Jepang di sektor energi terbarukan serta bagian dari strategi hilirisasi demi memenuhi kebutuhan etanol domestik tanpa impor.
Jakarta, FORTUNE - Ambisi Indonesia memutus rantai ketergantungan impor bahan bakar kian mengerucut. Pemerintah memastikan proyek pabrik bioetanol, hasil kongsi antara Toyota Motor Corporation dan Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE), akan segera memasuki tahap konstruksi pada kuartal ketiga atau keempat tahun ini.
Proyek yang dijalankan melalui skema joint venture ini menjadi pilar baru penguatan ekosistem energi terbarukan di Tanah Air. Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu, menyatakan Lampung telah ditetapkan sebagai lokasi pembangunan pabrik perdana tersebut.
Pemilihan wilayah ini didasarkan pada melimpahnya pasokan bahan baku (feedstock), mulai dari tebu, singkong, hingga potensi pengembangan sorgum.
“Lampung adalah salah satu provinsi yang sangat kuat untuk feedstock etanol. Di sana ada penanaman besar tebu, ubi, dan bahan baku lainnya,” ujar Todotua saat ditemui di kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Jakarta, Senin (20/4).
Hajat besar ini tidak sekadar membangun fasilitas pengolahan. Proyek tersebut dirancang secara terintegrasi dengan pengembangan perkebunan bahan baku guna menjamin keberlanjutan produksi. Strategi jangka panjang bahkan telah mencakup rencana penanaman sorgum secara besar-besaran sebagai penyokong pasokan.
Terkait nilai investasi, Todotua masih enggan membeberkan angka pastinya. Pasalnya, perhitungan biaya masih terus berjalan mengingat cakupan proyek yang mencakup dua aspek besar.
“Untuk biaya investasinya masih berjalan, karena ada dua rencana, yaitu pembangunan pabrik etanolnya dan juga untuk penanaman feed stock supporting tambahannya,” katanya.
Langkah ini merupakan tindak lanjut konkret dari pertemuan bilateral antara Presiden Prabowo Subianto dengan Perdana Menteri Jepang beberapa waktu lalu. Kolaborasi ini mempertegas komitmen kedua negara dalam mengakselerasi sektor energi baru terbarukan (EBT).
CEO Asia Region Toyota Motor Corporation, Masahiko Maeda, menegaskan langkah ini selaras dengan strategi global Toyota dalam menghadirkan solusi mobilitas yang adaptif.
“Bagi Toyota, kami ingin memberikan solusi yang tepat, baik untuk kendaraan penumpang maupun komersial, sesuai dengan kebijakan pemerintah di masing-masing negara,” katanya.
Pada tahap awal, pabrik ini diproyeksikan memiliki kapasitas produksi mencapai 60.000 kiloliter per tahun. Angka ini tergolong signifikan jika disandingkan dengan potret industri etanol nasional saat ini. Sebagai catatan, total kapasitas terpasang nasional sekitar 120.000 kiloliter, namun kapasitas efektifnya diperkirakan hanya 80.000 kiloliter.
Hadirnya pabrik ini sekaligus menjadi langkah antisipatif pemerintah dalam menyongsong mandatori bahan bakar campuran etanol, seperti E10. Indonesia berharap dapat memenuhi kebutuhan domestik secara mandiri tanpa harus terbebani tekanan impor.
Satu hal yang mencuri perhatian adalah penggunaan teknologi generasi kedua dari Research Association of Biomass Innovation for Next Generation Automobile Fuels (RABIT). Teknologi asal Jepang ini diklaim mampu memproduksi bioetanol tanpa mengganggu ekosistem pangan nasional. Keandalan teknologi ini telah ditinjau langsung oleh Todotua saat mengunjungi fasilitas riset RABIT di Fukushima, Jepang.
Penempatan proyek ini di Lampung sejatinya bukan tanpa rencana. Mengacu pada peta jalan (roadmap) hilirisasi investasi strategis yang disusun Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, wilayah di ujung selatan Sumatra tersebut memang telah dipetakan sebagai episentrum pengembangan industri bioetanol masa depan.


















